
...Malam harinya .......
Arkan tengah berada di kamar mandi, dan aku tengah menyajikan makan malam untuk Arkan.
Tiba - tiba aku merasa tangan melingkar di pinggangku. seraya bersandar di pundakku.
"Arkan!" seruku tanpa menoleh dan berbalik.
"Kenapa kamu masih kerjain pekerjaan rumah?" tanya Arkan, nafas Arkan tanpa begitu berat.
"Kenapa?" tanyaku, seraya mengubah posisiku menjadi menghadap Arkan.
"Kenapa? masih perlu kamu tanya kenapa?" tanya Arkan tatapan Arkan seakan mengintimidasiku.
Aku tersentak kemudian berbalik hingga menghadap Arkan. ku beranikan menatap mata Arkan. aku melihat raut khawatir di wajah Arkan.
"Aku ngerti, maaf ya ... lagi-lagi aku buat kamu khawatir." ucapku dengan nada menyesal.
"Tapi kerja sedikit nggak akan buat aku kecapean kok, bahkan justru kalau diam aja itu nggak bagus," jelasku.
"Oh .... ya?" tanya Arkan.
Aku menanggapinya dengan anggukkan kepala. Arkan kemudian Arkan mengelus kepalaku.
"Kita makan, yuk," ajak Arkan. aku menganggukkan kepala. Arkan menuntunku ke meja makan.
Aku memberikan makan malam untuk Arkan, kemudian disambut olehnya dengan senyuman.
Suasana hening sesaat, aku memperhatikan Arkan. yang tengah fokus memakan makanannya.
"Arkan!" panggilku, dengan cepat Arkan menoleh ke arahku.
"Ada masalah?" tanya Arkan seraya menatapku dengan serius.
"A-anu ... itu ... " Aku menjadi gelagapan karena bingung harus memulai dari mana.
"Benar ada masalah?" tanya Arkan lagi, ku perhatikan ekpresi Arkan mulai kembali berubah.
"Bukan ... itu ... aku ... " Arkan semakin bingung dan cemas melihat tingkahku.
"Kamu kenapa jadi aneh?" tanya Arkan dengan ekspresi curiga.
"Katakan ada apa." pinta Arkan dengan nada serius.
Aku menarik nafas panjang, kemudian setelah aku yakin, aku baru mulai berbicara.
"Sebenarnya ... ada sesuatu yang ingin aku tanyakan," ungkapku.
"Kalau kamu seperti tadi, apa masalah serius?" tanya Arkan suasana berubah menjadi serius di meja makan.
"Aku juga nggak tau, aku bahkan nggak terlalu yakin buat tanya hal ini," ujarku.
"Kamu mau tanya soal apa?" tanya Arkan.
"Soal ruangan rahasia di rumah, Mama!" ucapku, ku perhatikan ekspresi Arkan. tak terkejut sama sekali.
"kamu nggak terkejut?" tanyaku bingung.
"Terkejut?" Arkan berbalik bertanya kepadaku.
"Adara ... siapa pun, bisa masuk kesana," ungkap Arkan.
"Ma-maksud, kamu?" tanyaku yang masih tak mengerti.
"Iya ... semua anggota keluarga, bisa masuk kesana." jelas Arkan.
__ADS_1
Tiba - tiba aku teringat soal Maura. yang memberitahuku soal ruangan itu, apa itu Artinya Maura termasuk anggota keluarga?
"Apa Maura ... apa dia tau?" tanyaku.
"Dia tidak sengaja karena waktu dia kerumah, dia berkeliling sendiri buat melihat rumah." jelas Arkan lagi.
"Bentar ... kamu ... kamu nemuin dia lagi?" tanya Arkan dengan nada mulai marah. tatapan Arkan menajam.
"Dia yang minta," ungkapku.
"Tapi ... kenapa selama ini aku nggak pernah tau?" tanyaku setengah tak percaya.
"Adara ... apa maksud kamu?" tanya Arkan.
"Sudahlah ... aku capek," keluhku.
"Aku mau tidur, kalau kau masih mau makan, silakan." setelah mengatakan itu aku pergi meninggalkan Arkan.
Makan malam yang seharunya tenang, malah menjadi tegang, sekarang bagaimana memperbakinya?
......***......
...Keesokan paginya ......
Kami berada di satu meja makan yang sama dan sama - sama terdiam juga.
Rasa canggung menyelimuti ruang makan, sampai akhirnya pecah karena Arkan. menerima telpon.
Arkan pergi menjauh seraya menerima telponnya, rasa penasaran menyelimuti diriku, siapa kira - kira yang tengah menelponya? aku penasaran apa Arkan selalu begitu saat menerima telpon.
