Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Chapter 43


__ADS_3

"Yudi, aku mau tanya." ucap Rawu.


"Iya, kau mau tanya apa." ucap Yudi bingung.


Rawu ingin mempertegas kalau yang ditemui Yudi adalah sosok agung, sebuah legenda mengatakan kalau sosok itu hanya akan mengunjungi seseorang bila berjodoh.


Bahkan ada orang yang Rawu pernah dengar mengatakan kalau sosok itu, hanya menemui seseorang dengan rasio satu banding seratus ribu. Sebuah kesempatan yang sangat langka untuk dihampiri olehnya.


Namun, entah bagaimana keinginan itu dia tahan. Sebab hatinya mendesak, untuk tidak mengungkapkan sosok tersebut.


'Si Raja Goobu pernah mengatakan kalau mengikuti hati nurani itu bagus, untuk sekarang aku ingin mengetesnya. Kali ini aku tidak akan menjelaskan, kalau sosok yang ditemuinya adalah Ki Semar. Sosok yang menjadi harapan bagi para orang yang mengejar Kewaskitaan.' batinnya.


Akhirnya, dia mempelesetkan pertanyaan. "Apa saja yang kau siapkan untuk rapat nanti." tanyanya.


Saat menerima pertanyaan itu, Yudi menaruh kembali benda yang diberikan oleh Ki Semar padanya. Rawu tampak tidak perduli, namun hatinya meraung untuk mengidentifikasi apa yang telah diberikan Ki Semar pada Yudi.


'Aku ingin sekali mengetahui statistik dari pemberian orang itu, tapi akan tidak sopan rasanya. Jika aku yang baru datang, kemudian menyuruhnya memainkan game aneh. Lalu mendadak ingin memeriksa statistik benda itu.' batin Rawu.


"Ah aku sedang menyiapkan peraturan yang harus ditaati oleh seluruh penduduk di desa ini. Bisa dibilang ini adalah aturan dasar yang harus di jadikan Ideologi desa ini." jawab Yudi.


"Kau memikirkannya sampai situ, tempat ini masih berstatus desa. Kalau kau memberikan hal seperti itu, bukankah akan tampak kalau kau ingin mengekang mereka. Itu akan sangat berpengaruh bagi mereka yang biasa hidup bebas." ucap Rawu.


"Aku tentu mengerti itu, hal yang kau ucapkan juga sudah masuk dalam pertimbanganku. Karena itu, aturan dasar ini tidak begitu ketat, hanya berisi 5 poin penting dan aku sudah menamainya." balas Yudi.


Rawu mengangguk ketika mendengar balasan Yudi, lalu dia kembali merespon. "Begitu ya, lalu apa nama dari poin yang kau buat itu." tanyanya penasaran.


"Hal ini akan kuungkap di rapat nanti, jadi bersabarlah." ucap Yudi


"Cih dasar pelit, tapi baiklah aku akan menunggu untuk tahu lebih jelas apa poin yang kau buat itu." ucap Rawu.

__ADS_1


Lalu dia pun menambahkan, "oh iya, mari kita pergi ke tempat rapat besarnya. Orang orang begitu antusias untuk menyambut dirimu." ucapnya.


Yudi tidak mengerti dengan yang di sampaikan Rawu, perasaan aku baru saja kembali pikirnya. Jadi dia sama sekali belum berinteraksi dengan yang lain.


"Apa maksudmu, aku sama sekali belum berinteraksi dengan mereka. Aku saja baru mengetahui tentang Wangsa Kunti, Wangsa Tuyul, dan Wangsa wanara kemarin. Jadi mana mungkin aku begitu populer." ucap Yudi.


"Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa mengagumimu. Mungkin Raja Goobu bisa memberikan jawaban yang memuaskan." balas Rawu.


Yudi mendesah ketika sang Asasssin memberi jawaban seperti itu.


'Hah si Goobu itu ternyata tidak hanya mampu memikat para Goblin, tapi seluruh Wangsa bisa dia ayomi. Tapi kenapa dia malah membuatku mendadak populer begini.' batinnya.


"Terserahlah, ayo kita ke sana." ucapnya


"Yup, mari kita berangkat." balas Rawu.


Terdapat beberapa kursi yang ditempatkan melingkar. Ditengahnya terdapat sebuah meja bundar, kursi tersebut sudah terisi oleh beberapa orang. Mereka adalah perwakilan dari Wangsa Kunti, Wangsa Tuyul, Wangsa Buto dan Wangsa Wanara.


"Tuan Raja, apa perwakilan manusia juga belum hadir dan dimana sang Penasehat utama kita." ucap Wakil dari Wangsa Kunti.


"Sikap sok disiplin dirimu itu sebaiknya di kurangi, ingatlah ini bukan wilayah kekuasaanmu. Jadi hormatilah budaya tempat yang kau tinggali sekarang." sindir perwakilan Tuyul.


