
Keesokan harinya.
"Kamu pergi lagi, hari ini?" tanya Arkan sambil melahap makanannya.
"Eugh ... belum tau, kenapa emang?" tanyaku bingung.
Aku memang belum berencana pergi kemana pun hari ini, apalagi setelah ku ceritakan soal kemarin.
"Kamu boleh pergi, tapi jangan kecapean, kamu mengerti kan?" aku menganggukkan kepala.
Sebelum pergi Arkan mengecup keningku, Arkan yang telah selesai dengan sarapannya. langsung pergi ke kantor setelah berpamitan denganku.
***
Ting!
Aku yang sibuk merapikan kamar, tiba - tiba harus terganggu karena mendengar notif pesan masuk.
Ku tinggalkan sebentar pekerjaanku sebelumnya. untuk membuka pesan yang masuk.
[ Buk, nona Maura ingin bertemu ]
Ternyata itu dari pengacaraku, dia mengirim pesan untuk memberitahukan kalau Maura ingin bertemu denganku.
Aku berpikir cukup keras apakah aku akan menemuinya. tapi jika aku ingin tau apa yang dia inginkan, maka aku harus menemuinya.
Ku gerakkan jariku, mengetikkan sesuatu, setelah selesai aku kembali ke pekerjaanku.
***
Aku bersiap untuk menemui Maura. tiba tiba aku merasa ragu, apakah aku akan menemuinya atau tidak. tapi rasa penasaran juga tak kalah pentingnya.
Ku yakinkan dalam hati, kalau aku akan menemui Maura agar aku tau apa yang kali ini dia inginkan.
Setelah persiapanku selesai, kuraih kunci mobil, hp, dompet, dan aku meraih tasku lalu ku masukkan semua barangku ke dalamnya. setelah itu baru aku pergi.
***
Di penjara, aku melihat Maura datang di temani polisi di sampingnya. dengan raut wajah puas, sepertinya kali ini dia senang melihat kedatanganku.
Maura duduk tempat di depanku, dengan senyum meringai di wajahnya.
"Katakan ada apa?" tanyaku langsung tak ingin berbasa - basi.
"Kamu buru - buru?" tanya Maura dengan nada santai.
Aku menatap curiga Maura. apa dia punya sesuatu yang dia rencanakan ? atau dia mencoba bermain denganku.
"Maura ... kau sendiri yang bilang tidak ingin melihatku," ujarku dengan nada nyolot.
"Lalu kenapa sekarang ... apa kau mencoba untuk bermain-main?!" tanyaku dengan nada kesal.
Maura tersenyum, sepertinya dia senang melihatku kesal, dia memang sudah berhasil membuat aku jengkel dengan ulahnya.
"Apa kau tau rahasia besar Arkan dan keluarganya?" tanya Maura dengan nada santai.
"Apa?" tanyaku ulang.
Maura menatapku dengan begitu santai, aku heran bagaimana dia bisa melakukannya.
__ADS_1
"Apa maksud kamu .... Maura?!" tanyaku yang mulai emosi.
"Santai ... jangan emosi begitu," ujar Maura. lagi - lagi Maura dengan permainannya itu, argg! ... aku benar benar sudah muak.
"Bagaimana kamu cari tau sendiri?" tanya Maura.
"Ini bukan permintaan tapi tantangan, bagaimana?" tanya Maura lagi.
Sementara polisi datang dan memberitahu kalau jam berkunjung sudah habis, Maura tersenyum sambil menatapku.
"Ingat kau harus cari tau sendiri, atau rahasia besar itu selamanya tidak akan terungkap." ucap Maura dengan senyum sinis di wajahnya.
Polisi itu mulai memegang Maura, lalu tak lama membawanya pergi dari hadapanku.
Aku mengemas barang - barangku, lalu pergi meninggalkan kantor polisi.
***
Sepanjang perjalan aku terus memikirkan ucapan Maura, rahasia besar? apa itu.
Sesampainya di rumah aku melihat pintu terbuka. aku tak percaya bibik membiarkan pintu rumah terbuka, aku pun buru - buru masuk dan tiba - tiba.
Grebb!!
"Aunty, Rara!" seorang anak kecil tiba tiba berhambur memelukku, membuat aku kaget.
"Sayang ... hati - hati," ujar suara wanita yang nampak familiar.
"Kalau adek baby nya kenapa - napa, nanti di marah, uncle Arkan loh." sambung.
