Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Rapat Yang Salah Kaprah


__ADS_3

"Aku ucapkan terima kasih, karena kalian sudah ada di sini. Seperti yang kalian tahu, waktu bagi Kalabendhu akan tiba sekitar dua hari lagi dari sekarang. Tidak ada banyak waktu untuk kita semua menyiapkan strategi, namun aku yakin kekuatan kita saat ini bisa untuk bertahan dari Kalabendhu itu nantinya. Tapi aku ingin mendengar saran dari kalian semua, jika ada yang memiliki pendapat kuperkenankan untuk mengajukannya." ucap Yudi saat memulai rapat persiapan untuk menghadapi Kalabendhu yang akan datang dua hari lagi.


Rawu tiba-tiba mengangkat tangannya untuk mengajukan pendapat, "aku rasa kita harus membuat beberapa tembok dari dinding sederhana, memang tidak terlalu efektif tapi hal itu akan berguna untuk memperlambat musuh dalam pertempuran skala besar. Bahkan hal kecil itu akan menentukan hasil akhir pertempuran."


Semua yang mendengar melirik ke arah Rawu, bukannya mereka tidak senang dengan pemikiran yang di sampaikan oleh pemimpin manusia itu.


Pemimpin wangsa Tuyul yaitu Gabai angkat bicara, menyambut penjelasan yang baru disampaikan oleh Rawu.


"Aku setuju dengan apa yang baru dijelaskan oleh pimpinan manusia ini, memang seperti yang dikatakannya. Tembok sederhana itu tidak mungkin membantu, mempertahankan atau memperbesar rasio kemenangan kita dalam menghadapi Kalabendhu. Apalagi biasanya Kalabendhu berlangsung selama satu sampai tiga hari, jika dalam situasi terburuk."


"Keberadaan dinding itu akan membuat formasi mereka berantakan dan tidak teratur, kondisi ini bisa kita manfaatkan dengan menyerang mereka yang terpisah, karena makhluk yang muncul dari Kalabendhu itu sangat lemah."


"Namun jumlah mereka yang seakan tidak ada habisnya, yang akan membuat kita kewalahan. Ditambah kita juga kekurangan orang." ucapnya.


Lalu pemimpin bangsa kunti Widura pun menambahkan.


"Tidak biasanya bangsa Tuyul bisa menyampaikan pendapat pribadinya dengan gamblang seperti tadi," ucapnya.


"Hoi! kita sedang serius membahas ini, apa kau ingin berkelahi bangsa kulit pucat," ucap Gabai


"Tenangkan dirimu bangsa Cebol! Aku hanya bercanda, yang sebenarnya ingin kusampaikan adalah gagasan yang disampaikan oleh kalian berdua. Sangat memungkinkan untuk membuat kita bertahan dari Kalabendhu ini, namun apakah kalian tidak mempertimbangkan akan munculnya monster yang lebih besar daripada zombie-zombie itu."

__ADS_1


"Jika musuhnya para zombie kita bisa menghadapi, tapi saat gelombang sebelumnya. Kami menghadapi makhluk yang ukurannya kira-kira dua sampai tiga meter, jika strategi yang telah disampaikan oleh pemimpin manusia itu kita gunakan. Apakah itu bisa menahan monster yang berukuran 2 sampai 3 meter itu?" ucapnya panjang lebar.


Mendengar penjelasan itu Rawu langsung berdiri dan menyampaikan bantahan, atas apa yang baru saja diucapkan Pemimpin Kunti Widura.


"Aku kan sudah bilang ini hanya sebagai bentuk penahan sementara, bukan sebagai penahan utama kita. Lagi pula yang kuharapkan adalah kita memiliki sebuah sistem pertahanan, seperti rajah yang biasa digunakan oleh kerajaan-kerajaan besar."


Namun aku akui tempat kita saat ini belum bisa untuk menggunakannya, sanggah Rawu.


"Kalau masalah itu tidak perlu khawatir, tiga orang kami sudah berhasil menciptakan sebuah rajah perlindungan sederhana. Yang bisa membuat tempat atau jika aku harus meminjam kata yang digunakan oleh penasihat kita yaitu rumah kita ini, bisa bertahan dari Kalabendhu tersebut dan saat ini aku ingin meminta izin kepada Raja Goobu."


"Agar kami bisa memasang rajah perlindungan ini ke seluruh wilayah kekuasaannya," ucap Widura.


Semua yang hadir takjub ketika mendengar apa yang baru diucapkan oleh pemimpin kunti itu, mereka tidak menyangka jika wangsa kunti sudah membuat rajah perlindungan untuk rumah mereka.


