Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Chapter 11


__ADS_3

Setelah menerima Quest dari Tonu keduanya memasuki Alas Pati, Yudi tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Hutan ini tidak seperti dugaannya.


Dia pikir Hutan ini seperti namanya Alas Pati yang berarti Hutan Kematian. Yang beraarti tidak ada satupun satwa yang dapat ditemukan, namun tternyata banyak satwa yang biasa dia temui terdapat di tempat ini.


"Aku pikir Alas Pati adalah hutan yang tandus, gersang, serta tidak ada tumbuhan dan hewan. Tapi ternyata teempat ini lebih subur dari yang kukira."


Mendengar Tuannya berkata seperti itu Goobu merespon.


"Alas Pati hanyalah sebutan dari orang-orang, bukan karena tempat ini gersang dan sebagainya. Namun karena hutan ini angker, sebab ada sesosok makhluk yang menguasainya."


Keringat sebesar jagung menetes di pelipis Yudi, itu karena dia begitu sensitif dengan topik yang sedang dibahas Goobu.


"Jadi maksudmu ada sesosok makhluk memiliki kekuatan besar dan menguasai hutan ini, begitu?"


Goobu mengangguk mendengar ucapan Tuannya, dia juga sebenarnya tahu hal itu dari beberapa penjaga yang telah menangkapnya waktu itu.


"Kalau begitu, kita harus berhati-hati!"


Mengatakan itu Yudi maju untuk menjalankan Quest yang dia terima, serta menolong keluarga dari budaknya. Mereka melewati semak-semak, menyeberangi sungai, dan mencari benda yang dipesan oleh Tonu.


"Seperti apa kelihataannya, Jahe Musculias dan Ginseng Morbula itu?"


Gobu yang mendapat pertanyaan itu merespon sambil matanya juga ikut mencari keberadaan tanaman herbal yang disebutkan itu.


"Aku juga tidak tahu, Tuan!"


"Eh? Jadi kau tidak mengetahuinya."


Menggeleng sang Hobgoblin itu, menatap pada sang Tuan. Berharap apa yang ada di kepalanya, saat ini adalah sebuah ketidak mungkinan.


"Bukankah, tuan mengetahui bentuk tanaman ersebut? Sebab Tuan mengambil Questnya?"


"Iya, itu sedikit salah. Aku berniat mrmbantu karena kasihan, tapi kalau soal jahe apalah itu dan Ginseng tersebut aku tidak mengetahuinya."


Pelipis Goobu kini berdenyut kala menerima jawaban tersebut. Dia tidak menyangka kalau apa yang ada dikepalanya benar.


'Tuanku tergerak menolong orang karena simpati. Kalau dia terus melakukan itu tanpa berpikir jauh, maka bisa-bisa kita akan dalam bahaya besar dikemudian hari.'


Segera sang Hobgoblin menghentikan langkah, melihat budaknya berhenti. Yudi segera membalikan badan ke arahnya.

__ADS_1


"Apa ada masalah Goobu?"


Sang HobGoblin lalu menatap tuannya.


"Tuanku! Aku bukan bermaksud menyinggung soal kita yang tidak tahu aoa yang kita cari saat ini. Tapi ada hal yang harus diatur ulang!"


"Diatur ulang," beo Yudi.


"Iya!" Jawab tegas Goobu.


Hobgoblin tersebut lalu mengolah kata, agar maksudnya bisa tersampaikan pada Taunnya.


"Siapapun yang butuh bantuan memang harus ditolong tapi kalau seandainya. Apa yang dimintai tolong olehnya itu tidak sanggup kita lakukan, aku harap kau bisa mempertimbangkan untuk tidak memaksakan diri."


Yudi tertegun saat mendengar ucapan budaknya itu, sementara Goobu belum berniat menghentikan ucapannya.


"Aku tahu ini mungkin sesuatu yang tidak bisa kau terima. Tapi kalau kau mencoba melakukan apa yang tidak bisa atau mustahil untuk kau lakukan, di kemudian hari maka kita hanya akanmenemui ajal. Karena itu berjanjilah, kalau kau tidak akan mengambil permintaan seperti itu lagi, Tuanku!"


Sebuah senyum terukir di wajah Yudi, ketika tahu kalau budaknya itu begitu mengkhawatirkannya. Lalu dia pun, menyambut apa yang sudah disampaikan Goobu.


