Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Chapter 18


__ADS_3

Henka dan pasukan yang dipimpin olehnya, kini sudah sampai di mana asal sinar yang dipancarkan oleh Lagilu. Namun tempat itu tampak sepi seperti bekas ditinggalkan.


"Hahaha makhluk-makhluk kerdil itu sudah memiliki otak, mereka lari setelah teman kita mengirim sinyal." Ucap sombong tego.


Saat temannya itu mengatakan hal tersebut, Henka menatap bawah dan mendapati ada jejak kaki yang mengarah ke hutan lebih dalam Alas Pati.


"Si Lagilu memang pandai, membuat mereka lari ke dalam hutan setelah mengirim sinyal itu. Tujuan kita setengahnya sudah terlaksana. Tapi kemana si Lagilu itu sekarang, kenapa sampai sekarang belum juga datang." Ucap Henka.


"Siapa peduli! mungkin saja dia itu mengejar mereka sambil menyayatnya seperti orang gila, ahaha aku masih ingat bagaimana dia menusuk-nusuk mayat para Goblin seperti orang sinting." Gelak Tego dengan wajah gembira.


"Iya dan inilah karma yang dia terima!"


Samua perhatian menuju sumber suara yang tidak jauh dari mereka, di sana berdiri satu sosok Goblin dengan armor dan pedang di punggungnya, serta sebuah perisai terikat di lengan kirinya.


Tangan kanannya memegang sebuah bingkisan dari kain, tanpa menunggu respon mereka sang Goblin melemparkan bingkisan itu pada mereka.


Bingkisan itu menggelinding seperti bola, saat kain itu tersangkut pada sebuah batu akibat gesekan. Alangkah terkejutnya mereka saat mengetahui, kalau itu bukanlah bola melainkan sebuah kepala.


Mata mereka nanar melihat kepala tersebut, sebab itu merupakan kepala dari rekan mereka.


"La-Lagilu!"


"Namaku Goruru! Akulah yang sudah memenggal kepalanya, itu adalah balasanku atas apa yang telah kalian lakukan pada keluarga kami."


"Sialan! Kau makhluk kerdil kurang ajar, tidak akan kubiarkan hidup!"


Tego melaju sambil menghunuskan pedang, levelnya saat ini adalah 17 lebih tinggi dari musuh yang ada dihadapannya. Wajahnya begitu beringas karena amarah, ketika melihat sahabatnya dibunuh dengan kejam.


"Wajah darimu mengatakan kalau ingin membalas kematian temanmu, tapi itu juga berlaku untukku."


Level Goruru saat ini adalah15 berbeda 2 level dari Tego, dalam sekali pandang jelas kalau pemenangnya adalah Tego yang memiliki level lebih tinggi.


Namun pertarungan bukan ditentukan oleh besarnya level, melainkan seberapa baik strategi yang kita mainkan.


Kapten pasukan itu menggunakan teknik Slash and Run yang diajarkan Yudi, dalam strategi itu dia harus berfokus menghindar serta menahan serangan musuh. Tujuannya untuk mengurangi stamina dan menebas untuk menjaga tensi musuh tetap menyerangnya.


Teknik yang sederhana namun beresiko tinggi, karena sekali saja lengah maka nyawa akan menghilang dalam sekejap. Seperti nyala lilin kecil yang mati ditiup.

__ADS_1


'Menyuruhku memainkan teknik ini, tapi sepertinya efektif. Entah bagaimana, aku merasa bisa menguras staminanya sedikit demi sedikit.'


Tego yang serangannya selalu bisa di tahan dan dihindari, lama kelamaan menjadi tambah naik darah. Belum lagi sesekali sang Goblin berhasil memberi serangan padanya, hal itu seperti sebuah penghinaan baginya yang berada dikelas warrior.


"Sialan berhentilah bermain-main! Akan kubuat kepalamu terpisah dari badan. Sebagai seorang Warrior, aku memerintahkan wahai tubuhku! Tunjukanlah kemampuanmu! [Fighting spirit!]"


Sebuah gelombang kejut muncul dari tubuhnya, debu-debu beterbangan menjauh dan Goruru matanya menyipit. Untuk mengurangi terjangan debu, yang berasal dari skill Tego.


'Aku tidak tahu kalau dia memiliki skill ini, tapi tugasku sudah selesai sekarang. Waktunya kau beraksi tuan Yudi!'


Tego yang sudah menggunakan skill, wajahnya kian nanar atau bisa disebut menjadi beringas. Dia mengeratkan pegangan pada gagang pedang, lalu menuju tempat Goruru berada.


"Kali ini kau akan mati!"


Goruru dengan tenaga ekstra menahan serangan yang dicampur dengan teknik Fighting Spirit, tebasan demi tebasan beradu dan tidak menghasilkan seauatu. Namun, Goruru merasakan dampak dari Skill yang dimiliki Tego.


