
"Sayang ... sebenarnya ada hal lagi, yang ingin aku bahas lagi, soal Mesyah," ujarnya.
Sebenernya aku sudah tidak ingin membahas wanita itu, karena ini bukan pertama kalinya. semenjak wanita itu muncul di kehidupan kami.
"Soal apa?" aku berusaha tenang dan tetap mendengarkan, aku berusaha menutupi rasa cemburuku setiap kamu membahas wanita itu.
"Aku akan ganti kartu, agar dia tidak bisa hubungi aku lagi, bagaimana?" tanya Arkan.
"Sampai harus ganti kartu?' batinku, pikiranku saat ini di penuhi tanda tanya, jika sampai Arkan ganti kartu, pasti wanita itu sudah sangat mengganggunya.
"Kenapa harus ganti kartu?" tanyaku sedikit nada kesal.
"Emang kamu nggak bisa, buat dia tersingkir dari kehidupan kita?" Aku pergi meninggalkan Arkan begitu saja.
Arkan menghela nafas, dia sudah pasrah dengan apa yang sudah terjadi.
......***......
...Setelah di kamar ......
Aku pikir Arkan akan langsung pergi ke kantornya. tapi malah sebaliknya. dia pergi menyusulku di kamar.
"Adara!" panggil Arkan. aku tidak menggubris. karena pura - pura tidur dengan posisi membelakangi Arkan.
"Sayang ... maaf, kalo kamu nggak nyaman dengan semua ini," aku tersentak mendengar ucapan Arkan.
"Aku pasti akan membuat dia tersingkir dari kehidupan kita." aku masih tidak mengatakan apapun.
Ada rasa bersalah di dalam hati namun di balik itu semua setidaknya aku tau, kalau Arkan akan menyingkirkan gadis itu.
Ia terus menatapku, dengan tatapan yang tak pernah aku lihat sebelumnya. lalu aku merasakan sebuah tangan merayap di kepalaku.
Tangan Arkan mulai membelaiku, aku tau Arkan mencoba menenangkanku, dan harus aku akui sekarang aku sedikit tenang.
"Sayang ... sampai kapan kamu pura - pura tidur," ucapnya membuat aku terkejut, sejak kapan dia tau kalau aku pura tidur ?
Aku langsung bangkit, lalu duduk di tempat tidur, Arkan tersenyum melihatku.
"Kenapa kamu bisa tau?" tanyaku heran, dengan tatapan menyelidik.
"Sayang ... Tidak ada yang bisa tidur, secepat itu," ujarnya, aku mendengus kesal.
"Udah ... kamu jangan marah, kan tadi aku bilang akan singkirin dia dari kehidupan kita." ucap Arkan. aku menatap bingung ke arahnya.
"Kamu bicara ... seolah itu mudah untuk di lakukan, kamu tahu caranya?" tanyaku penasaran.
Aku mengamati Arkan. yang nampak tengah berpikir, harusnya aku menghargai apa yang di lakukan Arkan saat ini.
Aku meraih tangan Arkan, lalu menggenggamnya erat. Arkan menatap tanganku, lalu saat Arkan melihatku, aku tersenyum di depannya.
"Kita pikirkan dan lewatin ini sama-sama, ya," ujarku. Arkan tersenyum menanggapi ucapanku.
......***......
...Caffe Berry...
__ADS_1
...12 : 00...
Seorang waiters datang mengantarkan pesananku, setelah selesai menaruh semuanya di meja, waiters itu pergi.
Tak kama lama setelahnya, aku menangkap sosok Arkan berjalan ke arahku.
"Kamu ngapain sih ... ngajak aku kesini?" tanyaku heran.
"Kenapa?" tanya Arkan.
"Katanya bosen di rumah, jadi aku ajak kesini," sambungnya.
"Iya ... aku emang bosen di rumah, maksud aku _"
"Maksud kamu ... kamu mau pergi ke taman hiburan, mall atau sebagainya?" potong Arkan.
"Nah ... itu kamu ngerti," simbatku.
"Sayang ... "
"Aku hamil, ok ... aku ngerti," aku kembali fokus ke makananku, Arkan hanya menatap dan memperhatikanku.
"Kenapa kamu liatin aku, kayak gitu?" tanyaku bingung.
Sesaat Arkan tak menggubris pertanyaanku, kemudian dia mendekatkan wajahnya.
"Aku penasaran." ucap Arkan.
