
Ada sepuluh tingkat kelangkaan sebuah item yang jika diurutkan akan seperti ini
Tingkat Keramik
Tingkat Obsidian
Tingkat Baja
Tingkat Zamrud
Tingkt Saphire
Tingkat Ruby
Tingkat Bronze
Tingkat Silver
Tingkat Gold
Tingkat Platinum
Urutan itu berdasarkan dari tingkat kelangkaan yang terendah hingga yang paling langka yaitu Platinum. Umumnya Tingkat Gold sampai Bronze itu disebut berkah dari dewa.
Sedangkan tingkat Platinum adalah pemberian langsung dari dewa yang bersangkutan. Jadi Yudi tidak bisa membayangkan betapa hebat pusaka milik Prabu Ken Arok.
"Apakah Prabu ken Arok berhasil menciptakan sesuatu dari Bijih Besi tingkat Platinum itu?" tanya Yudi
Gabai mengangguk dan melanjutkan lagi ceritanya. "Tentu saja, sangat sulit. Pada saat itu, Seorang Mpu dari Ras Dwarf dan Tuyul dipercayai untuk menempa bijih tersebut."
"Mpu Duran adalah nama dari Mpu wangsa Dwarf dan Mpu Gandring adalah nama dari Mpu Wangsa kami, para Tuyul." Jelasnya
"Kelas yang berhubungan dengan menempa sebuah senjata dan Armor, itu adalah Bekel sebagai Junior sedangkan Mpu adalah Seniornya."
__ADS_1
"Keduanya sama sama terspesialisasi dalam menempa senjata dan barang lainnya. Namun kelas Mpu memiliki kekuatan lain, mereka mampu memberikan Khodam pada sebuah senjata."
"Khodam sendiri merupakan sebuah entitas yang memiliki kekuatan besar, biasanya diambil dari sebuah tempat misterius yang kurang di jamah oleh manusia."
"Mpu Duran dan Mpu Gandring menggabungkan kekuatan, untuk mulai mengerjakan permintaan dari Prabu Ken Arok. Ketika sudah mendekati tahap penyepuhan, kedua Mpu itu mendapatkan sebuah Wangsit berbeda beserta Aji untuk menempanya. Agar spesifikasi sesuai yang diinginkan oleh sang Penempa."
"Mpu Duran mendapat wangsit kalau benda itu harus memiliki spesifikasi bisa digunakan oleh siapapun, dengan syarat level mereka mencukupi serta Strength dan Vitality mereka memadai."
"Sedangkan Mpu Gandring mendapat wangsit kalau benda itu, harus memiliki spesifikasi kalau hanya bisa digunakan oleh seorang Prabu dengan mengabaikan level dan status pengguna."
"Keduanya pun cekcok dan terjadi silang pendapat, awalnya hanya mereka berdua namun lama kelamaan terus berkepanjangan. Hingga mereka lupa untuk menyelesaikan pesanan sang Prabu Ken Arok."
"Ketika itu terjadi Pertarungan hebat antara Mpu Gandring dan Mpu Duran. Seluruh wilayah tempat keduanya bekerja luluh lantak, akibat adu kekuatan yang mereka lakukan."
"Lalu sekelebat datanglah sang Prabu menghalangi keduanya, yang mau melakukan tusukan pada titik vital masing masing lawannya. Mereka menurunkan sikap dan menjura hormat pada Prabu Ken Arok."
"Saat itu, Prabu Ken Arok mendengarkan penjelasan dari keduanya, lalu memutuskan kalau memilih Wangsit yang di dapatkan oleh Mpu Gandring. Sebab ternyata sang Raja tidak ingin Pusaka itu jatuh ke tangan orang lain. Dengan semangat sang Mpu melakukan penyepuhan pada pusaka tersebut yang memiliki bentuk luk tiga belas."
Saat menjelaskan cerita sampai sini, wajah Gabai tiba-tiba sedih, Yudi mengerti dengan apa yang baru dialami Gabai berkat air mukanya yang berubah. Yudi mencoba untuk tidak membuat ketua Wangsa Tuyul itu melanjutkan ceritanya.
"Tolong dengarkan sampai selesai, kau mau kan?" ucap Gabai.
Yudi mempertimbangkan jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan yang diajukan oleh Gabai. "Baiklah, kalau begitu teruskan!" perintahnya.
Gabai mengangguk dan mulai menyampaikan cerita kembali.
"Terima kasih pengertian dirimu, aku memintamu mendengarkan sampai tuntas agar tidak ada lagi kejanggalan. Kau bisa mempercayai atau tidak terserah padamu."
