Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Rehat 7


__ADS_3

"Kau ada benarnya juga sih, tapi kenapa aku merasa kalau sosok itu memiliki aura yang sama dengan kita namun lebih halus." Ucap Buta Cakil.


Mendengar ucapan tersebut, makanan yang hampir masuk ke dalam mulut Buta Aliwung langsung jatuh karena terkejut.


"Ketua! Bercandamu tidak baik, Evolusi Wangsa kita itu membutuhkan waktu beberapa tahun. Itu juga harus di dukung oleh Item-item tertentu yang dipersembahkan pada Dewi Durga. Serta syarat levelnya harus berada di level 200. Jadi mustahil, jika ada sosok evolusi kita saat ini." Jawab Buta Aliwung.


"Aku juga memahami apa yang kau jelaskan, apalagi Ayahku yang merupakan Raja Buta Sebelumnya berkata. Kalau saat ini hanya sedikit para Buta Evolusi ke Denawa yang selamat setelah Peristiwa Pagebluk Agung 500 tahun lalu."


Di masa yang lalu Evolusi tertinggi Wangsa Buto ada banyak sekali. Mereka menyamai para Asura dalam hal kekuatan, namun kalah dalam kecerdasan.


Pada masa itu, Wangsa mereka mempunyai Kerajaan Agung yang dipimpin oleh seorang Gandharwa yang sangat gagah perkasa dan di segani.


Saat itu hanya ada Dua kerajaan Agung, dua kerajaan itu pun di sebut sebagai [Dwi Vajra Askara]. sebab hanya dua kerajaan itulah yang pertama berdiri bersama di benua Jawadwipa.

__ADS_1


"Kalau begitu, lupakan saja apa yang kau pikirkan. Sebab hanya akan menambah beban, selain itu kita juga harus menerima fakta bahwa amat sulit bagi Wangsa kita melakukan evolusi." ucap Buta Aliwung.


"Kurasa kau benar, Buta Aliwung! Aku terlalu terbawa suasana, hingga memikirkannya terlalu dalam. Bagaimana dengan kondisi rekan kita?" Tanya Buta Cakil.


"Semuanya terkendali, para rekan kita sudah banyak yang pulih dan sedang bersantap ria. Dalam Kalabendhu ini, jumlah korban tewas yang paling parah adalah para Goblin." Ucap Buta Aliwung.


Mendengar kabar tersebut hati Buto Cakil lega, sebab dia bertanggung jawab atas keselamatan seluruh kelompoknya.


Namun dia terkejut, saat kabar kalau korban terbanyak berasal dari Wangsa Goblin. Mendadak hatinya dihampiri rasa khawatir.


"Raja Goobu hanya menyampaikan kalau hal itu wajar, sebab Wangsa mereka memang memiliki kekurangan baik dari kekuatan dan keterampilan bertempur. Jadi hal tersebut bisa dimaklumi." Jawab Buta Aliwung.


Terlonjaklah Buta Cakil saat mendengar jawaban bawahannya tersebut.

__ADS_1


"Apa kau sungguh mendengar dia berkata seperti itu, Buta Aliwung?" Ucapnya sedikit membentak.


"I-iya, Aku mendengar dia berkata seperti yang baru kusampaikan!" Jawab Buta Aliwung sedikit takut.


Beberapa Buto yang mendengar percakapan mereka yang kian memanas menjadi diam dan mulai memperhatikan. Lalu Buta Cakil tiba-tiba berkata dengan lantang.


"Demi Dewi Durga! Sesembahan para Buta yang dengan Welas Asih memberikan perhatian kepada Wangsa seperti kita! Sifat Raja Goobu benar-benar mulia. Buta Aliwung dan kalian semuanya! Ingatlah ini, tidak peduli sesulit apa kita nanti ke depannya. Pastikan untuk selalu setia pada perintahnya. Sebab dia tidak membedakan Wangsa dirinya dan Wangsa yang tunduk padanya." Ucap Buta Cakil.


Mendengar Raja mereka berkata seperti itu, para Buto yang memperhatikan serempak menghadap Buto Cakil dan beranjali sambil berkata.


"Kami akan mematuhi perintah anda,Yang Mulia!" Ucap mereka.


"Baguslah, sekarang angkat kepala kalian dan kembali pada kegiatan kalian." Seru Buta Cakil.

__ADS_1


Namun bukannya mengikuti arahan itu, mereka malah tetap pada posisi dengan mimik ingin mengetahui sesuatu.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya Buta Cakil.


__ADS_2