
Aku melihat semuanya mendekat kepadaku, lalu duduk di dekatku.
"Sayang...Mama minta kamu jaga baik - baik kandungan kamu, ya,"
"Pasti, Ma!"
"Kalau kamu ngidam, atau mau apapun, tinggal bilang ke Arkan, ya,"
"Kalau sekarang, belum ada ngidam yang gimana - gimana, sih."
"Pokoknya kalau ada apa - apa, Jangan sungkan bilang ke Arkan, ya,"
"Iya, Ma!"
Arkan hanya senyum mendengar permintaan Mama, Arkan dan Aku mengerti betul, itu adalah bentuk kasih sayang seorang nenek, terhadap calon cucunya.
Dan hal itu hal yang wajar, dan kami berudua, sama sekali tidak memper masalahkannya.
***
Beberapa jam kemudian.....
Jam sembilan malam, mereka berpamitan pulang, akhirnya Aku dan Arkan bisa sedikit brsantai.
Setelah mereka pulang, Aku dan Arkan masuk ke kamar, Arkan terlihat ke lelahan, terlihat dari raut wajah Arkan.
Aku mendekati Arkan, lalu mengelus kepala Arkan.
"Capek banget, ya?"
"Kamu juga, kan?"
"Istirahat, gih,"
"Iya..."
Arkan memeluk pinggangku, dan saat dia melepaskannya, Arkan menempel kan telinganya ke perutku.
"Kamu juga istirahat, ya,"
"Kamu pasti capek, habis ketemu oma opa, kakek sama nenek, kan?"
__ADS_1
Arkan mengecup sekilas, lalu mengelus perutku, entah kenapa Aku terbawa suasana atas apa yang dilakukan oleh Arkan.
Aku yang biasanya tertawa melihat tingkah lucu Arkan, saat berbicara dengan anaknya, aku yang sekarang justru bisa di bilang terharu.
Aku berharap tidak akan ada yang menghancurkan kebahagiaan ini, termasuk Maura sekali pun.
Mengingat Maura yang tak hentinya berusaha merebut Arkan dariku.
Entah apa yang dia rencanakan, apapun yang Maura rencanakan, aku harap tidak berakibat buruk dengan calon bayiku.
***
Keesokan harinya....
Saat aku terbangun pagi ini, Aku dibuat terkejut dengan Arkan yang menatap wajahku.
Aku yang terkejut, langsung memalingkan wajahku, lalu duduk di pinggir kasur membelakangi Arkan.
"Kamu ngapain, sih?!"
"habis liatin istri aku, kenapa?"
"Terus, kenapa?"
"Kamu tetep cantik, kok."
"Kamu tuh ya, halus aja pagi - pagi."
Arkan mendekatiku dari belakang, lalu memelukku dari belakang.
"Kamu memang cantik, sayang..."
"Masa?"
"Kalau kamu jelek, nggak mungkin aku mau, hahah..."
Arkan tertawa, aku tau maksud Arkan bercanda, tapi aku tetap saja kesal dengan candaannya itu.
Aku mentap tajam Arkan, seraya berkaca pinggang.
"Ish...ouh...jadi kalau aku jelek, kamu nggak mau?"
__ADS_1
"Yaudah...cari yang lebih cantik sana,"
"Boleh?"
"Arkan!"
"Tau, Ah!"
Aku melempar wajah Arkan dengan bantal di dekatku, lalu bangkit dari tempat tidur.
Saat hendak meninggalkan kamar, Arkan, menahan lenganku, lalu memelukku dari belakang.
"Kenapa Aku harus cari yang lebih cantik, kalau wanita yang paling cantik, ada di hadapan aku sekarang,"
"Khufff..."
"Lepas, aku sebel sama kamu,"
"Jangan ngambek dong sayang...kan aku cuma bercanda."
"Bodo!"
Aku melepas tangan Arkan yang melingkar di pinggangku, lalu melenggang pergi meninggalkan Arkan, tapi Arkan tidak akan menyerah membujukku, di mengikutiku sampai ke dapur.
"Kamu ngapain sih, ngikutin aku?!"
"Jangan ngambek dong, sayang..."
Arkan memasang wajah memelas, dan itu membuatku tidak tega.
Hhhh...Bagaimana aku bisa lama - lama marah padanya kalau begini, satu hal yang aku sadari.
Aku lemah karena cintaku kepada Arkan...
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Hai....Gimana part kali ini, semoga suka ya.
Kalau ada masukkan ataupun pertanyaan, silakan komen di bawah.
Jangan lupa like and komen, vote and reviewnya.
__ADS_1