Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Chapter 50


__ADS_3

Yudi mengerti dengan apa yang dirasakan Ivar, saat melihat orang yang paling dikasihi olehmu sembuh dari penyakitnya. Maka sangat mungkin bagi mereka, untuk membayar apa yang menurut mereka setara dengan hal tersebut.


"Jika anda begitu keras meminta seperti itu, aku rasa tidak ada pilihan bagi kami untuk menolak. Bagaimana menurutmu, Yang mulia?" tanya Yudi.


"Aku menyerahkan semua pada dirimu, jika kau setuju menerima bantuan mereka. Maka lakukanlah!" ucap Goobu.


"Jika yang Mulia sudah berkata seperti itu, maka aku sebagai penasehat menyambut anda, kapten Ivar." ucap Yudi menjura hormat.


Kapter Ivar berdiri setelah mendengar jawaban itu, dia begitu senang karena niatnya untuk membantu desa ini bertahan dari Holocaust berhasil.


"Terima kasih sambutannya, aku dan para pengawal akan melindungi wilayah ini sampai Holocaust selesai." ucap Kapten Ivar.


Setelah berbincang sedikit, mereka memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan. Yudi mengantar Ivar ke tempat yang akan di tempati olehnya.


"Di sini kau bisa beristirahat, tempat ini di desain oleh para Tuyul untuk menerima tamu penting." ucap Yudi.


"Aku berterima kasih sekali lagi, karena tuan penasehat sudah berkenan menerima bantuan dariku secara pribadi. Lalu mengantarkan sampai ke tempat ini." ucapnya.


"Anda tidak perlu berlebihan, menyambut tamu dan memberi pelayanan terbaik merupakan tugas tuan rumah. Jadi jangan sungkan, lalu semoga anda bisa beristirahat dengan baik. Semoga tempat sederhana kami bisa membuat anda nyaman." ucap Yudi.


Keduanya mengangguk dan akhirnya berpisah, tujuan Yudi saat ini adalah tempat dirinya mengatur urusan. Ketika sampai di ruangan itu, Rawu sudah ada di dalam menunggu kedatangannya.


"Aku tidak percaya kau menggunakan informasi dariku, untuk membuat semua rencana ini." ujar Rawu.


Yudi tersenyum saat Rawu mengungkit kembali, apa yang telah terjadi sebelumnya. Itu adalah saat dia menyergap desa ini, saat itu dia menjadi musuh di bawah perintah Lagilu.


"Apa kau menyampaikan seluruhnya pada Raja mereka dalam surat yang kau tulis?" tanya Rawu.


"Tentu saja, aku Menjelaskan semuanya. Tapi kau jangan khawatir, identitas dirimu yang merupakan mantan tentara bayaran Guild Perdagangan Budak. Tidak kujelaskan pada mereka, jadi kau bisa aman bertemu dengannya." jawab Yudi.


"Itu kabar yang bagus, semoga kau tidak berbohong." ujar Rawu.


"Oi itu benar, aku menjaminnya atas nama Penasehat desa. Jika mereka berbuat macam macam, maka aku akan melakukan sesuatu." balas Yudi.


"Baiklah, aku percaya selanjutnya apa yang kau rencanakan?" tanya Rawu.


Yudi melangkah lalu duduk di tempatnya, menyusun beberapa dokumen yang dia selesaikan. Kemudian memberi jawaban pada Rawu.

__ADS_1


"Tentu saja bersiap untuk menghadapi Holocaust. Itu adalah ancaman kita selanjutnya, fokus kita tiga hari ke depan adalah menyambut kedatangan bencana itu. Sudah beberapa hari aku tidak Grinding hingga levelku hanya sedikit meningkat." ucap Yudi.


"Hah kau benar, karena terlalu fokus untuk mengatur desa ini. Kita jadi tidak punya waktu Grinding, apa kau ingin menghentikan semua konstruksi agar mereka bisa Grinding?" tanya Rawu


Yudi mengangguk ketika Rawu bertanya seperti itu, metode grinding merupakan momen bagus untuk mempersiapkan mental menghadapi Holocaust.


"Tentu saja, gerbangnya meskipun belum sempurna tapi cukup kokoh selain itu. Ini akan membuat semua orang siap saat bencana itu tiba." jelas Yudi.


"Baiklah, aku mengerti. Apa ada yang bisa kukerjakan?" tanya Rawu.


"Untuk sekarang tidak ada, silakan kau kembali berkumpul dengan yang lain." perintah Yudi.


"Aku mengerti," balas Rawu seraya melenggang dari tempat tersebut.