Tak lama Arkan kembali, aku pura - pura tengah fokus dengan makananku.
"Aku pergi dulu," pamitnya, akhirnya Arkan bicara padanui, aku mengangukkan kepala menanggapinya.
Setelah mengecup keningku, Arkan pergi dengan tas kerjanya.
...***...
...Drttt!...
Aku yang tengah bersantai duduk di sofa, di kagetkan dengan suara dering dari ponselku, segera ku panggil dan ku jawab telpon itu.
"Ya?" tanyaku.
[ Hallo, Adara! ]
"Dean?!"
"Ada masalah apa?" tanyaku.
[ Apa Arkan ... sudah pergi? ]
Aku bingung kenapa Dean. menanyakan itu padaku, padahal dia bisa menelponnya sendiri.
"Iya sudah, kenapa?" tanyaku bingung.
"Kenapa nggak langsung telpon, Arkan?!" tanyaku heran.
[ aku sudah coba, tapi dia tidak mengangkatnya ]
[ Kalau begitu terimakasih, ya ]
...Tut tut!...
Tanpa kata penutup, Dean mematikan telponnya. sedangkan aku menatap
__ADS_1
layar ponselku dengan kebingungan.
Katanya dalam sebuah pernikahan tidak ada yang perlu di rahasiakan, tapi kenapa makin kesini, semakin aku merasa ada yang di tutupi.
Aku mencoba menyingkirkan pikiran yang membuat aku kehilangan rasa percayaku terhadap Arkan. tapi kalau seperti ini ... apa aku masih perlu percaya?
Entah karena cinta yang mulai berselimutkan ke raguan atau aku masih terpengaruh oleh ucapan Maura.
Pertemuan dengan Maura di tahanan waktu itu, benar - benar mengubah segalanya.
...***...
Beberapa hari yang lalu Arkan. pernah bilang akan pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis.
...3 hari kemudian ......
Setelah mereka cerita dan bilang akan pergi ke luar negeri selama seminggu
Sekarang waktynya mengantar mereka, itu sebabnya kami saat ini berada di bandara mengantarkan kepergian Arkan dan kedua asistennya yaitu Dean dan Dion.
Untuk pertama kalinya aku merasa cemas melepas Arkan. padahal aku tau dia tidak pergi sendiri, tapi kenapa rasanya aku begitu tidak tenang.
Diam - diam aku berharap dalam hati agar Arkan dan yang lain selamat sampai tujuan, dan pulang dengan selamat juga.
pesawat mereka sudah harus berangkat, itu artinya mereka harus segera pergi, setelah berpamitan mereka pergi dan menjauh dari pandangan kami.
Seperti biasa kalau sudah berkumpul, kami bertiga pasti akan mencari tempat untuk mengobrol.
Kami bertiga pergi ke caffe dekat bandara, ternyata yang awalnya dikit pengunjung, siapa yang akan mengira caffe itu ramai dengan pengunjung.
Aku sedang sibuk dengan ponselku, sedangkan Shane dan Vivia membantu waiters mencatat pesanan.
Setelah mencatat pesanan kami, waiters itu kembali ke tempatnya.
"Dar!" panggil Shane.
"Hmm ... " gumamku tanpa menoleh.
"Lihat sini, kenapa sih?!" dumel Shane, mau tak mau aku menurut, dan akhirnya menoleh.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Menurut kamu mereka pergi beneran urusan bisnis?" tanya Shane.
"Maksud, kamu?" tanyaku bingung.
Aku dan Vivia mulai serius mendengarkan Shane.
Lonceng yang tergantung berbunyi, tanda ada pengunjung lain yang masuk, mengalihkan perhatian kami.
"Jadi ... bagaimana kalau mereka pergi, buat nemuin seseorang?" tanya Shane dengan nada curiga.
"Maksud kamu ... dengan menemui seseorang?" tanyaku semakin bingung di buatnya.
"Shane ... jangan bilang kamu ... kamu mau nuduh mereka bakal nemuin cewek disana?" tuduh Vivia.
"Kamu sadarkan, salah satu dari mereka ada suami kamu?" tanya Vivia.
"Kamu curiga sama suami, kamu?" tanya Vivia.
Saat aku memperhatikan mereka, aku bisa merasakan akan ada perang dingin setelah ini, itu sebabnya aku harus bisa menjadi penengah.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Hai ... gaish sorry baru update sekarang, semoga suka ya sama ceritanya.
__ADS_1
jangan lupa like and komen vote dan juga review.