Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Rehat Sejenak 4


__ADS_3

"Apapun itu, semoga Sang Hyang Padawenang memberi kita kekuatan untuk melawan dua bencana lainnya." Ucap Ki Semar.


"Semoga menjadi kenyataan, tapi tetap saja. Kalabendhu ini belum ada satupun dari Wangsa yang mampu melawannya. Dan kita hampir melihat wujud sesungguhnya dari bencana ini, andai saja saat itu Mahaprabu Sri Maha Punggung Penguasa Kerajaan [Sepuh] Medang Kamulan tidak tumbang. Peristiwa itu terjadi 700 tahun yang lalu." Balas Shadow.


Ki Semar anggukkan kepala saat mendengar keluhan Shadow, karena semua yang diucapkan bawahannya itu benar. Hanya Mahaprabu kerajaan Medang Kamulan saja, yang mampu membuat Kalabendhu memusatkan semua kekuatannya pada kerajaan tersebut.


"Itu wajar, karena saat itu dia adalah titisan sang Hyang Sadono. Lagipula, Ratunya saat itu adalah Titisan Dewi Sri. Namun itu belum cukup sebab pemegang kekuasaan Tribuana saja, hanya mampu menyegel setengah kegelapan yang dimiliki Kalabendhu. Lalu ia pun Moksa dan meninggalkan tahtanya dalam keadaan suwung. Para Penyair Kahyangan pun memberikan Dia gelar Sang Hyang Nilakantha [Dewa Berleher biru]!" Ucap Ki Semar.


Shadow bisa merasakan kalau ucapan Ki Semar itu bercampur rasa gelisah. Sebab mengingat kembali kejadian itu, bawahannya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Kembali ke pertanyaanku sebelumnya, bagaimana masa depan Yudi? Anda bilang mencemaskan masa depan Mage muda itu? Memangnya kenapa?" Tanya Shadow.


"Mata milikku merupakan pemberian langsung Ayahku yang mampu melihat masa depan seseorang. Namun yang membuat diriku cemas, aku tidak bisa melihat masa depan dari Yudi seberapa keras aku mencoba. Itulah yang menambah ketertarikan diriku padanya!" Jawab Ki Semar.

__ADS_1


"Hah! Bagaimana bisa? Bukankah harusnya Skill [Future Vision] milik anda bisa melihat semua masa depan dari makhluk yang anda ingin lihat?" Tanya Shadow.


"Tidak ada Skill yang sempurna! Itulah hal yang aku dapatkan dari Ayahku sebelum memberikan jabatan sebagai penguasa Mayapada ini bersama adikku. Sepertinya itu benar, buktinya skill milikku tidak bisa melihat masa depan Yudi itu." Jawab Ki Semar.


"Tapi aku sama sekali tidak merasa ada yang spesial dari Yudi? Kenapa Skill milik Gusti yang jarang melesat menunjukkan masa depan seseorang tidak bisa mengintip masa depannya!" Ucap Shadow.


"Dari peristiwa ini kita bisa menarik kesimpulan kalau penampilan kadang bisa menipu. Kita sudahi topik pembicaraan tentangnya, lalu tolong jaga anak itu, kau mengerti?"


Shadow menjura di hadapan Ki Semar dan menjawab.


Saat dia menatap ke tempat Ki Semar lagi, sosok itu sudah lenyap dari pandangan.


"Terima kasih sudah datang, Tuan Ismaya!" Gumam Shadow yang langsung pergi meninggalkan jejak debu beterbangan.

__ADS_1


...[Kamp Tempat perawatan]...


"Di sini butuh beberapa perban!" Teriak salah seorang perawat.


"Segera datang!" Ucap yang lainnya.


"Butuh obat untuk menghentikan pendarahan!" Teriak yang lainnya.


"Kita tidak memiliki hal itu, untungnya beberapa ramuan yang memiliki manfaat serupa sudah dibuat!" Jawab rekannya dengan membawa botol berisi ramuan yang dibuat dengan beberapa tumbuhan herbal.


Suara-suara seperti itu terjadi di sini, demi menyelamatkan sebanyak mungkin orang. Berjarak seratus kaki dari tempat tersebut.


Terdapat satu Tenda dimana suara besi tidak pernah berhenti. Terdapat banyak sekali barang barang rusak atau Item drop yang dikumpulkan warga untuk diolah kembali oleh Wangsa Tuyul.

__ADS_1


"Mereka sudah berjuang tiga hari untuk melindungi rumah, sekarang adalah saat bagi kita berjuang agar persenjataan ini siap digunakan untuk melawan Kalabendhu selanjutnya!" Seru Gabai sang pimpinan Tuyul dengan mengempalkan tanhan dan mengangkatnya.


"Siap Ketua!" Balas yang mendengar.


__ADS_2