Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Hamil Lagi?


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian ...


Hari dimana aku menikmati liburan bersama Arkan. akhirnya kini tiba.


Arkan yang melihatku tampak diam setelah peristiwa itu, berinisiatif mengajakku liburan untuk menghiburku.


"Kamu yakin ... nggak mau?" tanya Arkan.


"Aku nggak suka modelnya, Arkan!" seruku.


Aku lanjut memilih - milih pakaian di butik itu, sedangkan Arkan kelihatannya menahan diri.


Arkan merasa tenang setelah aku mengajaknya untuk keluar dari butik itu, setidaknya dia tidak akan di buat pusing dengan aku yang suka bingung memilih pakaian.


"Habis ini, mau kemana?" tanya Arkan


"Nggak tau ... capek," jawabku dengan wajah memelas.


"Yaudah kita pulang, gimana?" tanya Arkan.


"Yaudah ... kita pulang yuk, kebetulan aku ingin istirahat."


Kami berdua pun pulang kerumah.


***


Beberapa minggu kemudian ...


Aku pergi ke penjara menemui Maura. aku duduk menunggu polisi membawa Maura padaku.


"Dara!" panggil Maura.


"Maura!" seruku sambil bangkit dari tempat dudukku.


"Ngapain lo, nemuin gue?" tanya Maura dengan nada sinis.


"Kenapa?" tanyaku.


"Lo ... nggak seneng gue, datang?" tanyaku


"Gue pikir lo bakal seneng, kalau ada temen yang ngujungin lo," ujarku


"Sejak kapan, gue jadi temen lo?" tanya Maura.


"Dan satu hal lagi," ujarnya.


"Nggak usah munafik jadi orang ... lo kesini mau lihat seberapa menderitanya gue, kan?" tanya dengan nada dingin.


"Nggak ada senang berada di penjara, Maura!" ucapku.


"Nggak ada yang mau masuk penjara, apa lagi masukin lo ke penjara," ujarku.


"Itu semua karena lo, semua perbuatan lo sendiri,"


"Obsesi lo ... buat dapetin, Arkan!"


"Dan obsesi lo ... buat ngacurin gue ... kerena gue ... menikah dengan, Arkan!"


"Sampai lo ... menyabotase mobil gue ... sampai gue ... mengalami kecelakaan," ungkapku.


"Karena kecelakaan itu, aku bukan hanya kehilangan, tapi aku juga kehilangan anak aku, Maura!" seketika aku mengepalkan tangan. aku mencoba menahan emosiku.


"Lo tau ... gue bisa aja menambah masa penahanan lo, Maura!" ancamku.


"Ck, sekarang lo ngancam, Gue?!"


"Lo merasa hebat, karena udah menahan gue ... dan lo merasa punya kuasa atas diri, Gue?"


Aku merasa ingin marah dengan Maura saat itu, tapi aku memutuskan untuk menahan diriku.


Ada banyak cara untuk berdamai dengan rasa sakit, meski rasanya mustahil.


"Nggak, gue nggak bilang begitu, gue hanya ingin bilang, lo masih punya waktu," ujarku.


"Waktu untuk merenung ... waktu untuk berpikir ... dan waktu untuk berubah." sambungku.


"Kalau begitu gue permisih, waktu berkunjung sudah habis," ujarku.


"Gue janji bakal lebih sering datang, agar lo ada teman." kataku.


"Oh iya .... aku bawa makanan, minuman, selimut," ujarku.


"Kalau lo ... butuh sesuatu, lo tinggal bilang ke gue, ya."


"Kalau gitu ... gue pergi dulu, bye!"


"Tunggu!" Aku berbalik menghadap Maura.


Greb!


Aku terkejut dengan Maura yang tiba - tiba memelukku, aku hanya diam karena masih bingung harus apa, tapi aku tetap membalas pelukkannya.


Aku harap dengan kedatanganku, ketempatnya. membuat Maura merasa tenang setelah mengobrol denganku.


Namun semua harus berakhir, karena aku harus segera pergi, setelah berpamitan aku pun pergi meninggalkan kantor polisi.


***

__ADS_1


Aku juga berencana untuk bertemu dengan kedua temanku di sebuah caffe, karena sudah lama tidak bertemu setelah kejadian itu.


"Apa? jadi ... lo habis pergi nemuin dia?" tanya Shane tak percaya.


"Kenapa emangnya, ada yang salah?" tanyaku.


"Dia nggak nyakitin lo ... kan?" tanya Shane.


"Apaan sih ... lo bisa lihat sendiri kan, kalo gue baik-baik aja," ujarku.


"Lagian ... lo ngapain sih ... nemuin dia di penjara?" tanya Shane heran.


"Bukannya lo sama dia nggak ada urusan apapun lagi, ya?" tanya Vivia.


"Udah sih ... gue yang kesana lo yang repot," sindirku.


"Nih anak di bilangin ... entar nyesel ... baru tau rasa," simbat Shane.


"Udah ... ini kapan pesan makanannya?" tanya Vivia.


"Tinggal pesen elah ... Vi!" gemas Shane.


"Iya ... gue pesen sekarang, Mbak!"


Vivia pun memanggil Waiters, lalu waiters itu datang membawa menunya.


***


8 bulan kemudian ....


"Arkan!" teriakku di kamar mandi.


Arkan yang mendengar itu, langsung berhambur ke kamar mandi.


Aku berusaha tenang, sampai akhrinya aku keluar dan menemui Arkan.


"Kenapa? ada apa?" tanya Arkan dengan raut khawatir.


