
Pagi harinya ....
Aku terbangun dari tidur lelapku, karena mendengar suara keributan dari luar.
Tanpa menunggu lama, aku langsung bangkit dari tempat tidur, lalu mengecek keadaan di luar.
***
Aku melihat Arkan yang tengah bicara dengan seragam, kenapa polisi datang ke rumahku?
"Arkan!" panggilku.
Arkan dan polisi itu melihat ke arahku, sampai akhirnya aku berada di hadapan ku.
"Selamat pagi, Buk Adara!" ucapnya.
"Selamat pagi, Pak!" balasku.
"Ada apa ya, Pak?!" tanyaku.
"Mmm ... Dar!" seru Arkan.
"Kenapa?" tanyaku sambil menoleh ke Arkan.
"Buk Adara!" panggil pak polisi.
"Ya, Pak?!" tanyaku sambil menoleh ke Arkan.
"Mobil yang anda kendarai itu, menurut penyelidikan kami, mobil anda sudah di sabotase oleh seseorang," ungkapnya.
"Ma-maksud bapak, dengan sabotase?" tanyaku setengah tak percaya.
"Ada seseorang mencoba membunuh, saya?" tanyaku memastikan.
"Benar," jawabnya.
"A-Arkan!" panggil ku dengan nada terbata.
"Jangan khawatir, Dara!" seru Arkan.
"Polisi akan menyelidikinya." sambung Arkan.
"Sebaiknya anda lebih berhati-hati, sampai kami menangkap pelakunya, mengerti?"
"Baik, Pak!" jawabku.
__ADS_1
"Baik, Pak!" jawab Arkan.
"kebetulan saya ingin menanyakan, apakah and mengingat kejadian itu?" tanyanya.
Deg!
"Sa-saya!"
"Baik lokasi, waktu atau yang lain, kalau anda mengingat dan memberitahu kami, itu akan sangat membantu penyelidikan kami," ujarnya.
"Sa-saya ... saya tidak ingat, bahkan saya kehilangan sebagian ingatan saya, Pak!" jelasku.
"Sangat di sayangkan kalau begitu, tapi ... jangan khawatir kami akan menangkan pelakunya."
"Terimakasih, Pak!"
"Kami benar-benar berharap bapak benar-benar bisa segera menangkap pelakunya," ujar Arkan.
"Baik ... kalau begitu kami permisih." para polisi itupun pergi dari rumahku.
***
"Kok mereka bisa kesini, pagi-pagi gini?" tanyaku begitu di dalam rumah.
"Buat Apa?" tanyaku.
"Arkan!" seruku.
"Apa?" tanya Arkan sambil menoleh ke arahku.
"Menurut kamu, siapa pelakunya?" tanyaku.
Aku diam sejenak dan tampak berpikir.
"Aku tidak tau, kita tidak bisa menuduh sembarang orang, kan?" tanya Arkan.
setelah di pikir-pikir ada benarnya juga ucapan Arkan. dan aku pun berhenti membahasnya.
***
Besok harinya ....
"Aku berangkat, ya." pamit Arkan sambil mencium pucuk kepalaku.
"Hati - hati, Arkan!" ucapku.
__ADS_1
"Terus aku kapan, boleh kerja?" tanyaku.
"Kamu mau balik kerja, lagi?" tanya Arkan.
Dengan cepat aku menganggukkan kepalaku, Aku melihat Arkan tampak menghela nafas.
"Yaudah ... nanti kita bahas, ya," ujar Arkan.
"Bye!"
"Bye ... Arkan!" balasku.
***
Arkan pun pergi ke kantornya.
Aku yang bosan di rumah. karena, tak melakukan kegiatan apapun.
Aku memilih belanja di luar untuk keperluan rumah.
Super market tampak tak begitu ramai, namun tak juga sepi oleh pengunjung.
Awalnya semua tampak biasa dan tak ada yang mencurigakan.
Tapi lama - lama aku merasa seseorang mengikutiku, tapi aku tepis semua kerena tak ingin curiga tampa dasar.
Mobilku yang aku pakir agak jauh, kerena pakiran disana penuh. membuat aku harus mencari pakiran di sekitarnya.
Bugh!
Seseorang memukul belakanganku, tanpa aku sadari dan itu membuatku jatuh pingsan.
"Hei!" seru seseorang yang melihatku di bopong oleh laki - laki berpostur besar.
"Mau di bawah kemana, dia?" tanyanya.
"Jangan ikut campur ... atau aku tak segan menembakmu, mengerti?" laki - laki itu menodongkan pistol membuatnya sedikit takut.
"Dan jangan teriak," tak lama sebuah mobil datang dan membawaku masuk ke dalamnya.
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Semoga suka dengan cerita kali ini, dan maaf juga kalau masih terdapat banyak kekurangan.
Beri masukan kalian di kolom komentar, agar cerita ini jadi ebih baik untuk kalian baca.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen sebanyak - banyaknya.