Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Seruan


__ADS_3

"Semuanya, aku tahu kita semua sedang berduka karena kehilangan orang penting bagi kita. Namun kita tidak boleh terus terpuruk dengan keadaan ini. Saat ini Kekacauan sedang berdiri di depan rumah kita dan dengan sombongnya mengirimkan 10.000 Undead untuk melenyapkan rumah kita. Sebagian besar memang salahku karena berani menantangnya sehingga kejadian ini terjadi. Namun itu juga bukti sebesar apa keyakinanku terhadap kekuatan kalian."


Ucap Yudi menjelaskan tentang ucapan yang menentang kekacauan sebelum Kalabendhu di mulai. Wajah para penduduk Amarta untuk sesaat terdiam, memproses apa yang baru di sampaikan oleh Penasehat Desa.


Kemudian ada Goblin yang memiliki nalar di atas rata-rata, dia mengerti dengan jelas arti dari apa yang baru saja di ucapkan oleh Yudi.


"Kalau begitu, Aku Goruru sebagai perwakilan para Goblin bersedia maju untuk melawan Undead itu. Mari kita buktikan betapa besar kesalahan dari kekacauan karena telah mengganggu ketenangan Desa ini!" Teriaknya.


Ras Buto yang mendengar teriakkan itu kemudian tersulut semangat, mereka merasa ada sesuatu yang mecubit hati kecilnya. Karenanya Buto Cakil pun berkata lantang.


"Demikian juga kami, Wangsa Buto! Diwakili olehku, kami bersedia maju untuk melawan para Undead itu!" Teriaknya.


"Heh, jangan lupakan kami!" Tambah Reka!


"Tentu saja kami akan ikut, Desa ini adalah rumah kedua bagi kami. Tidak akan kubiarkan mereka menghancurkannya." Seru Asuman.

__ADS_1


"Meskipun kami tidak bisa bertarung, sepertinya kita harus turun laga untuk membuktikan kekuatan Wangsa Tuyul." Seru Gabai.


"Yang mulia! Itu artinya-"


"Benar! Sudah saatnya kita tunjukkan kebanggaan kita sebagai wangsa Tuyul."


Seruan Gabai itu di sambut gemuruh rakyatnya.


"Jika wangsa Cebol sudah bersemangat untuk turun laga, maka tidak ada alasan bagi kami untuk berdiam diri. Kami juga akan turun!" Teriak Widura!


"Jika kami mundur sekarang maka kehormatan kita sebagai Knight akan buruk, karena itu kami juga akan ikut bertempur hingga tetes darah penghabisan!" Teriaknya.


Para pasukannya pun menjawab dengan semangat. Sementara itu Yudi yang tahu kalau dia akan menggiring mereka pada kematian dalam hati menangis.


Mage muda itu sadar dengan keputusannya, namun menunjukkan hal menyedihkan seperti itu di saat orang-orang yang percaya padanya sedang bersemangat akan membuat mental mereka jatuh lagi.

__ADS_1


Karena itu dia pun berusaha agar nampak setegar mungkin meskipun dalam hati dia menangis karena dosa yang akan dia tanggung begitu besar.


Dengan dalih melindungi desa Amarta yang sudah dianggap rumah, Yudi memaksa mereka yang baru saja bertarung dengan Kalabendhu.


Kini harus kembali mengangkat senjata untuk melawan pasukan tambahan, ini adalah hal yang pertama terjadi. Bahkan para Kunti yang memiliki umur panjang saja, jarang menemukan kejadian ini.


Mungkin mereka yang lupa atau kejadian itu tidak tercatat oleh korban yang selamat saat itu. Apapun alasannya, yang pasti 10.000 Undead di depan sana sedang menanti mereka.


"Tinggal 1 jam lagi sebelum mereka menyerang, karena itu mari kita membentuk formasi untuk menghadapi mereka." Ucap Yudi.


Semuanya menyiapkan diri mereka kembali, kemudian berkumpul untuk membentuk formasi. Para wanita dan anak-anak akan berlindung di tempat aman.


Widura kemudian mengaktifkan Rajah Pelindung agar para Undead tidak menyentuh desa Amarta. Wajah Pemimpin Kunti itu tersenyum puas saat melihat berapa lama Rajah yang dimodifikasi itu akan bertahan.


"Rajah yang seharusnya bertahan 9 hari, dengan menggunakan konsep Pancasila milik Penasehat Desa. Kini meningkat sebesar 5 kali lipat. Jika kami berhasil selamat dari ini. Aku akan mengembangkan agar bisa menyerang, namun jika kami gagal. Paling tidak makhluk-makhluk itu tidak akan menyentuh mereka." Batin Widura.

__ADS_1


__ADS_2