"Kau benar-benar baik ya, aku senang telah mengambilmu sebagai budakku. Aku menolong dia bukan karena simpati Goobu, kau salah kalau kau berasumsi aku menolongnya karena hal itu."


"Aku sengaja mengambilnya, karena Quest itu satu arah dengan tujuan kita. Jika kita berhasil menemui keluargamu, aku akan minta mereka mencarikan benda herbal itu."


Kali ini Goobu mulai menangkap maksud dari tuannya itu, dan dia pun mencoba menjelaskan apa yang hendak diucapkan tuannya.


"Apa itu berarti Tuan, seperti menjatuhkan dua burung dengan satu batu?"


Mendengar itu Yudi menyimpulkan bibirnya, sebab rencana miliknya sudah dipahami budaknya itu.


'Padahal aku mau menjelaskannya, sepertinya dia memang seorang Raja Goblin.'


"Intinya adalah Quest Tonu hanya rencana cadangan, karena fokus utamaku saat ini adalah menemukan Rakyat dari temanku."


Goobu tidak percaya sang Tuan memanggilnga teman, segera saja dia membantah.


"Teman? Aku ini budakmu tahu? Mau statusku raja dari mosnterpun selama masih ada segel budak di dadaku maka statusku adalah seorang budak."


"Begitu ya, mah itukan karena segel budak. Aku tidak peduli, kau itu adalah temanku jadi jangan buat aku mengulanginya oke."

__ADS_1


Pelipis Goobu berkedut ketika Yudi memutuskna ith secara sepihak. Sang Tuan malah sudah bergerak cepat ke depan, sambil sesekali melirik kanan kiri untuk menemukan Ginseng Morbula dan Jahe Musculias.


Setelah melewati berbagai tempat, mereka tidak menemukan satupun herbal yang diminta oleh Tonu. Tapi karena hanya dianggap sebagai cadangan, mereka sama sekali tidak ambil pusing.


"Pada akhirnya, tidak ada satupun dari mereka. Apa si Tonu itu menjebak kita?"


"Entahlah, tapi yang paling penting adalah kita sudah sampai."


Yudi tidak mengerti akan maksud ucapan dari budaknya, itu karena tempat mereka berada saat ini. Di depan sebuah gundukan batu besar, yang dipenuhi oleh lumut dan pohon menjalar.


"Apa maksudmu kita sudah sampai?"


Mendengar tuannya bertanya seperti itu, Goobu tidak langsung menjawab. Dia malah menimpali pertanyaan tersebut dengan candaan.


"Apa Tuan tidak mengerti sama sekali, dengan apa yang barusan aku ucapkan. padahal itu sudah jelas lo!"


Yudi mengerutkan kening, dia menggunakan otaknya untuk mencerna apa maksud dari jawaban yang diberikan oleh Goobu.


'Apa kami sudah sampai? Tapi aku sama sekali tidak melihat adanya pintu Gua? Lalu kenapa dia berkata kita sudah sampai?'


Bukannya menemukan jawaban pasti, Yudi malah mendapati banyak pertanyaan muncul dikepalanya saat ini. Jadi akhirnya, dia mengangkat bahu dan wajahnya meringis sebab tidak paham.


"Aku tidak paham apa maksudmu?"


Goobu yang mendengar jawaban jujur dari tuannya, segera mengangguk dan menjawab mantap.


"Kita sudah sampai, di tempat aku menyuruh mereka bersembunyi."


"Oh jadi begitu!"


Saat itu Goobu memandang dengan lembut gundukan batu yang ada di depan mereka. Yudi yang melihat arah tatapan Goobu, segera memahami kalau batu itu adalah tempatnya namun dia masih belum mengerti.


"Lalu mana pintu masuknya, dimana rakyatmu berada?"


Perlahan Goobu menundukan pandangan lalu tangan miliknya mengepal dan bergetar, Hobgoblin itu tidak ingin menjelaskan kebenaran pahit dari mulutnya.


Tenggorokannya seakan kelu untuk menyampaikan hal tersebut, namun dia tidak ingin membohongi tuan yang sudah menganggapnya teman.


"Gundukan batu yang ada di depan kita ini adalah para rakyatku, Tuan!" Ucapnya dengan suara yang diperas.

__ADS_1


__ADS_2