"Penasaran?" tanyaku dengan tatapan bingung.
Hatiku berkata ada sesuatu yang ingin Arkan katakan, tapi harus kah aku mencari tau sendiri?
...***...
Setelah makan siang kami berencana untuk pulang, Arkan berniat mengantarku, namun aku bilang aku bisa pulang sendiri.
"Kamu yakin mau pulang sendiri, sayang?" tanya Arkan.
"Apa sih ... aku pergi naik taxi, bukan bawa mobil sendiri." ucapku menenangkan Arkan.
Sebenarnya ada perasaan mengganjal sejak tadi di dalam caffe, tapi segera aku tepis perasaan itu.
"Aku merasa tidak tenang, aku antar aja, ya." bujuk Arkan.
Aku tidak merespon Arkan. karena taxi online yang aku pesan keburu datang. wajah Arkan terlihat semakin cemas.
Aku membuka pintu mobil dengan tergesa, namun aku terkejut karena tiba - tiba Arkan menutup pintu yang tadinya aku buka.
"Maaf tidak jadi, nanti aku transfer uang untuk ongkos istri saya," sopir itu mengangguk setuju, kemudian pergi.
Seketika tanda tanya besar muncul di benakku, ada apa dengan sikap Arkan yang tengah aku lihat sekarang ini.
"Sayang ... apa menurut kamu, ini tidak berlebihan?" tanyaku. Arkan tak menggubris tanganku, lalu menarikku ke mobilnya.
Arkan membukakan pintu untukku, mau tak mau aku masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
......***......
Aku melirik Arkan yang tampak serius menyetir, seketika aku merasa ada yang aneh dengan suasana yang terjadi di mobil.
"Arkan!" panggilku. ajaibnya Arkan langsung menoleh.
Seketika aku lupa dengan apa yang hendak aku katakan, karena melihat ekspresi dingin Arkan.
"Ada apa?" tanya Arkan. terdengan nada dingin di sela ucapannya.
"Kamu kenapa?" tanyaku dengan sangat hati - hati.
"Aku baik-baik saja," jawab Arkan. aku menatap Arkan dengan tatapan penuh kecemasan.
Aku menyadari Arkan tidak akan bicara apapun, jadi aku memutuskan untuk membiarkannya seperti itu sementara.
......***......
Komunikasih itu penting, tanpa komunikasi kita tidak akan mengerti apapun satu sama lain.
Tiba - tiba aku merasa ada yang salah dengan tubuhku, namun aku mencoba terlihat baik - baik saja di depan Arkan.
Arkan kembali ke kantornya, saat hendak ke masuk ke dalam rumah, aku merasa tubuhku mulai merasa begetar.
Aku merasa pandanganku begitu berkunang-kunang. tiba - tiba saat aku merasa tubuhku akan ambruk sesuatu seperti menahan tubuhku.
"Non nggak apa-apa?" tanya Bibik menatapku dengan cemas.
"Nggak, Bik!" jawabku seraya tersenyum tipis.
"Cuma sedikit pusing," ungkapku. aku bernafas lega saat melihat bibik berada di dekatku.
"Yaudah ... kita masuk aja, ya non!" bibik membantuku masuk ke dalam rumah.
Aku duduk di sofa di ruang tamu, karena pusing di kepalaku, membuat aku tak sanggup berjalan ke kamar.
...Prank!!!...
Suara keras akibat benturan di kaca, membuat aku refleks berdiri, lalu menjauh.
Dengan gemetar aku berjalan ke arah pintu masuk, ku lihat kaca jendela di sana pecah, dan ada sebuah batu dengan ukuran cukup besar tergeletak di lantai.
"Ada apa, Non?" tanya Bibik, dengan raut wajah panik.
"Bik!" aku langsung mendekat ke bibik, menatap bibik dengan tatapan ketakutan, pelukkan dari bibik berhasil menenangkanku.
"Ini bagaimana, Non?" tanya Bibik seraya matanya menatap ke arah pecahan kaca.
"Bibik tolong panggil tukang untuk perbaiki ini secepatnya," pintaku.
"Jangan sampai Arkan ... melihat ini, apalagi tahu soal ini, Bibik ngerti kan?" sesaat Bibik tampak ragu, namun dia tetap mengiyakan ucapanku.
......🌼🌼🌼🌼🌼......
Jangan lupa like and komen vote dan juga review.
__ADS_1