Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Kado Ulang Tahun?!


__ADS_3

Sungguh ini benar - benar hari yang membahagiakan, dan bahkan tak bisa ku ucapkan dengan kata - kata.


"Selamat Ulang Tahun, sayang..." sekali lagi ucapan ulang tahun, keluar dari mulut Mama.


Aku hanya tersenyum, lalu memeluk Mama, dan Mamapun membalas hangat pelukkan ku.


"Dar!" panggil Arkan.


Aku melepas pelukanku lalu menoleh ke Arkan, aku menatap bingung Arkan.


Arkan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, dan aku menatap heran Arkan.


Saat Arkan mengambil sesuatu dari saku celananya, Arkan memperlihatkan sebuah kalung yang sangat indah.


Dengan rantai kalung emas, dan liontin ber bentuk bunga sakura, membuat aku tercengang.


Arkan mengenakannya ke leherku, jantung berdegub lebih kencang saat Arkan memasangkan kalung itu keleherku.


"Kamu cantik, pakai kalung ini," bisik Arkan ke telingaku.


Wajahku seketika memerah, dan Arkan mulai menjauhkan wajahnya, lalu menatap wajahku.


Arkan melihat kalung yang melingkar di leherku, aku bisa merasakan wajahku memasang saat itu juga.


"Yaampun sayang, kamu cantik sekali memakai itu," puji Ibu, yang membuatku bertambah tersipu.


"Te-terimakasih, ibu," ucapku dengan nada gugup.


Tiba - tiba aku teringat kembali sikap menyebalkan Arkan, akhir - akhir ini.


Itu artinya memang tidak ada apa - apa, dia seperti itu hanya ingin mengerjain aku di hari ulang tahunku.


"Kamu sengaja, ya?!" tanyaku dengan nada bete.


"Hah?!" Arkan sepertinya tak mengerti dengan yang aku maksud.


"Sikap kamu belakangan ini, yang nyebelin, kamu sengaja kan, biar aku kesal?!" tanyaku dengan nada mulai emosi.


"Hehe...tapi kamu suka kan, dengan kejutan dan hadiah yang aku kasih?" tanya Arkan.


"Suka, suka banget malah." jawabku seraya menganggukkan kepala.


Menurut kalian siapa yang tidak senang jika di kasih kejutan romantis oleh suami, atau oleh orang yang dia cintai.


Bukan tentang kejutan atau hadiah yang dia berikan, tapi caranya membuatku senang dan bahagia, yang membuat aku tak bisa berkata - kata.


Di saat aku sendiri bahkan lupa dengan hari ulang tahunku, Arkan malah ingat dan menyiapkan ini semua.


"mereka semua siapa?" tanyaku seraya menunjuk ke arah keramaian orang - orang


"Mereka tamu kita," jawab Arkan.


"Oh..." aku mengangguk faham.


***


Keesokan harinya....


Pagi ini aku tersenyum, saat melihat Arkan di sampingku, aku pikir aku tak akan melihat pemandangan ini lagi.


Wajah pulas Arkan yang seperti bayi, membuatku sangat gemas, dan menjadi pemandangan sehari - hari yang tidak ingin sama sekali aku lewatkan.


Tiba - tiba Arkan terbangun sontak hal tersebut menaggetkanku, Arkan menatap wajahku, aku mengalihkan pandanganku.

__ADS_1


Aku membelakangi Arkan, lalu pura - pura merapikan rambutku, tiba - tiba aku merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangku, sambil menyadarkan kepalanya di pundakku.


"Arkan!" seruku, sambil melirik ke belakangan.


"Hmm..." Arkan hanya bergumam, dengan matanya yang masih terpejam.


"Bangun...kamu nggak ke kantor, apa?" tanyaku.


Arkan tak bergeming, dia masih terpejam di pundakku, dengan nafas berat yang terasa di leherku.


"Aku nggak mau ke kantor," ujar Arkan.


Aku melepas pelukan Arkan, lalu membalikkan badanku, membuat aku menghadap ke Arkan.


"Kenapa? terus kantor gimana kalau kamu nggak ke kantor?" tanyaku.


Arkan terlihat menarik nafas berat dan panjang, lalu balik menatapku.


"Sayang...bagaimana kalau kita jalan - jalan?" tanya Arkan.


Untuk pertama kalinya Arkan mengajak ku jalan - jalan, tapi kalau kami berdua pergi, lalu bagaimana dengan urusan kantor.


Aku bukannya tidak senang di ajak jalan - jalan dengan Arkan, tapi ini sangat aneh, karena biasanya Arkan tak pernah mau meninggalkan pekerjaan.


