Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Pertengkaran


__ADS_3

Aku mengerti seharusnya hal ini di ceritakan kepada Arkan. tapi aku tidak mah menambah masalah, karena aku tahu perbuatan siapa itu.


...***...


Aku meminta tukang untuk segera memperbaiki kaca yang pecah tersebut sebelum Arkan kembali.


Beberapa jam kemudian para tukang itu selesai, tak lama setelahnya Arkan pulang lebih awal dari biasanya.


Aku cepat - cepat menghampirinya, aku sebisa mungkin bersikap normal di depan Arkan.


"Arkan ... kamu pulang lebih awal dari biasanya, apa tidak banyak pekerjaan di kantor?" tanyaku dengan raut wajah bahagia.


"Ada apa?" tanya Arkan dengan tatapan mencurigaiku.


"Hah? kenapa bertanya seperti itu?" tanyaku balik.


"Lupakan," ujar Arkan.


"Bagaimana kalau kita masuk saja?" aku menanggukkan kepala menanggapinya, kami berduapun, berjalan masuk bersama.


......***......


Karena haus, aku berusaha mengambil minum di dapur, tapi pusing di kepala itu muncul lagi.


"Belakangan kepalaku sering pusing, ada apa, ya?' batinku.


Aku merasa seseorang berdiri di belakanganku, saat amu menoleh semuanya menjadi kabur dan akhirnya menjadi gelap.


Aku merasa ada yang menopang badanku, tapi aku tidak tau siapa.


Arkan apakah itu kamu? ....


......***......


Saat aku terbangun, aku sudah di hadapkan dengan pemandangan Arkan yang tengah menatapku, ekspresinya saat ini sungguh tidak enak.


"Sudah seberapa sering?" tanya Arkan tiba - tiba, sontak hal tersebut membuat aku bingung harus menjawab apa.


"Adara ... jawab pertanyaanku, sudah berapa sering kamu pingsan seperti semalam?" tanya Arkan dengan nada dingin.


Aku mencoba mengingat, lalu tanpa berpikir panjang aku menjawab.


"Nggak apa - apa, kok." jawabku sambil tersenyum tipis. Arkan terlihat tidak puas dengan jawabnku.


"Kau tau itu bukan jawaban yang aku inginkan, Adara!" nada dingin Arkan sungguh membuatku takut.


"Arkan ... ini tidak sering terjadi, lagi pula aku cukup yakin, kalau aku baik - baik saja, kok," aku mencoba membuat Arkan mengerti, tapi sepertinya yang aku lakukan itu percuma.


"Aku akan memanggil dokter, untuk memeriksamu," ujar Arkan, mendengar hal tersebut membuatku terkejut.

__ADS_1


"Jangan!" seruku. perkataanku yang tanpa berpikir panjang terlebih dahulu, sukses menambah kemarahan Arkan.


"Adara!"


"Apa yang kau sembunyikan, sebenarnya?" tanya Arkan dengan nada menahan emosi.


"Aku tidak menyembunyikan apapun!" tekanku, hal tersebut malah menyulut emosi Arkan.


"Satu hal lagi, aku tidak mau tau, dengan apa yang terjadi denganku!" ujarku, Arkan menatap tajam ke arahku.


"Apa kau ... sama sekali tidak perduli dengan anak kita, Adara?" dingin dan rasanya sangat menyakitkan mendengar perkataan Arkan barusan.


"Apa kau ... baru saja meragukan kasih sayang seorang ibu?" baru saja aku seperti kembali memancing emosi Arkan.


Begitu ucapku itu telontar dari mukutku, Arkan tidak membantah apapun, namun dia diam. aku sudah tidak tau harus berkata apa.


Aku refleks bergerak mendekati Arkan. tapi Arkan malah pergi meninggalkanku.


Rasanya menyakitkan melihat sikap Arkan yang seperti itu, aku tidak menyangka kalau semua ini akan berakhir dengan seperti ini.


...***...


Sejak pertengkaran itu, aku mencoba menghubungi Arkan. tapi sama sekali tidak ada jawaban. semarah itukah Arkan ?


Aku berulang kali menghubungi Arkan. tapi lagi - lagi tidak ada jawaban, hingga akhirnya aku menyerah untuk mengubunginya. mungkin Arkan butuh waktu untuk sendiri.


Semuanya berubah sejak kami berdua saling jatuh cinta, hingga akhirnya kami berdua mempunyai anak, meski sebelumnya sempat saling tidak jatuh cinta.


