
Beberapa bulan kemudian ....
Semua berkumpul untuk acara tujuh bulan kehamilanku, sebenarnya aku tak mau acara ini, kedua orang tua kami memaksa untuk membuat acara ini.
"Selamat ya ... sayang." ucap ibu.
"Kamu harus jaga kandungan yang kamu, Adara!" pinta Mama Arkan.
Aku mengangguk pelan, seraya mengelus perutku yang membesar.
"Semoga kali ini, nggak akan ada yang mencoba mengusik kalian lagi, ya," harap Papa Arkan.
"Papa jangan khawatir, kali ini aku akan menjaga mereka." sahut Arkan yang duduk di sampingku.
"Itu harus, karena itu memang tanggung jawab kamu Arkan ... sebagai suaminya." simbat Ayahku.
"Pa!" sahutku.
Aku melirik Arkan, aku merasa tidak enak dengan Arkan, tapi semua perasaan itu hilang, saat aku melihat Arkan tersenyum kepadaku.
Dia tersenyum seolah memberitahu, kalau semua akan baik - baik saja, lalu aku pun ikut tersenyum.
Aku menemui tamu yang lain, begitu juga dengan Arkan. hingga akhirnya acara pun selesai.
***
Aku duduk di pinggir tempat tidur seraya menatap ke luar jendela, tiba - tiba aku merasa ada yang menyentuh kedua bahuku.
"Kamu pasti capek ya, sayang?" tanya Arkan dengan nada lembut, seraya memijat bahuku.
"Arkan?" aku menoleh ke belakangan, ku dapati Arkan tersenyum melihatku.
Aku mengambil tangan Arkan, sehingga Arkan tidak lagi memijat pundakku.
"Aku nggak papa kok, aku baik - baik saja," ujarku sambil tersenyum.
Arkan menarik tangannya, yang sebelumnya aku genggam, lalu memelukku dari belakang.
"Sayang." ucap Arkan dengan nada lembut.
"Hmm ... " gumamku.
"Kalau kamu butuh sesuatu, jangan sungkan bilang ke aku, ya," pinta Arkan.
"Dan kalau ada apa-apa, jangan lupa beritahukan ke aku, mengerti?" tanya Arkan dengan nada penuh penekanan.
"Iya ... Sayang." jawabku sambil tersenyum.
Arkan mencium pipiku sekilas, lalu menuntunku berbaring ke tempat tidur.
Acara itu memang sedikit membuatku lelah, tak lama kami berdua pun tertidur.
***
Keesokan paginya ....
Pagi ini kami berencana kerumah sakit, untuk memeriksa kandunganku.
Aku yang sedang berias di depan cermin, dibuat terkejut dengan Arkan yang tiba - tiba berdiri di belakanganku, sambil tersenyum.
Dari pantulan di depan cermin aku melihat Arkan memperhatikan aku, yang masih sibuk dengan riasanku, lalu mengecup pucuk kepalaku sekilas.
Aku tersenyum, dari pantulan kaca aku melihat Arkan ikut tersenyum melihatku.
***
Di rumah sakit, kami berjalan menyusuri lorong rumah sakit, menuju ruangan dokter kandungan, melewati suster dan pengunjung rumah sakit, yang berjalan melewati kami.
"Bagaimana, Dok?" tanyaku dan Arkan bersamaan.
"Kalian tidak perlu khawatir, semua baik - baik saja," ungkap Dokter.
"Syukurlah kalau begitu." simbatku.
__ADS_1
Aku melihat Dokter itu menulis sesuatu di selembar kertas, aku rasa itu resep obat untuk.
"Aku sudah menuliskan resep obatnya, kalian bisa menebusnya di apotik," ujar Dokter.
"Terimakasih, Dok." ucap Arkan.p
"Terimakasih, Dok." ucapku mengikuti Arkan.
"Sama - sama," simbat dokter.
"Kalau begitu kami, permisih." Arkan membantuku berdiri.lalu mengajakku keluar dari ruangan dokter itu.
"Aku senang kalian baik-baik saja," ujar Arkan.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Arkan, tak lama aku di buat terkejut dengan Arkan yang tiba - tiba mengecup keningku.
"Kalian sehat terus ya," ujar Arkan.
"Aku mohon jaga diri kamu ... dan anak kita ya, sayang." pinta Arkan.
"Iya ... aku akan jaga diri dan anak kita, aku janji," jawabku sambil tersenyum.
"Aku janji, Arkan!' batinku.