Ketika Rawu sudah tidak ada Yudi membuka laci meja, di sana terdapat sebuah dokumen yang menjadi agenda dirinya.


Di sampul dokumen itu tertulis sebuah kalimat [Agendaku untuk mereka], isi di dalam dokumen itu adalah rencana yang telah di susun Yudi untuk menghadapi Holocaust.


Saat membuka dokumen itu, Yudi mencoret salah satu baris kalimat. Sudut bibirnya melekuk, lalu dia menatap baris kalimat dibawahnya.


Waktu bukanlah hal penting, Yudi bersumpah akan mengungkap rahasia kerajaan Kutai meski harus menunggu puluhan tahun.


Dirinya begitu sadar diri dan tidak ingin ceroboh lagi. Karena lawan yang akan di hadapi olehnya, berada di level yang sangat tinggi.


Status dirinya saat ini bagaikan debu di mata Raja Mulawarman tujuh dan para pengikutnya, belum lagi fakta kalau kerajaan itu sudah masuk dalam [Mestika Pitu] membuatnya harus mengundurkan waktu untuk memulai gerakan.


"Saat itu aku terlalu berambisi hanya karena bersama dengan teman temanku dan berakhir hampir tewas. Aku tidak ingin itu terulang, saat desa ini mejadi sebuah kerajaan dan memiliki banyak kolega. Saat itu lah aku akan mengarahkan perhatian pada kerajaa Kutai, untuk mengungkapkan rahasia yang selama ini mereka sembunyikan." gumam panjang Yudi mengenang kembali peristiwa penyergapan dari pasukan Sakapitu.


Setelah mengatakan itu Yudi meletakan kembali dokumen yang dia pegang, kemudian mengerjakan kembali laporan yang ada di atas meja.


"Lapor, tuan Penasehat!" seru sebua suara.


Yudi yang sudah tenggelam dalam tugasnya, kini menghentikan pena miliknya yang sedang mengisi sebuah laporan.


"Ada apa?" tanya Yudi


"Maaf jika mengganggu, tapi saat ini anda sedang ditunggu oleh para Tuyul di tempat mereka." ujar Prajurit itu yang berasal dari wangsa Wanara.

__ADS_1


Yudi heran dengan apa yang baru disampaikan oleh prajurit itu. "Ada apa mereka menyuruh diriku ke sana?" gumamnya.


Dia segera menaruh pena miliknya kemudian bangkit dari kursi, lalu melangkah mendekati prajurit tersebut.


"Baiklah, tolong antar jalannya!" ujar Yudi.


ketika di perbatasan wilayah Tuyul, seorang pemandu dari Wangsa Tuyul yang kini membimbing Yudi. Untuk menuju ruang tempat ketua Tuyul berada.


Ketika sampai di tempat para Tuyul bekerja , suara besi dan hawa panas dari penempaan mereka. Membuat Yudi meringis, Mage itu selalu berpikir bagaimana para Tuyul bisa tahan dengan hawa demikian.


"Oh Tuan Penasehat anda sudah datang, kemari ikuti diriku." ucap salah seorang yang tadi sedang menempa sebuah armor besi.


"Baiklah," ucap Yudi.


"Terima kasih sudah menjemput tuan penasehat, silakan kembali ke tempatmu," Perintag Tuyul itu pada rekannya yang tadi menjemput Yudi.


"Baik, kakak." Jawab Tuyul itu seraya melanjutkan pekerjaan dari Tuyul yang menyambut Yudi.


"Namaku Gabo, wakil dari ketua Gabai. Dia meminta anda kemari untuk sesuatu." ucap Gabo.


"Sesuatu seperti apa?" tanya Yudi.


"Mungkin dia ingin kau mencoba sesuatu." Tuan Penasehat. ujar Gabo


"Mencoba apa?" tanya Yudi kembali.


"Kau akan tahu sendiri nanti," jawab Gabo ambigu.


Ketika sampai di depan pintu tempat Gabai sang Ketua dari Wangsa Tuyul berada, Gabo mengetuk pintu itu dengan ketukan yang seperti kode.


"Masuklah, aku ada di dalam!" sahut sebuah suara.


"Kenapa cara mengetukmu seperti itu?" tanya Yudi.


"Itu adalah cara kami membedakan status siapa yang akan menemui ketua. Ini adalah hal yang telah di turunkan dari generasi ke generasi." jawab Gabo.


Terima kasih pada pembaca yang telah mengikuti cerita ini, semoga apa yang author persembahkan tidak membuat kalian bosan.

__ADS_1


__ADS_2