Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Me Time ?!


__ADS_3

Keesokan harinya...


Pagi ini aku mengantar Arkan ke bandara, Arkan tidak berangkat seorang diri.


Arkan pergi bersama dengan dua sahabatnya, dan juga sekretarisnya.


Rasanya sedih karena tak di izinkan ikut, karena kondisku yang tengah hamil, jadi aku harus jaga baik - baik kandunganku.


Tapi tetap saja rasanya tak rela, dan berat melepas Arkan pergi begitu saja, tapi yang namanya pekerjaan harus di jalankan.


***


Sehabis mengantar Arkan ke bandara, aku pergi ke super market, untuk membeli beberapa barang keperluan.


Aku mengambil, susu ibu hamil, buah, sayuran, dan lain - lain, karena kebetulan hampir habis.


"Belanja udah, ajak ketemuan mereka aja kali, ya?" Aku mengambil ponselku di dalam tas.


Lalu menuliskan sesuatu yang mengatakan kepada mereka harus menemui aku di caffe.


***


Beberapa menit kemudian...


Kami bertiga sudah berada di tempat, dan pesanan kami pun sudah di depan mata.


"Jadi suami kamu, lagi ke hongkong?" tanya Shane.


Aku menganggukkan kepala, lalu menyeruput minumanku, mereka hanya memperhatikan ku.


"Selama dua minggu?" tanya Vivia.


"Iya, emang masih belum jelas, ya?" tanyaku dengan nada kesal.


"Enggak bukan gitu, jadi rencana lo, sekarang apa?" tanya Shane.


"Nggak tau, kerja gue nggak bisa, lebay banget nggak sih mereka, dan sekarang Arkan malah ninggalin gue, ke luar negeri," Aku mendengus kesal, tampak mereka bingung harus apa, melihat sikap ku.


"Menurut gue, karena mereka khawatir dengan kandungan lo," pikir Shane.


"Kandungan lo kan, juga masih muda, masih rentan banget." sambung nya.


"Gue setuju sama, Shane," sahut Vivia.


"Tapi kan, gue juga kepengen kerja lagi," Aku berpangku dagu, lalu mengedarkan pandangan keluar jendela.


"Sabar, nanti juga lo bisa kerja lagi." simbat Shane Aku hanya mengehela nafas, dan masih melihat ke luar.


"Eh?! mumpung lo nggak bisa kerja, dan suami lo juga lagi di luar negeri, jadi kita bisa me time dong?" tanya Vivia


"Ide bagus, tuh," simbat Shane.


Me time adalah rangkaian proses dimana yang di lakukan itu khusus untuk di luangkan untuk kualiti time karena rutinitas, yang biasanya membuat jenuh dan monoton bahkan mungkin karena rentang kegiatan yang teramat panjang sehingga jiwa butuh penyegaran.  


Penyegaran di lakukan dengan tujuan dapat melakukan tugas – tugas dan kewajiban yang semakin padat dengan situasi jiwa dan fisik siap menempuh kehidupan dunia yang diciptakan oleh sistem  penuh kompetisi.


Masalahnya apa aku bisa melakukan itu, asal itu tidak membahayakan bagi kandunganku, aku rasa tidak ada salahnya.


"Dar!" seru Shane.


"Lo setuju, kan?

__ADS_1


"Gue sih setuju aja, emangnya kita mau ngapain?" tanyaku.


"Kalian nggak lupa kalo gue, lagi hamil muda kan?" tanyaku lagi.


"Yaampun, dar!" seru Vivia.


"Paling juga nongkrong di caffe, ke mall, terus taman hiburan," jelas Vivia.


"Ok, nanti gue tanya suami gue, dulu ya." ujarku.


"Beda ya, kalo udah nikah," Ujar Shane.


"Apa - apa harus izin suami dulu." sambungnya.


"Apa? mau protes?" mereka masing - masing menggelengkan kepala, lalu menyeruput minuman mereka, mereka sepertinya menghindari debat denganku.


***


Malam harinya....


Aku menunggu telpon dari Arkan di tempat tidur, seharusnya Arkan sudah sampai sejak lama.


Tapi entah kenapa sejak saat ini tidak ada satupun kabar darinya.


Aku ingin menelpon, tapi takut menganggu Arkan disana, hal ini membuat aku jadi merasa serbah salah.


Dan tanpa aku sadari aku tertidur...