"Aku akan jaga calon anak kita, dengan
sangat baik.' batinku lagi.
***
Setelah mengantarku pulang, Arkan kembali ke kantornya, karena masih banyak pekerjaan yang harus dia urus.
Drrtt !!!
Baru aku mau duduk di sofa, aku mendengar panggilan masuk dari dalam tasku.
Ku raih tasku yang ku letakkan di meja, lalu ku ambil ponsel yang di dalam tasku.
"Ya, Shane?" tanyaku langsung.
"Hallo, Dar!" sapanya.
"Dar ... kamu dimana?" tanya Shane.
"Di rumah, kenapa memangnya?" tanyaku balik.
"Ada yang ingin aku bahas, sama kamu," ungkap Shane.
"Ha?!"
****
Telpon kami berakhir, dengan Shane yang akan menemuiku di rumah.
Rasa penasaran menyelimutiku, namun akan aku tahan sampai Shane datang.
Selagi menunggu Shane datang, aku menyibukkan diri membaca majalah di ruang tamu.
"Hai, Dara!" Aku tertegun dengan kedatangan Shane yang tiba - tiba.
"Kamu naik jet ya, kesini?" tanyaku heran.
"Hah?" terlihat raut kebingungan di wajah Shane.
"Habis cepet banget kesini," ujarku.
"Oh ... kebetulan aku ... lagi di deket sini, jadi kepengen mampir," jelasnya.
"Jadi ... ada apa?" tanyaku penasaran.
"Kamu tau Adara ... barusan Dean lamar aku, Aaaaa!" Shane mencerikan apa yang terjadi dengannya dengan histeris.
"Hah?"
__ADS_1
"Menurut kamu, gimana?" tanya Shane penuh harap.
"Umm ... gimana ya ... dia orangnya baik, kalau kamu merasa cocok, yaudah terima aja," ujarku seraya memberikan pendapatku.
"Selama ini juga kita kenal baik, kan?" tanyaku.
"Jadi ... menurutku kalau kamu udah merasa yakin, yaudah _" ucapku setengah.
"Yaudah ... apa?" tanya Shane bingung.
"Yaudah ... kalian nikah," simbatku.
Shane terdiam, aku melihat dia tampak memikirkan apa yang aku katakan.
"Tapi ... sejak kapan kalian dekat?" tanyaku bingung.
"Kenapa aku ... nggak pernah tau?" tanyaku sedikit nada kesal.
"Emm ... itu ... hehe ... soalnya aku masih belum terlalu jauh," dalihnya.
"Terus sekarang?" tanyaku.
"Setelah alu bicara sama kamu ... aku jadi yakin apa yang harus aku ... lakukan," ujarnya dengan tatapan penuh percaya diri.
Aku menatap Shane, yang tampak larut dalam pikirannya, aku tersenyum lalu mengenggam tangannya.
"Selamat, ya." ucapku.
Shane menatapku dengan mata berbinar - binar, lalu mendekapku dalam pelukkannya.
***
Di tempat Arkan bekerja.
Ternyata laki - laki disana, sedang membahas hal yang sama.
Arkan yang masih sibuk dengan komputernya. tetap mendengarkan pembicaraan kedua temannya itu.
"Arkan!" seru Dion.
"Berhenti bentar kek, kasih saran dong!" gerutu Dion yang kesal karena hanya di dengarkan oleh Arkan.
Arkan menghela nafas, lalu bergabung dengan kedua temannya itu. sekarang Arkan siap mendengarkan.
"Jadi gimana menurut kalian?" tanya Dion.
Dean dan Arkan diam sejenak memikirkan rencana pernikahan Dion.
"Karena aku ... belum punya pengalaman, bagaimana kita tanya sama yang udah nikah aja?" Dean melirik Arkan.
Arkan menghela nafas, kemudian menatap Dean sinis sedangkan Dean hanya cengengesan melihat itu.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Kira - kira apa ya, yang mau Shane bahas dengan Adara ?
Hai gaish ....
Gimana ceritanya ?
semoga pada suka ya.
Jangan lupa like and comen vote dan review.
Kalau kalian ada masukkan silakan. komen di bawah.
Oh ya, kalian pasti penasaran, kanapa author lanjutin ceritanya, padahal udah tamat.
Jadi begini banyak banget yang dm author, supaya author lanjutin.
Untuk itu, author ucapkan terimasih banyak buat dukungan kalian.
ok see you sampai jumpa di cerita selanjutnya.
__ADS_1