'Sialan! HP milikku turun dan staminaku juga ikut tersedot, setiap bersentuhan dengan auranya.'


Tego yang menyadari kalau Goruru sedang meneliti tekniknya berkata sombong.


Goruru bergetar saat mendengar penjelasan Tego, itu karena Bar staminanya hampir habis. Namun sudut bibirnya melekuk, karena sebuah suara datang dari belakangnya.


"Hai kekuatan Elemen Api! Sebagai seorang Mage aku memerintahkan! Bakarlah musuhku hingga tidak tersisa! [Fire Burn!]"


Karena terlalu fokus menyerang Goruru, Tego mengerahkan segenap perhatiannya, sampai tidak menyadari keberadaan Yudi. Lalu strategi Run and Slash yang digunakan Goruru, berhasil mengikis HPnya hingga tersisa seperempat bar.


Tego yang mendapat serangan itu tidak bisa menghindar dan tubuhnya sukses terbakar, teriakan memilukan terdengar saat dia merasakan seluruh tubuhnya tertutupi api. Semburan api dari sihir Yudi perlahan mengikis HPnya.


"Mage sialan! Aku akan membunuhmu!"


Meski dia berkata seperti itu, nyatanya Tego terus menggeliat di tanah karena rasa panas yang menyiksa. Melihat itu tatapan Yudi sedikit melunak, tak ingin menyiksa musuh lebih jauh segera Yudi merapalkan mantra lagi.


"Hai kekuatan Elemen Api! Sebagai seorang Mage aku memerintahkan! Seranglah musuhku hingga remuk! [Fire Ball!]"


Sebuah bola api terbentuk di ujung tongkatnya lalu dengan satu gerakan, bola itu menghantam tubuh Tego yang menggeliat karena kepanasan. Seketika bar HP miliknya menghilang dan Tego tidak bergerak lagi yang berarti dia sudah mati.


"Hutangku sudah lunas!" Ucap Goruru.

__ADS_1


Kapten pasukan Goobu itu merasa puas karena berhasil membayar hutangnya, ketika melawan Lagilu meskipun saat itu memang sang Asassin menargetkan Yudi untuk menyerangnya.


Namun berkat tindakan ceroboh Yudi yang berhasil melumpuhkannya dan mengalihkan perhatian, Goruru bisa menebas lengan kiri sang Asassin ditambah lengan kanannya sebagai pemenuhan sumpah.


"Aku tidak menyangka, kalau kau tipe orang yang tidak mau memiliki hutang budi," sindir Yudi.


"Hutangku sudah banyak dengan Tuan Goobu! Jadi aku tidak mau memiliki hutang lagi padamu!"


Mage muda tersenyum mendengarnya, sementara Goruru hanya mendengus ketika melihat Yudi beraut seperti itu.


Dilain tempat, Henka yang melihat dari kejauhan kalau teman sudah tewas dengan cara licik naik pitam, dia menggertakan gigi dan menghunuskan pedang sambil berseru.


"Jangan ada satupun dari para Goblin ini kita biarkan hidup! Semuanya maju!"


Ketika teriakan itu selesai dilontarkan, suara di belakangnya menggema keras. Bersama dengan pasukannya Henka menerjang, mereka bagaikan singa yang menghampiri mangsanya.


"Mereka kemari!"


Goruru memberi tahu Yudi kalau pasukan Henka sedang menuju ke arah mereka. Yudi lantas tersenyum, karena rencana yang dia susun berjalan sesuai keinginannya. Kini saatnya untuk memainkan pion terakhir, dan strategi pun berjalan sempurna.


"Sudah saatnya untuk pertarungan habis-habisan, berikan tandanya!"


Goruru bersiul panjang, lalu dari kedalaman hutan Alas Pati Goobu bersama 150 rakyat yang ada dibelakangnya maju. Mereka memegang Tombak, Pedang dan sebagainya.


Wajah mereka berisi tekad kuat


untuk membalas perbuatan lawan, karena telah membunuh orang-orang yang dicintai dan sayangi.


"Gooooouuuuooooohhhhhh! Skill [Goblin Roar!]"


Goobu berteriak nyaring sehingga suaranya menggema, teriakan itu adalah skiil yang dimilikinya bernama [Goblin Roar]. Fungsi dari Goblin Roar adalah meningkatkan moral pasukan yang ada di bawah komandonya. Setelah mendengar itu, semangat mereka yang mengikutinya meningkat.


"Hari ini kita akan mengambil kembali, apa yang telah mereka rebut. Semuanya Semangatlah!"


"Wooooaaahhh!"


Suara teriakan menggema, Yudi dan Goruru juga bersiap untuk pertempuran terakhir.

__ADS_1


__ADS_2