"Ketika pusaka itu sedang dilakukan penyepuhan, supaya bisa menampung khodam apa yang cocok. Tanpa di duga sebuah entitas jahat memasuki keris tersebut, membuat Keris buatan tangan itu disebut keris pembunuh keturunan Prabu Ken Arok."
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Yudi
"Bukankah sudah kubilang kalau dua Mpu itu, mendapatkan wangsit bahwa senjata tersebut harus memiliki sebuah spesifikasi."
__ADS_1
"Prabu Ken Arok memilih wangsit yang di dapatkan Mpu Gandring, bahwa keris tersebut hanya bisa digunakan oleh sang Raja atau anak keturunannya."
"Namun seperti yang sebelumya pernah kukatakan, sebuah entitas gelap tiba tiba menghuni benda itu. Hal ini baru di sadari oleh Mpu Gandring, ketika dia hendak melakukan penyepuhan akhir agar senjata itu benar benar bisa bekerja dengan aman."
"Tapi Prabu Ken Arok tidak sabaran dan berprasangka, kalau sang Mpu berencana untuk memiliki senjata tersebut. Padahal tujuannya, agar keris bisa siap digunakan dan tidak memiliki pengaruh negatif"
"Mpu Gandring sudah menjelaskan yang sebenarnya, namun sang Raja menolak semua ucapannya. Bahkan Prabu Ken Arok mengatakan bahwa Mpu Gandring memanfaatkan keadaan, untuk memiliki pusaka tersebut setelah jadi. Tidak terima direndahkan, leluhurku bertarung demi kehormatan yang telah dilecehkan oleh Prabu Ken Arok."
"Pertarungan itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam, membuat area tempat mereka mengadu kekuatan kehilangan bentuk dan coraknya."
"Karena sebagian tenaga Mpu Gandring sudah terkuras, sebab ingin menyempurnakan keris pusaka tersebut. Akhirnya, dia lengah lalu terkena serangan beruntun milik Prabu Ken Arok."
Yudi tidak melewatkan satupun kata ataupun huruf, ketika Gabai asyik menceritakan tentang Wangsa dirinya. Huruf dan kata itu dia rangkai dan sambung dan modifikasi agar enak di baca dan di dengar.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Yudi
"Tentu saja Prabu Ken Arok menghabisi Mpu Gandring, keris itu yang harusnya dimandikan kembang telon untuk mengukuhkan kekuatan dan kesuciannya. Malah bermandikan darah dari sang pembuat"
"Sang Prabu bahkan mengatakan kata-kata sindirian pada leluhurku, kemudian secara tidak terduga. Tubuh Mpu Gandring bercahaya putih dan mulutnya mengeluarkan sebuah kutukan yang bunyinya."
"Kebaikan hati seorang Mpu kau balas dengan pembunuhan. Hai Raja Lalim! Kelak dirimu dan tujuh keturunanmu akan meregang nyawa karena senjata itu. itulah cerita dari leluhurku juga sejarah kerajaan Singosari."
Yudi kini menganggukan kepala saat Gabai sudah selesai, menceritakan sejarah leluhurnya dan kerajaan yang dulu dikenal sebagai kerajaan terkutuk.
Itu karena kutukan yang dilontarkan Mpu Gandring menjadi kenyataan, setiap keturunan dari Prabu Ken Arok pasti meninggal. Mereka meninggal juga dikarenakan pengkhianatan oleh saudara kerajaan, yang dipenuhi oleh ambisi untuk duduk dikursi Raja.
Dan senjata untuk menghabisi keturunan prabu Ken Arok, tentu saja keris yang dulu direbut dan belum sempat di netralkan auranya.
Lalu benda pusaka tersebut di dunia ini di kenal dengan sebutan [Pusaka Gelap Keris Mpu Gandring]. siapapun yang memegangnya akan selalu mengalami kesialan dan kemalangan.
"Wah aku tidak menyangka banyak sekali kisah yang ada di benua ini, oh iya Gabai terima kasih banyak kau telah menceritakan semuanya kepadaku. Aku sangat terbantu." ucap Yudi seraya menulis kata terakhir dan menutupnya kemudian menaruhnya kebali di kantung belakangnya.
"Lalu tolong diperjelas, untuk apa aku dipanggil kemari?" tanya Yudi.
__ADS_1
Terima Kasih sudah menunggu kisah ini berlanjut, mendukung dan memvotenya. semoga kalian baik-baik saja.