Mendengar sindiran yang dilayangkan musuh bebuyutan dari zaman leluhur nya. Perwakilan dari Wangsa Kunti membalas.


"Hei aku hanya bertanya bukan bermaksud menyinggung keterlambatan sang Penasehat. Kenapa kau sangat sewot sekali, Wangsa Cebol."


"Hah, perhatikan biacaramu, Wangsa Pucat. Ucapan yang baru kau lontarkan itu memperjelas, kalau kau menyinggung sang Penasehat bukankah begitu. Perwakilan Wangsa Wanara." ucap Ketua Tuyul.


"Aku tidak mau ikutan dengan keributan anak kecil yang menjadi tradisi kalian, sebaiknya kalian diam dan jangan berisik." ucap Ketua Wanara.

__ADS_1


Perdebatan kecil terus terjadi Wangsa Kunti menyergah Wangsa Tuyul yang menyindir mereka dan Wangsa Wanara tampak tidak peduli sama sekali. Sedangkan Wangsa Buto, hanya meneteskan keringat di pelipis menyaksikan interaksi itu.


Meskipun tubuh mereka besar dan tampak menyeramkan, tapi sebenarnya Wangsa Buto tidak suka dengan konflik. Mereka paling benci yang namanya berpikir, karena itu bisa membuat kepala mereka mengepul.


Namun mereka menyukai kerja fisik, asalkan perut mereka terisi penuh. Maka dengan senang hati mereka akan mengerjakan apapun, selama itu adalah pekerjaan kasar. Namun bila itu menyangkut masalah yang membutuhkan pikiran untuk menyelesaikannya.


Dengan senang hati juga mereka akan menolak, itu karena mereka tidak suka berpikir. Bukan tidak suka hanya saja mereka lebih senang mengerjakan sesuatu dengan simpel menurut mereka.


Jadi mereka sama sekali tidak ingin ikut campur, urusan ketiga wangsa yang adu mulut ringan di tempat Rapat ini. Lalu dua orang yang ditunggu oleh mereka akhirnya tiba.


"Sepertinya ada hal menarik yang sedang dibahas, apa aku boleh mengetahuinya." tanya Yudi.


"Ketua Wangsa Pucat, mengatakan kalau dia bosan menunggumu, Tuan penasehat. Sungguh tidak sopan bukan sikapnya itu." Ceplos ketua Tuyul.


"Hei aku tidak mengatakan itu, kau jangan mengada ada dasar Wangsa Cebol." sergahnya.


"Aku juga menjadi saksi kalau kalian itu, membuat keributan tapi hal tersebut bagus untuk mengusir kebosanan." sambung Ketua Wanara.


"Kami bukan badut penghibur." sergah keduanya.


Goobu yang dari tadi menahan tawa segera menginterupsi, sebab orang yang meminta rapat ini sudah hadir. Rawu juga menuju tempat yang di sediakan baginya.


"Baiklah, bisakah selesaikan permasalahan kalian nanti, sekarang waktu nya untuk memulai pertemuan. Yudi, aku rasa kau sudah tahu apa yang mereka bahas bukan." ucap Goobu.


Yudi tertawa saat mendengar interupsi Goobu, meski dia tidak mendapatkan jawaban pasti. Tapi melalui adu mulut Wangsa Kunti dan Tuyul serta sikap Wangsa Wanara yang kesannya ketus, lalu Buta Cakil yang diam saja. Membuatnya mengambil sebua kesimpulan.


'Kuharap mereka mau menerima apa yang akan kusampaikan. Terutama wangsa Kunti dan Tuyul, mereka memang seperti yang dijelaskan Rawu. Kupikir hanya sebatas kemampuan saja, ternyata masalah sepele juga bisa mereka olah menjadi sedemikan besar.' batinnya.


"Aku mengerti," jawab Yudi.

__ADS_1


"Semuanya, terima kasih telah menyempatkan diri untuk hadir di tempat ini. Aku sangat menghargai niat baik kalian yang ingin menciptakan tempat, yang di masa depan kita akan bangga mengatakan 'inilah Rumah tempat aku bernaung, yang melindungi tidak hanya diriku, tapi seluruh keluargaku dari ancaman Holocaust.' Untuk itu aku mengharapkan pada kalian yang hadir di sini, untuk bisa mencurahkan apa yang menurut kalian layak dimiliki oleh sebuah rumah. Dengan ini, rapat pembentukan Ideologi secara resmi aku mulai." ucapnya.


Banyak reaksi yang terlukis di wajah mereka, ketika mendegar apa yang disampaikan Yudi. Mereka terpesona dengan pilihan kata yang diucapkan oleh calon penasehat tersebut.


__ADS_2