Dalam benakku berpikir, aku tak pernah membayangkan pertengkaran itu akan berefek seperti ini.


Sikapnya yang 180° berubah menjadi dingin, membuat perasaanku tak menentu. selain itu ... masih ada perasaan lain yang menjanggal perasaanku.


......***......


Selama beberapa minggu Arkan terus mengabaikanku, tapi dia tetap perhatian dengan bayi kami.


Aku mencoba memperbaiki hubungan kami, tapi sepertinya Arkan selalu menghindar dariku.


Aku mulai merasa putus asa, dengan hubungan kami yang mulai sedikit melenggang, namun aku tidak boleh membiarkannya belarut - larut.


"Arkan!" panggilku, ketika Arkan hendak pergi meninggalkan rumah untuk ke kantor.


Belum sempat aku berkata apa - apa, tapi Arkan sudah pergi meninggalkanku. hal tersebut membuat aku sedih bahkan sangat terluka, tidak bisakah kita membicarakan masalah ini dengan baik - baik?


...Ting!...


Sebuah notif pesan masuk ke ponselku, sebuah nomor tak dikenal mengirim pesan bergambar padaku. lalu aku membuka gambar tersebut.


...Deg!...

__ADS_1


Baru saja aku berencana untuk memperbaiki masalah di antara kami, kenapa malah muncul masalah baru.


Nomor tak di kenal itu mengirimkan foto Arkan dan wanita itu dalam satu ranjang, mereka berdua tampa begitu mesrah.


Dadaku sesak, kepalaku rasanya ingin meledak, bagaimana bisa ada foto seperti ini? siapa orang di balik semua ini ? siapa sebenarnya orang yang mengirim foto tersebut padaku.


Saat aku mencoba hubungi kembali, nomor yang tak di kenal itu sudah tidak aktif.


Aku tak tau harus berbuat apa, semuanya jalan rasanya buntu untukku, di saat aku mencoba memperbaiki, seseorang mencoba mengacaukannya lagi.


Meski masih ragu, aku putuskan untuk berbicara dengan Arkan. pada akhirnya semuanya harus di selesaikan dengan cepat sampai ke akarnya.


......***......


Setelah bersusah payah aku mengumpulkan keberanian untuk bicara pada Arkan. semuanya harus tertahan karena Arkan pulang terlambat.


Saat aku hampir membicarakan semua masalah di antara kami, kenapa justru Arkan selalu menghindar, apa dia ingin membiarkan semua masalah ini berlarut - larut?


...***...


Aku baru akan pergi tidur karena Arkan tak kunjung pulang, tapi tak lama Arkan masuk ke kamar.


Aku baru akan menghampirinya, tapi dia malah masuk ke kamar mandi. dengan hawa dingin yang masih menyelimuti dirinya.


Tak lama kemudian Arkan keluar dari kamar mandi, Arkan berjalan ke arahku yang masih setia menunggunya.


"Ada yang ingin kau ... bicarakan?" tanya Arkan dengan nada dingin.


Pria itu menatapku dengan sangat dingin, aku masih membayangkan sosok laki - laki di depanku ini, masih sama dengan laki - laki yang aku nikahi beberapa waktu lalu. untuk meningkat ke percayaan diriku.


"Arkan ... aku rasa harus ada yang kita bicarakan," ujarku. Arkan tak merespon ucapanku.


Dari jarak sedekat ini, aku bisa merasakan masih ada ikatan di antara kami, itulah yang membuat aku semakin bertekad untuk membicarakan masalah kami.


"Tadi aku mendapat pesan dari nomor yang tidak di kenal," dengan sangat hati - hati.


Aku memperlihatkan pesan tersebut kepada Arkan, Arkan melihat pesan tersebut setelah menerimanya, aku menunggu reaksi Arkan, namun tam ada reaksi apapun.


"Kau percaya?" tanya Arkan tiba - tiba membuat aku bingung harus menjawab apa.


"Apa aku percaya dengan foto ini?" tanya Arkan sekali lagi, dengan nada suara Arkan entah kenapa itu seperti menusukku.


Seolah berkata ...


kau lebih percaya berita yang tak tahu sumbernya dari mana, tampa mencari tahu lebih dulu, di banding suami sendiri ....


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Hai jangan lupa like and komen vote dan juga review

__ADS_1


__ADS_2