
Teriakan para Skeleton knight bagaikan suara lonceng kematian gemuruh kaki mereka yang kian mendekat bagaikan gemuruh di malam gelap.
Wajah-wajah yang menyaksikan pemandangan itu terpaku, bukan salah mereka karena memang hal yang wajar. Makhluk yang menyerang mereka saat ini, meskipun mati tapi mereka akan bangkit kembali.
sedangkan seluruh penduduk baik di desa Amarta atau yang lainnya ketika mati, mereka akan pergi ke suatu tempat yang diyakini adalah tempat bernaungnya para dewa yaitu kahyangan.
Itulah yang tertulis dalam kitab kitab sejarah dan agama kuno, atau bmungkin itu hanyalah penghibur bagi orang-orang agar tidak takut menghadapi kematian.
"Semuanya maju!" teriak Goruru seraya mengacungkan pedang.
Gemuruh pasukan yang dipimpin olehnya menyambut serangan dari para skeleton knight.
Saat dua gelombang pasukan itu bertemu, suara aduan pedang yang menguasai.
Tidak hanya bunyi pedang, suara-suara lain juga menyusul. Perisai yang patah, baju besi yang koyak dan patahnya tulang milik skeleton knight semua bersuara seperti simponi milik dewa kematian.
__ADS_1
Teriakan dari masing masing pasukan, membuat medan laga penuh dengan berbagai emosi. Jeritan sakit, takut, juga sekarat berpadu membentuk sebuah alunan nada yang tidak nyaman di dengar.
Kapak milik Goruru membelah skeleton knight yang diserangnya. Karena perbedaan level yang signifikan, tubuh para skeleton knight berhamburan kemana kemana.
"Demi Dewi Sri dan Desa Amarta! Tidak akan kubiarkan kalian menghancurkan kembali apa yang hendak kami bangun." Teriaknya sembari menebas para Skeleton knight.
Teriakan Goruru itu meningkatkan moral pasukan. Semakin giatlah para pasukan gabungan desa Amarta, untuk menebas musuh yang mencoba menghancurkan rumah mereka.
"Hooa! Matilah kalian tulang tulang jelek, cepat mati saja sana!" ucap Buta Cakil.
Para Kunti bergerak lihai diantara sela sela pasukan. Mereka menggunakan belati sebagai senjatanya. Beberapa diantara mereka, terus menerus menghujani para skeleton knight dengan panah.
Keahlian Wangsa ini adalah menggunakan senjata jarak jauh seperti panah, namun mereka juga bisa menyerang jarak dekat menggunakan belati.
Beralih ke Wangsa Wanara, mereka sangat ahli dengan seni beladiri tangan kosong. Pukulan tinju mereka mampu membuat para skeleton knight hancur berantakan.
__ADS_1
Hal itu berasal dari warisan ilmu tenaga dalam milik leluhur mereka bernama Ajian Khetek Putih. Sesuai namanya, leluhur Wangsa Wanara adalah seorang kera Putih.
Dahulu mereka tinggal di sebuah Gua yang sangat dikeramatkan oleh mereka. Nama Gua itu adalah Gua Kiskenda Buana. pemimpin mereka saat itu adalah dua orang kakak beradik.
Sang kakak memiliki bulu Putih sedangkan sang Adik memiliki warna bulu coklat. Dari sang Adiklah keturunan para Wanara ini berasal.
Untuk Sang Kakak, masih diragukan apakah memiliki keturunan atau tidak. Karena menurut kitab sejarah mereka, sang kakak tidak memiliki keturunan sebagai penerus.
"Demi Kehormatan maharaja Sugariwa! Ayo kita habisi para Tengkorak ini!" Seru salah seorang Wanara.
"Yeaa! Ayo kita buktikan kekuatan para Wanara yang dulu pernah memiliki sebuah kerajaan yang sama kuatnya dengan kerajaan tingkat [Mustika Pitu]!" Teriak yang lainnya.
Sahut menyahut itu meningkatkan semangat juang para Wanara. Tenaga dalam yang diberi nama Ajian Khetek Putih milik mereka. Terbukti ampuh memporak-porandakan serangan dari para Skeleton Knight ini.
Sementara itu, Kapten Ivar yang merupakan bala bantuan dari pihak luar. Tertegun melihat kerja sama dari pasukan desa Amarta.
__ADS_1
"Sungguh, aku iri dengan semangat mereka mempertahankan kerajaannya!" gumamnya.