Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Tak Boleh Bekerja?


__ADS_3

Aku mememberikan sarapan untuk Arkan, Arkan memperhatikanku, yang masih melayaninya.


"Kenapa kamu masih buatin sarapan?"


"Kan padahal ada, bibik!"


"Memangnya kenapa?"


"Bibik juga bantuin,"


"Aku cuma takut kamu capek sayang."


Aku tersenyum melihat Arkan, sedangkan Arkan masih dengan raut wajah khawatirnya.


"Kamu kenapa liatin aku, kayak gitu terus. sih?!"


Aku mendekati Arkan, lalu memeluk Arkan dari samping, lalu mencium pipi Arkan sekilas.


Cup....


"Nggak usah khawatir ya, sayang..."


Arkan menggenggam tanganku, yang melingkar di dada Arkan.


"Yaudah, kita makan, aja gimana?"


"Yaudah,"


Akhirnya Aku bisa membuat Arkan diam, dan membuat Arkan berhenti khawatir.


Aku masih mengerti rasa khawatir Arkan, apalagi ini anak pertama kami, jadi aku harus mengerti posisinya.


***


Kami berdua berada di depan rumah, di hadapan kami, terpakir mobil kami berdua, siap berangkat.


"Sayang...kamu kapan, mau chek up?"


"Mmm...nggak tau, aku belum tanya lagi,"


"Yaudah, nanti aku tanya lagi."


"Yaudah, nanti kamu kabarin aja, ya,"


Akan mendekatkan wajahnya, lalu mencium sekilas pipiku, lalu mengecup keningku.

__ADS_1


"Aku barangakat dulu, ya,"


"Hati - hati, ya."


"Kamu juga ya, Dar!"


"Ingat jangan terlalu capek,"


"iya, Arkan!"


"Dah."


"Dah."


Arkan memasuki mobilnya, kini Arkan pergi dengan mobilnya.


Tak lama setelah Arkan pergi, Aku masuk ke mobilku lalu berangkat ke kantor.


****


Beberapa menit kemudian Aku tiba dikantor, dari kejauhan sekretarisku menghampiriku, dengan membawa tablet di tangannya..


"Pagi, buk!"


Aku berjalan mendahului Sekretarisku,


dan dia mengikutiku dari belakang.


Saat di ruanganku, aku duduk di kursiku, setelah duduk dan meletakkan tasku, aku melihat ke sekretaris ku.


"Jadi apa jadwal saya, hari ini?"


"Buk jadwal ibuk pagi ini, menghadiri rapat penting,"


"Lalu rapat dengan beberapa klien kita."


"Ok, kamu boleh pergi sekarang,"


Wanita cantik itu, membungkuk memberi hormat, lalu pergi meninggal kan ruangan ku.


Setelah menghadiri rapat dengan beberapa klien, aku kembali ke ruanganku, tapi saat aku kembali, aku di buat terkejut saat melihat seseorang duduk di kursiku.


Ayahku ada di ruanganku sekarang....


"Ayah!"

__ADS_1


"Kamu kenapa masih kerja dalam kondisi kamu, saat ini?"


"Ayah!"


"Aku masih kuat, kok,"


"Ayah, tidak mau mengambil resiko, Adara!"


"Sebaiknya kamu cuti, dari pada sesuatu terjadi dengan cucu, ayah!"


"Ta-tapi..."


"Tidak ada tapo, Adara!"


"Sekarang kamu pulang, dan biarkan Ayah yang menangani semuanya."


"Tapi..."


"Sudah kamu pulang saja sekarang, kamu pikir ayah kamu ini tidak bisa menanganinya sendiri, Hah?!"


"Tapi..."


"Ingat kamu harus pulang, jangan bekerja, mengerti?!"


Setelah mengatakan itu Ayah menepuk bahuku, lalu melenggang pergi dari ruanganku dan pergi ke ruangannya.


Aku bukan tidak mau di suruh untuk istrahat, tapi Aku tidak tau apa yang akan aku lakukan jika bekerja.


Rasanya pasti membosankan jika tidak melakukan apapun, dan di saat seperti ini, aku harus apa?


Aku berpikir keras, tentang apa yang akan aku lakukan, setelah mengingat Arkan bertanya kapan diriku akan check up kandungan, jadi sebaiknya aku ke dokter kandungan saja.


Aku mengambil tas, dan ponselku, yang aku taruh di meja, lalu mengeluarkan kunci mobil, lalu keluar dari ruanganku, dan pergi ke tempat aku memakirkan mobilku.


🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼


Hai...


Gimana part kali ini?


Semoga suka, ya


Kalau ada pertanyaan silakan komen ke bawah.


Jangan lupa like and comen, vote and review.

__ADS_1


__ADS_2