Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
chapter 30


__ADS_3

"Wah mereka sedang bersiap menerkam," ucap Yudi


Rawu segera menolehkan pandangan pada bawahannya. "Bukankah tadi sudah kubilang untuk mengawasi bagian belakang! Kenapa bisa kecolongan?" tanya Rawu


"Itu, kami tidak bisa merasakan hawa keberadaan mereka!" jawab salah satu dari mereka.


'Sial itu ilmu selungkup aura, level mereka memang kecil namun jumlahnya lebih banyak dari kami. Bisa dibilang ini satu banding dua. Apa kami punya peluang,' pikir Rawu.


Salah satu dari gerombolan itu yang bisa diasumsikan pemimpin mereka maju. Sebuah topeng terpasang di matanya, dia mengenakan sebuah rompi khas kerajaan kutai.


"Tidak boleh ada seorangpun yang mengusik peninggalan dari Raja Mulawarman, kenapa kalian malah mau mengusiknya." ucap orang itu.


Yudi segera maju, "dengar, aku hanya ingin mengetehaui bagaimana cara dia membangun rajah perlindungan itu. Tidak lebih dan tidak kurang!" ucapnya.


"Dasar penipu! aku jelas mendengar, kalau salah stau temanmu itu." Dia menunjuk Rawu dengan menatap, "berkata kalau ingin mengetahui ramalan dari prasasti itu. Sesuai mandat dari petinggi kerajaan Kutai. Tidak boleh ada seorang pun yang menyelidiki tentang ramalan itu." tambanya.


'Sialan, telinga mereka tajam sekali. Kali ini apa yang akan kau lakukan, Yudi?' Batin Rawu yang melihat punggung pemuda Mage.


"Tolong bersabarlah, kami datang dengan niat yang tulus untuk mengetahui cara pembuatan rajah itu. Kalau tidak percaya, silakan ikut untuk menyelidiki." ucap Yudi mencoba membujuk mereka.


"Heh, hal itu juga dilarang, jika kau ingin tahu bagaimana caranya rajah itu dibuat, lebih baik kau tanya saja pada raja Mulawarman di akhirat." Sergahnya sambil mencabut pedang dari sarungnya.


"Usahamu itu sia-sia, jadi saatnya bersiap!" ucap Rawu.


Level mereka berbeda tiga dan jumlah pun satu banding dua, dilihat bagaimanapun situasi tidak menguntungkan bagi kelompok Yudi. Tapi Rawu memiliki solusi.


"Pecah formasi! Goruru dan Yudi akan ke arah kanan dan aku serta yang lain akan ke arah kiri. Usahakan mengikis musuh satu persatu! Bergerak!" Perintah Rawu.


"Baik!" Jawab semuanya


Yudi dan Goruru berlari ke kanan dan Rawu dan bawahannya ke kiri. Melihat musuhnya membagi dua, ternyata tidak membuat mereka memisahkan diri.


Serempak dua puluh orang itu mengejar Yudi dan kelompoknya. Mengetahui itu Rawu melebarkan mata.


'Sialan mereka tidak terpancing dan malah menyerang Yudi dan kelompoknya. Aku membuat kesalahan.' batin Rawu

__ADS_1


"Semuanya ayo maju! Jangan buat mereka menyerang sekutu kita." teriak Rawu.


"Siap tuan!" kelompok kecil itu memgejar pasukan yang mengejar Kelompok Yudi dan Goruru. Sang pimpinan menyuruh anak buahnya untuk menghalangi Rawu.


"Sialan, dia malah mengubah alur, setengahnya halang mereka. Bagaimanapun juga kita menang jumlah!" ucapnya.


"Baik!" jawab mereka serempak.


Sesuai instruksinya, pasukan itu berpisah. Tersisa sepuluh orang yang mengejar kelompok Yudi.


Meski perbedaan level mereka hanya dua dan musuhnya satu banding dua. Rawu tidak kenal takut. Justru dia memainkan trik ini untuk mengikis jumlah musuh.


Belati tergenggam kuat di tangan dan teracung di depan. Pandangan matanya menajam dan instruksi di lantang kan.


"Jangan beri ampun!" teriaknya.


"Hah!" jawab mereka serentak.


Golok mereka terayun-ayun mencoba untuk mengiris tubuh lawan. Namun dengan gesit dan lihai Rawu mengatasi layaknya sedang menari.


Walau begitu goresan demi goresan tetap mengenainya, mengurangi poin HP miliknya perlahan.