"Akan ku jelaskan, rajah perlindungan yang kami buat bernama rajah kiblat papat, dimana masing-masing arah empat penjuru mata angin. Akan ditanam sebuah artefak yang sudah kami buat saling terhubung satu sama lain, sehingga nantinya akan membentuk sebuah perisai berbentuk persegi yang melindungi wilayah kita. Namun yang menjadi masalah adalah menentukan titik pancernya," jelas Widura.


Semua terdiam ketika mendengar apa yang diucapkan oleh pemimpin kunti itu.


"Titik pusatnya? apa maksudmu?" tanya Goobu.


"Begini Baginda, artefak itu memang secara otomatis akan saling menghubungkan satu sama lain untuk melindungi. Namun diperlukan satu titik pusat agar kekuatan mereka bisa diaktifkan, karena itu rajah ini juga dinamakan rajah kiblat papat limo pancer. Di mana titik kelima adalah titik pusatnya yang akan mengaktifkan keempat titik yang menjadi kiblatnya."

__ADS_1


"Hal ini didasarkan pada ajaran adi luhung leluhur kita di benua jawa, yang tertulis dalam Kakawin terdahulu tentang sebuah pengetahuan langka yang disebut sedulur papat limo pancer. Dari situ kami bangsa kunti meneliti bagaimana cara meniru konsep tersebut, sehingga bisa dijadikan sebuah rajah."


"Beruntungnya baginda memberikan kami keleluasaan, untuk mengembangkan apa yang menjadi minat kami." ucapnya


Hal itu dilakukan oleh Goobu setelah menerima saran dari penasihat utamanya yaitu Yudi, bahwasanya setiap wangsa yang ada di wilayah ini. Harus diberikan kebebasan untuk melakukan segala aktifitas, sesuai dengan apa yang biasa wangsa itu lakukan setiap harinya.


Tanpa ada yang mengganggu aktivitas bangsa lain, lalu diberikan satu syarat bahwasannya mereka harus memberikan kontribusi pada wilayah kekuasaan. Lalu Widura melanjutkan ucapannya.


"Aku mendengar kalau pemimpin Tuyul, memberikan baginda dan juga panglima perang kita baju Zirah untuk menghadapi gelombang yang sebentar lagi tiba. Bagi kami para Kunti yang terfokus pada sihir, inilah yang dapat kami persembahkan sebagai salah satu pemenuhan syarat yang diberikan oleh sang raja. Untuk memberikan kontribusi pada wilayah kekuasaan, karena itu terimalah apa yang telah kami ciptakan ini atas nama para saudaraku," ucap pemimpin Kunti seraya membungkuk diikuti oleh para pengikutnya.


"Pemimpin Tuyul ternyata bergerak lebih cepat, jika mereka memberikan Zirah. Lalu Pemimpin Kunti memberikan rajah perlindungan, maka kami dari wangsa Buta akan mempersembahkan raga dan kekuatan kami untuk melindungi tempat ini," ucap Buta Cakil di ikuti saran dari para pengikutnya.


"Wangsa Tuyul, Wangsa Kunti dan Wangsa Buta, telah mengambil tindakan. Akan sangat memalukan bagi wangsa manusia, jika tidak menyebutkan apa kontribusinya. Kami juga akan mempersembahkan jiwa, raga, serta pikiran untuk melindungi rumah kita ini. Benarkan kawan-kawan," ucap Rawu memprovokasi kawan-kawannya.


"Benar!" teriak para manusia setelah mendengar seruan Rawu.


"Aku sebagai panglima kerajaan, menyatakan akan mengerahkan segenap kekuatan untuk melindungi rumah dan keselamatan sang Raja dan semua yang ada di bawah perlindungannya." ucap Goruru.


Sementara suasana di tempat itu penuh dengan aura positif dan semangat untuk melindungi rumah dari Kalabendhu, Yudi sebagai penasihat utama desa Amarta hanya bisa memijit kening. Karena topik pembicaraan nya malah melenceng menjadi acara pernyataan 'apa yang akan diberikan untuk melindungi tempat ini, dari masing-masing wangsa.'


Bukannya fokus untuk membuat strategi atau formasi, agar bisa bertahan dari Kalabendhu. Memang di awal pembicaraan nampak mengalir dan terkontrol, dengan gagasan Rawu yang ingin agar menciptakan penghalang sederhana dari kayu supaya formasi musuh berantakan.

__ADS_1


Lalu masukkan lain agar bisa menghajar mereka, namun semua berubah menjadi pernyataan apa yang akan diberikan oleh masing-masing bangsa untuk kerajaan.


"Pada akhirnya, tidak mungkin untuk menebak jalannya sebuah roda yang disebut kehidupan." gumam Yudi.


__ADS_2