"Terus kerjaan kamu, bagaimana?" tanyaku.


"Ada papa yang ngehandel semuanya," ujar Arkan.


Entah kenapa aku merasa aneh dengan hal ini, atau mungkin cuma perasaanku saja.


Kalau pekerjaan papa yang ngehendel, terus kemana Arkan akan mengajakku.


"Terus kita mau kemana?" tanyaku.


"Loh, kok." Arkan berdiri dari tempat tidur, lalu meninggal aku ke kamar mandi, aku masih duduk diam di tempat tidur, mencoba mencerna apa yang terjadi.


****


Arkan mengajakku ke mall, dan tempat tempat yang lain.


Menyenangkan tapi tetap saja terasa aneh, dan aku menunggu saat yang tepat untuk menanyakannya.


Hingga masuk waktunya jam makan siang, Aku dan Arkan makan bersama suatu caffe.


Dan saat itu aku berpikir, inilah saat yang tepat untuk menanyakannya dengan Arkan.


"Arkan" seruku.


Arkan menoleh ke arahku, Arkan yang sebelumnya memainkan ponselnya, meletakkan ponselnya ke sampingnya.


"Ya?" tanya Arkan.


"Serius deh, kamu kenapa tiba - tiba ngajak jalan - jalan, gini?" tanyaku bingung.


Arkan diam sejenak, lalu menarik nafas panjang, lalu meraih tanganku lalu menggenggamnya.


Aku menatap bingung tanganku yang di genggam oleh Arkan, lalu menatap heran Arkan.


"Katakan ada apa," pintaku.


"Aku di minta papa, untuk pergi ke Hongkong," ungkap Arkan.


Kata - kata itu membuat aku terdiam, itu artinya aku akan di tinggal Arkan ke luar negeri.

__ADS_1


"Berapa lama? kok kamu baru bilang?!" tanyaku dengan nada kesal.


Reflek aku menarik tanganku dari genggaman Arkan, Arkan terkejut dengan yang aku lakukan.


Arkan menatap wajahku yang kelihatan kesal, sambil memalingkan muka sambil melipat kedua tangan.


"Dua minggu," ungkap Arkan.


"Dua minggu?!" tanyaku dengan nada sedikit tinggi.


"Dan kamu baru bilang sekarang, kok kamu bisa__" aku menghentikan ucapan ku, aku takut aku melewati batas, saat aku mengutamakan emosiku.


"Dar..." saat Arkan hendak meraih tanganku, aku memalingkan kembali wajahku, Arkan terlihat terkejut dengan reaksiku.


"Kamu nggak mau dengerin penjelasan, aku?" tanya Arkan.


"Nggak perlu," jawabku dengan nada bete.


"Kapan kamu berangkat?" tanyaku.


"Besok," jawab Arkan.


Aku ingin angkat bicara, namun aku mengurungkan niatku, aku rasa aku harus mengertikan posisi Arkan.


Lagi pula ini papa yang minta, jadi mau tak mau Arkan harus pergi, dan menyelesaikan pekerjaan disana.


"Yaudah." simbatku singkat.


"Kok kamu gitu jawabnya," protes Arkan.


"Terus?" tanyaku.


Menurut kalian istri mana yang akan di tinggal suaminya ke luar negeri selama dua minggu, dan dalam keadaan hamil.


Aku rasa kalian juga akan kesak seperti yang aku lakukan, tapi tetap saja sebagai istri aku harus mendukungnya.


"Dar..." lirih Arkan.


"Udah nggak papa, lagi pula kayaknya itu pekerjaan penting," ujarku.


"Tapi kamu bagaimana, dengan calon anak kita?" tanya Arkan.


Terlihat raut khawatir di wajah Arkan, hal itu membuatku merasa bersalah.


"Kamu nggak perlu khawatir, banyak yabg jagain aku kok, disini selama kamu pergi," simbat ku.


"Lagian aku bukan anak kecil, aku bisa jaga diri," sambung ku.


"Soal anak ini, kamu juga jangan khawatir, aku akan jaga baik - baik, meski nyawa aku taruhannya." meski akj mengatakan hal itu, entah kenapa aku merasa tak mengubah apapun.


Arkan masih terlihat khawatir, untuk menghibur dan meyakinkan Arkan aku menggenggam tangan Arkan, Arkan. melihat tanganku yang menggegam tangannya, lalu menatap wajahku.


Saat Arkan melihatku, aku tersenyum untuk memperlihatkan semuanya akan baik - baik saja.


🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼


Hai...


Gimana part kali ini?


Semoga kalian pada suka ya.


Jangan lupa like and komen, vote and Reviewnya juga.

__ADS_1


__ADS_2