Alasan kenapa saat penyerangan melawan Goblin dia tidak berdaya, karena jumlah Goblin yang begitu banyak. Ditambah dirinya juga berniat untuk lepas dari jeratan Merchant Virgo.


Saat melihat kematian Tego dan bawahan Virgo lainnya. Dirinya senang sebab akan bebas. Lalu dia akan menjadi tawanan dan menawarkan sesuatu supaya bisa dibebaskan.


Namun dirinya malah terseret pada rencana ini. tidak ada penyesalan darinya. Impian dan rencana milik Mage itu searah. Yaitu membalas dendam pada Guild Perdagangan budak.


"Tidak buruk juga, apa yang kulakukan. Pergilah ke akhirat dan temuilah Raja yang kau patuhi dengan sepenuh hatimu." ucap Rawu.


Seraya mengatakan itu belati miliknya sukses menancap pada leher musuh yang ada di depannya.


Kemudian dia juga bergerak lincah dan belatinya bersarang ke jantung orang yang kedua HP milik keduanya perlahan habis. Dan jatuh layaknya karung, mati!


Dilihat rekannya juga telah selesai menghabisi musuh yang mereka hadapi. Sungguh sebuah skill yang mengagumkan ditunjukkan oleh mereka.

__ADS_1


Itu juga karena pelatihan yang di berikan Merchant Virgo, selebihnya adalah murni pengalaman mereka menghadapi bahaya dari misi misi yang diberikan oleh sang Merchant.


"Apa semuanya baik baik saja?" tanya Rawu dengan napas menderu.


"Iya kami baik saja," ucap rekan yang terdiri dari dua orang.


"Ketua disini ada yang terluka!" ucap panik dari arah lain.


Dilihatnya oleh Rawu jika orang itu sudah banyak sayatan di sana sini. Darah mengalir dari tempat sayatan itu tercipta. Namun napas dari orang itu masih normal.


"Bertahanlah, jangan mati. Ada yang sedang menunggumu." ucap Rawu sembari mencoba memberi pertolongan pertama.


"Jangan panik, ketua! Aku hanya ingin tidur sebentar, setelah perjalanan panjang akhirnya aku bisa beristirahat. Di sini aku selalu diselimuti rasa takut, tapi sekarang aku biaa beristirahat dengan tenang." ucapnya lemas.


Teman teman yang menyaksikan itu menitikan air mata, kata kata yang diucapkan olehnya jelas merupakan perkataan terakhirnya. Rawu dengan gigih berusaha agar orang itu bisa selamat.


"Jangan banyak bicara sialan, kita akhirnya akan memiliki tempat bernaung. Kau bisa istirahat di sana sepuasnya, pikirkanlah anak dan istrimu yang sedang menunggu kepulanganmu. Jadi bertahanlah." Ucap Rawu.


Mendengar kata anak dan istri, mendadak semangat untuk bertahan hidup muncul darinya.


"Kau benar, aku tidak boleh mati di sini. Aku harus menemui mereka, ada seseorang yang menunggu kepulanganku, kan!" ucapnya


"Yah, kau benar! Teruslah bertahan, aku pasti akan membantu menghentikan semua luka ini." ucap Rawu.


"Kalian cepat buatkan ramuan dan perban, dan kau tetap waspada." ucapnya.


Mereka segera menyiapkan apa yang diperintahkan oleh Rawu. Orang yang terluka itu, mencoba untuk tetap sadar dalam pangkuan temannya.


Lalu mata Rawu melirik ke arah tempat Yudi dan Goruru bertarung, "apa mereka juga sudah selesai." ucapnya.


Dia melihat musuh terakhir disambar sihir api yang di miliki Sang Mage. Mereka juga mendapat luka, namun secara ajaib bisa bertahan dari sergapan ini.


"Sungguh beruntung! Sekarang, aku ingin tahu apa kau akan melanjutkan ini, tuan Mage!" ucap Rawu.


Lalu datanglah benda-benda yang dia minta siapkan oleh bawahannya. Segera Rawu dengan telaten menumbukmya, kemudian membubuhkannya pada luka-luka dari rekannya tersebut.

__ADS_1


Rekan yang terluka meringis saat Rawu perlahan menempelkan obat itu. "Harap bertahan, obat ini akan menyakitkan tapi akan mengurangi efek bleedingnya." Ucapnya menenangkan rekannya yang kesakitan.


'Semoga kau bisa ku selamatkan.' Batinnya.


__ADS_2