Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Demam


__ADS_3

"Kau tidak apa - apa?" tanyaku, dengan raut wajah khawatir.


"Adara?" aku hanya tersenyum canggung sambil membantunya berdiri.


Tiba - tiba aku di buat terkejut, dengan dirinya yang tiba - tiba memelukku erat seakan melepas rindu.


Aku melepas pelukkannya, setelah memeriksa keadaannya dan memastikan keadaannya aku menarik nafas lega.


Dia memintaku untuk menemaninya mengobrol, karena aku sudah lama tidak lama bertemu aku dengan senang hati menerima ajakkannya.


...***...


Aku hanya tertawa melihat reaksinya ketika dia mengetahui kalau aku sudah menikah.


"Jadi kau sudah punya suami? terus Kean bagaimana?" tanyanya. sejujurnya aku benci dengan kalimat yang di ucapkannya itu, namun aku tidak bisa menghalanginya mengatakan itu.


Aku berpangku dagu sambil mengaduk makananku, aku mengalihkan pandanganku.


"Apa kau bahagia?" tanyanya membuat aku terdiam.


"Lebih dari yang kau pikirkan," jawabku sambil tersenyum, ia ikut tersenyum ke arahku.


"Aku harap kau selalu bahagia, Adara." aku hanya tersenyum menanggapinya.


...****...


Aku bersiap untuk pulang kerena sekarang aku sendiri, Namun aku harus mengurungkan niatku saat melihat ke awan.


Aku menatap langit awan mulai menunjukkan mendungnya, dan tak lama mulai turun rintik hujan.


Aku mulai pasrah, karena hujan tersebut aku harus tertahan di kafe tersebut.


Namun di tengah itu semua ada sesuatu yang menjanggal perasaanku.


Namun saat aku melihat sekeliling, semua tampak normal dan tidak ada yang mencurigakan.


Aku mulai menepiskan pikiran buruk, yang sebelumnya sempat terlintas di benakku.

__ADS_1


...Beberapa jam kemudian .......


Setelah aku kembali dari kafe itu, hujan masih turun dengan derasnya. Aku melihatnya dari balik jendela kamar.


Mataku menerawang ke arah hujan, tiba - tiba desiran kilat mengangetkanku sehingga refleks aku berbalik. Namun rasa tiba - tiba seperti bersandar pada sesuatu.


Aku mengangkat kepalaku sambil membuka mataku, ku lihat tanganku sudah bertopang pada dada bidang Arkan.


"Kau tidak apa - apa, sayang?" tanyanya lembut. aku menjauh dari Arkan kemudian menganggukkan kepala menanggapi pertanyaannya.


"Di luar hujan deras, kau memikirkan apa sampai melihat hujan di luar?" tanyanya heran.


"Tidak memikirkan apa - apa. Arkan." jawabku, sambil berjalan ke tempat tidur.


Arkan menghampiriku dan ikut duduk di sampingku, yang duduk di pinggir tempat tidur.


"Sayang ... kalau ada sesuatu, kamu bisa cerita, kan?" untuk beberapa saat aku tak merespon Arkan, hingga tangannya menempel di pipiku barulah aku tersadar.


"Benar-benar ada masalah, ya?" tanya Arkan dengan raut wajah cemas.


Aku berusaha menghindari tatapannya, Namun Arkan mengangkat daguku sehingga aku menatap wajahnya.


"Aku baik - baik saja," jawabku dengan nada lemas.


"Cuma kepikiran soal temanku." sambungku.


"Kenapa dia?" tanya Arkan menyelidik.


Aku tampak ragu menceritakannya secara lengkap, Namun obrolan kami harus tertahan saat tiba - tiba bibik masuk dengan membawakan teh hangat pesananku.


"Terimakasih, bik." ucapku dengan senyum ramah. ia menanggapi ku dengan anggukkan di kepalanya lalu membiarkan kami berdua di kamar.


Di tengah aku yang sendang menyeruput minumanku, aku melihat Arkan beranjak dari tempanya.


"Kau mau kemana?" tanyaku.


"Aku akan keruang kerjaku, aku baru ingat ada pekerjaan yang belum aku selesaikan." jawabnya yang kemudian pergi meninggalkanku.

__ADS_1


Untuk beberapa saat aku termenung di tempatku, banyak pikiran yang terlintas di benakku.


Sebisa mungkin aku bersikap tenang, meski di kepalaku saat ini sekarang di penuhi oleh Arkan.


...Beberapa menit kemudian .......


...Di depan ruangan kerja Arkan ......


Aku mulai merasa ragu untuk memasuki ruangan kerjanya, aku melihat tanganku yang kosong tanpa membawa apapun. Aku berbalik menuju dapur.


Tak lama kemudian aku kembali dengan membawa kopi untuk Arkan, perlahan aku membuka pintu kulihat Arkan tengah berdiri di dekat jendela sambil melihat keluar.


"Arkan." panggilku, Arkan menoleh dan langsung berbalik.


Aku langsung menuju meja kerjanya, lalu meletakkan kopi di meja miliknya. Tiba - tiba Arkan mendekatiku, lalu memelukku dari belakang.


Meski lega karena hubungan kami masih baik - baik saja, aku masih merasa tidak enak karena tidak menceritakan masalahku padanya.


Tanpa menunggu responku, Arkan mengajakku ke tempat duduknya. Arkan membuatku duduk di pangkuanya, hal itu membuatku bisa melihat wajahnya dengan jelas.


Tangan Arkan mulai memainkan wajahku, pikiranku mulai mencari kemungkinan apapun yang membuat sikap Arkan jadi seperti saat ini.


Tangan Arkan tiba - tiba mulai mencubit gemas hidungku, sontak aku langsung menyingkirkan tangannya.


Aku bangkit dari pangkuannya, Arkan tampak tertawa melihat aku yang tampak kesal oleh ulahnya.


"Kamu apaan, sih?!" dengusku kesal.


"Itu hukuman kerena kamu, nggak mau terbuka sama suami kamu," sindirnya, aku memanyunkan bibirku, tampak Arkan semakin senang saat melihatku yang tampak kesal.


...****...


...Keesokan harinya ......


Baru saja aku ingin berangkat ke kantor, tiba - tiba aku merasakan tubuhku menjadi sangat aneh.


Sesuatu di wajahku seperti memanas, tiba - tiba telapak tangan Arkan menyentuh keningku.

__ADS_1


"Sayang, sepertinya kamu demam." aku tertegun mendengar hal tersebut, lalu ikut menempelkan telapak tanganku ke keningnya.


__ADS_2