"Pfft .... " tawaku pecah ketika melihat ekspresi cemas Arkan.


"Dara!" seru Arkan


"Kamu kenapa ketawa ... memangnya ada yang lucu?" tanya Arkan dengan raut kesal.


"Nggak ... nggak ada yang lucu, tapi ekspresi kamu ... yang lucu," ujarku sambil mencubit pipi Arkan gemas.


"Apaan, sih!" dumel Arkan sambil menyingkirkan tanganku.


"Aku mau ngasih sesuatu buat kamu," ungkapku.


"Apa?" tanya Arkan bingung.


"Nih liat." aku memberikan test pack ke Arkan.


Aku memperhatikan raut ekpresi Arkan. yang berubah saat melihat test pack yang aku berikan.


"Positif!" seru Arkan.


"Kamu hamil?" tanya Arkan setengah tak percaya.


Aku mengangguk dengan senyum sumringa diwajahku.


Arkan kembali melihat test pack tersebut, aku memperhatikan Arkan sambil tersenyum.


Greb!


Arkan tiba - tiba mendekapku ke dalam pelukkannya. membuat aku terkejut dan tak tau harus melakukan apa.


"Terimasih." ucap Arkan sambil mengeratkan pelukannya.


"Kali ini aku pasti akan menjaga anak kita, Arkan!" simbatku.


Arkan mengusap kepalaku, membuat aku terbuai dalam belaiannya.


"Kalau gitu ... aku juga akan ikut menjaga kalian," ujar Arkan dengan semangat.


"Hah?!"


"Hai ... sayang!" aku terkejut tiba - tiba Arkan menempelkan kepalanya ke perutku. dan mengajak calon bayinya untuk mengobrol.


"Mulai hari ini ... Papa akan menjadi body guard Mama kamu, ok." ucap Arkan.


"Hah?!"


"Kamu apaan, sih?!" tanyaku heran.


Arkan mengalungkan lengannya ke leher. membuat aku tak berkutik.


"Sayang ... " ucap Arkan dengan nada manja.


"Hmmm ... " gumamku.


Arkan menempelkan jidat dengan jidatku, membuat mata kami saling beradu.


"Aku nggak mau yang dulu terulang ... kamu tau bertapa tersiksanya aku, kan?" tanya Arkan


"Siapa yang tak tersiksa dengan kehilangan seorang anak, apa lagi saat aku mendapatkan ingatanku kembali," ujarku.

__ADS_1


"Kamu tau rasa kehilangan seorang ibu lah yang paling membekas, Arkan!" ucapku.


"Aku tau ... aku tau, sayang!"


"Tapi ... ada satu hal yang nggak kamu tau," ujar Arkan.


"Hah?! apa?" tanyaku.


"Tunggu nanti malam," ujar Arkan.


"Ih ... suka banget bikin penasaran," dumelku.


"Bumil nggak boleh ngedumel, sayang ..."


"Khufff ..."


***


Malam harinya ...


Aku duduk manis di tempat tidurku, sambil maraton Drakor kesukaanku, namun satu hal membuat aku penasaran.


Sejak tadi Aku tidak melihat Arkan. dan Arkan belum ke kamar


Kuputuskan untuk menyusul Arkan. yang berada di bawah, setelah meletakkan laptopku.



Karena terkejut, aku menuntup mulutku karena tak percaya dengan apa yang aku lihat.



"For you, Darling!" ucap Arkan dengan nada manis.


"Thank you so much, Darling!" tak menunggu lama, akupun langsung memeluk Arkan.


"Siap untuk makan malam, nya?" tanya Arkan.


"Tapi pakaian, ku?" tanyaku.


"No problem sayang ... kamu masih cantik, kok." puji Arkan.


"Arkan!" seruku wajahku pasti memerah karena tersipu.


***



"Kapan kamu menyiapkan ini semua?" tanyaku heran.


"Mm ... waktu kamu diam dikamar, sampai kamu turun," ujar Arkan.


"Untung aku di bantuin, Bibik!" ucap Arkan.


"Waktu aku dengar langkah kaki kamu, setelah selesai aku langsung nemuin kamu," ungkap Arkan.


"Niat banget sih ... padahal nggak ada yang special lo, hari ini ... ulang tahun aku juga bukan." ucapku.


"Ada," ujar Arkan.


"Hah?! apa?" tanyaku.


"Kok aku lupa," sambungku.


"Kamu dan hadirnya calon bayi kita, itu yang special." ucap Arkan.


Lelaki itu selalu bisa membuat aku kehilangan kata - kata dan selalu tau cara membuat aku bahagia.


Aku memandangi Arkan dalam - dalam dan akhirnya aku menyadari sesuatu.


Arkan lah yang membuatku merasa setiap saat adalah saat yang special.


"I love you, Arkan!" ucapku.


Arkan tersenyum mendengar ucapanku, lalu mengambil gelas minumnya, aku pun ikut mengambil gelas minumku.



"I love you too ... My wife."


Kami pun menghabiskan malam itu, dengan makanan dan minuman dan juga musik dan lalu kemudian berdansa.


Sungguh menikah dengan Arkan. adalah suatu kebagian terbesar dalam hidupku.


Dan aku bisa mengatakan, kalau aku tidak pernah menyesal menikah dengan Arkan.


Meski di jodohkan dan juga banyak rahasia di dalam pernikahan di waktu sebelumnya.


I LOVE YOU ARKAN


I LOVE YOU SO MUCH


YOU MY LOVE


YOU MY LIFE


 

__ADS_1


TAMAT


 


__ADS_2