Saat aku melihat ke arahnya. wanita itu tersenyum, lalu berjalan mendekat ke arahku, aku tak percaya yang datang ternyata sepupu dan juga keponakanku.
"Haha ... kamu kok, kaget gitu?" tanyanya.
"Hehe ... ekpresi aunty lucu deh." sahutnya.
"Yaampun ... tadi kamu hampir bikin aunty jatuh loh ... kamu mau babynya sakit?" godaku sambil memasang raut sedih.
"Maaf autny." ucapnya dengan raut menyesal.
Aku tersenyum, lalu mengusap kepala Delia keponakanku yang lucu sambil menyubit gemas hidungnya.
"Gimana keadaan, kamu?" tanya Kak Shopia.
"Aku baik, kok." jawabku
"Bentar ya kak, Bibik!" panggilku sambil mencari sosok bibik.
Tak lama bibik datang menghampiriku, dengan membawakan minuman.
"Ya, non?" tanyanya sambil meletakkan minuman ke meja.
"Tolong ajak Delia ... main ya," pintaku.
"Baik, Non!" jawabnya.
"Delia ... kamu main sama bibik ya, kebetulan autny ada mainan buat kamu." Anak itu langsung senang mendangar hal itu, lalu berjalan mendahului bibik pun langsung menyusulnya.
"Maaf ya ... terkadang anak itu suka susah di atur." ucap Kak Shopia dengan raut tak enak.
__ADS_1
"Nggak apa - apa kok, aku ngerti ... namanya juga anak kecil, iya kan?" Kak Shopia hanya tersenyum menanggapiku.
"Jadi ... kamu tadi habis dari mana?" tanya Kak Shopia.
"Dalam kondisi kamu sekarang, memangnya kamu nggak capek?" tanya Kak Shopia lagi.
Aku hanya menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Kak Shopia.
"Nggak kok ... lagian kalau aku capek, aku tinggal istirahat, kan?" Kak Shopia menganggukkan kepala menanggapiku.
"Lalu soal Maura ... gimana?" tanya Kak Shopia lagi.
"Apa dia masih mengganggu, kamu?" tanya Kak Shopia.
Pertanyaan Kak Shopia cukup membuat aku terdiam, kalau sudah begini aku bingung bagaimana menjawabnya.
"Apa ada orang lain lagi, yang mengganggu, kamu?" tanya Kak Shopia.
"Kak ... kakak ini ngomong apa sih?!" tanyaku dengan nada kesal.
"Maaf ... kakak nggak bermaksud, kakak cuma barusan liat, kamu kayaknya ada yang di pikirkan," jelasnya.
"Aku nggak ngerti, mungkin cuma perasaan kakak, aja," ujarku sambil beranjak dari tempatku.
Kak Shopia melihatku yang berdiri, suasana tiba - tiba berubah menjadi canggung.
"Aku kekamar dulu, aku mau ganti baju." setelah mengatakan itu, aku langsung pergi ke kamar.
***
Di kamar ....
Setibanya di kamar aku mengupat diri aku sendiri karena sikap aku sebelumnya. seharunya aku tidak bersikap demikian, namun sepertinya aku malah sebaliknya.
Tak lama aku kembali dengan raut menyesal, Kak Shopia menatap bingung ke arahku.
"Kamu kenapa?" tanya Kak Shopia.
"Kak!" panggilku.
"Kenapa?" tanyanya.
"Kak maafkan aku, ya." Kak Shopia terlihat terkejut sekaligus bingung melihat aku tiba - tiba bicara seperti itu.
"Kenapa tiba - tiba?" tanya Kak Shopia bingung.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Hai gaish ... semoga kalian pada suka, maaf kalau author jarang bisa update, karena kesibukkan KKN sih authornya.
Jangan lupa di like and komen vote dan review, dan silakan kasih masukkan agar cerita ini semakin berkembang.
caranya gimana? bisa lewa dm author di S_anastayha, atau ... bisa juga di kolom komentar.
Kalian juga bisa tinggalin jejak, biar author bisa mampir ke tempat kalian.
Semoga cerita ini menarik, dan kalian puas saat membacanya, mohon maaf juga jika banyak kekurangan.
Makanya biar cerita ini menarik untuk kalian baca, kalian kasih masukkan ya, semoga dengan masukkan kalian cerita ini jadi jauh lebih bagus.
__ADS_1