***


Aku pantulan matahari dari jendela kamarku, membuat aku terbangun, dan saat aku melirik ponselku, terdapat panggilan tak terjawab dari Arkan.


"Kenapa dia menelpon saat aku tertidur, sih!"


Harusnya aku yang nenelponnya langsung, kerena khawatir menganggu Arkan, aku sampai tak bisa bicara dengan Arkan.


***


"Loh, udah nelpon istri, lo?" tanyanya.


"Sudah, tapi nggak di angkat," jawab Arkan.


"Emang kapan lo telpon istri, lo?" tanya teman Arkan satu lagi.


"Mmm...gue lupa, tapi yang pasti, di sana pasti sudah malam." simbat Arkan.


"Yaiyalah, kalo lo nelponnya pas orangnya tidur, siapa yang mau angkat telpon, dari lo," dumelnya.


Arkan mengehela nafas, tak ada pilihan lain, karena Arkan juga baru sampai, dan perlu istirahat, saat dia menelpon pun, dia masih merasa jetlight, tapi dia tahankan, karena ingin mendengar suaraku.


***


"Mama?!" Aku terkejut karena kini ibu mertuaku berdiri di depan pintu.


"Saat aku mndengar ketukan pintu, aku pikir temanku yang datang, tapi ternyata saat aku membuka pintu, malah ibu mertua yang datang.


"Hai!" sapanya.


"Silakan masuk, Ma!" ucapku mempersilakan ibu mertuaku masuk ke dalam rumah.


Bibik datang menghampiri kami, dengan. membawa minuman dan juga kue, setelah meletakkannya di meja, bibik pergi meninggalkan kami berdua.

__ADS_1


"Bagaimana kabar kamu, sayang?" tanya Mama.


Aku melihat Mama meraih tanganku, lalu menggamnya, setelah melihat ke tanganku, Aku melihat kembali ke ibu. mertuaku itu.


"Aku baik - baik aja, kok Ma!" ujarku.


"Cuma bosan aja, kerena ayah nggak ngizinin ke kantor lagi," Aku menunduk lesuh.


Mama manangkap wajahku, membuat Aku menaikkan pandanganku, dan menatap wajah Mama kembali.


"Ayah kamu cuma nggak mau kamu, kelelahan sayang." ucap Mama dengan nada lembut.


"Iya Ma, Dara ngerti," simbat ku.


"Dara cuma bosan aja, kok." sambungku.


Mama mengangguk faham, lalu mengelus pucuk kepalaku.


***


Kami pun mengabiskan waktu seharian hari itu, cukup menyenangkan, apalagi mendapat perhatian penuh hari itu dari Mama.


Rasanya seperti saat bersama Ibu, meski dia ibu mertua, tapi aku bisa bersikap kalau aku ini anaknya sendiri.


Tidak anak hubungan mertua dan menantu, yang ada ibu dan anak.


Aku sangat senang dan beruntung mempunyai mertua yang baik, seperti layaknya orang tua sendiri.


Bahkan aku bisa bermanja dengannya, tapi karena kondisiku saat ini, rasanya gengsi ikut menyelimuti diriku.


***


Mama pun pulang ke rumahnya, dan tinggal aku seorang diri dan di temani bibik, setidaknya kedatangan Mama sangat menghiburku.


Malam pun tiba, dan aku pun harus istirahat.


****


Keesokan harinya...


Pagi ini aku berencana mengunjungi kantor Arkan dan juga kantorku, sekaligus meminta kepada ayah untuk membiarkan aku kembali ke kantor ku.


Drrrttt...


Tapi tak lama kemudian, saat aku hendak masuk ke mobilku.


Ponselku berbunyi, membuat aku dia. di tempat, kemudian mengambil ponselku yang berada di ponselku.


Aku melihat nama Arkan di layar ponselku, sejenak aku pandangi nama Arkan yang tertera disana.


Drrt....


Ponselku bergetar, dan akhirnya aku menjawab panggilan tersebut.


"Hallo!" ucapku.


{ Hallo, Dar! }


Entah kenapa meskipun ada rasa sedikit kesal, rasa kesal itu kalah dengan rasa rindu yang selama ini aku tahan.


🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼

__ADS_1


Hai gimana part kali ini, semoga suka ya.


Jangan lupa like and comen, vote and reviewnya juga


__ADS_2