
"Baiklah, tinggal tambah beberapa bagian lagi dan bahan untuk rapat pagi ini selesai." gumam Yudi.
Sudah dua jam dia sibuk untuk mengisi kertas dari kulit domba itu. Yudi menuliskan peraturan dasar untuk desa Goobu, hal ini penting dilakukan untuk menjaga keteraturan.
"Sebuah peraturan akan membuat orang orang terjaga keegoisannya, itu berguna untuk mempertahankan keutuhan suatu pemerintahan. Tujuan dariku tidak hanya ini, wilayah kecil ini akan menjadi batu loncatan. Supaya rencanaku bisa berjalan sukses, karena itu apa yang sudah kutulis ini harus menjadi aturan dasar kestabilan wilayah di sini." ucap Yudi.
"Siapapun yang menolaknya, akan kupersilakan angkat kaki dari sini." tambahnya.
Setelah itu dia menggulung lembaran itu dan menyimpannya di saku belakang, lalu menyenderkan badan ke kursi.
"Aku tidak menyangka sama sekali, kalau keputusan diriku membeli Goobu waktu itu. Telah membuat ku berada di posisi ini, Dewa Sadono atau Dewi Sri kadang menunjukkan belas kasihnya. Dari keduanya, entah aku harus memilih yang mana. Orang tuaku selalu berpesan untuk mempercayai dewa Sadono, karena dia yang memberikan rezeki pada manusia. Lalu mayoritas manusia kebanyakan menyembah Dewi Sri, karena selalu memberikan limpahan kasih sayang pada manusia. Rezeki dan Kasih-Sayang, mana yang lebih utama. Aku ingin tahu jawabannya?" gumamnya panjang
"Keduanya sama penting dan utama, anak muda!" ucap sebuah suara yang terdengar lembut dan penuh wibawa.
Yudi segera memalingkan wajah ke tempat suara berasal, lalu dilihat kalau ada seorang kakek bertubuh bulat dengan kulit hitam. Yudi tidak bisa mendeskripsikan keadaan sang kakek, itu karena penampilan kakek itu yang tidak biasa.
Warna kulitnya gelap, namun rambutnya putih. Mahkota usia lanjut di kepalanya itu, berseberangan dengan gaya rambutnya yang ada jambulnya. Seakan dia menolak tua, sebab itu gaya anak kecil.
Lalu dilihat bagaimanapun sosok itu berparas laki laki, namun anehnya dia memiliki payudara. Lalu posisi dirinya berdiri, tapi di saat yang sama Yudi melihat seakan kakek itu duduk.
Entah sejak kapan kakek itu sudah ada di sana, Yudi tidak mengetahuinya. Segera saja dia menghampiri dan memperkenalkan diri, sebelum meminta penjelasan tentang apa yang baru di sampaikannya.
"Salam kakek, namaku Yudi. Kalau boleh tahu siapa nama kakek." ucapnya memperkenalkan diri dan bertanya dengan sopan.
"Hehehe, aku Semarasanta, Danghyang di Benua Jawadwipa ini. Kau sendiri sedang apa, sepertinya sedang merenungkan sesuatu." ucap Semarasanta.
Yudi anggukan kepala mendengar jawaban sang Kakek, yang mengaku dirinya bernama Semarasanta. Namun dia bingung dengan arti kata [Danghyang] yang disebutkan olehnya.
"Maaf, apa Danghyang itu sebutan atau Wangsa kakek." tanya Yudi.
"Hahaha kebanyakan orang akan gugup saat mendengar apa yang kau tanyakan, tapi kau sama sekali tidak gugup. Kau benar benar anak yang menarik, terimalah benda ini dariku." ucapnya seraya mengulurkan tangan untuk menyerahkan sesuatu.
Yudi menerima uluran tersebut, ketika tangannya menengadah tepat di bawah tangan sang kakek. Sebuah keris berbentuk gambar sang Kakek, jatuh tepat di telapak tangannya.
Keris itu dibuat dengan Wesi Kuning, bentuknya adalah gambaran sang kakek yang sedang memegang sebuah tongkat. Yudi sama sekali tidak mengerti dengan semua itu.
"Apa maksudnya ini, kakek." tanya Yudi.
"Benda itu akan sangat berguna bila masanya tiba, simpan baik baik jangan sampai hilang." pesannya dengan teduh.
Ada banyak pertanyaan berputar di kepala Yudi ketika mendapatkan benda itu, lalu kini sang Kakek menyuruhnya untuk menyimpan baik baik karena akan berguna bila masanya tiba.
Namun kata hatinya, menyuruh untuk mendengarkan pesan dari sang kakek. Yudi menyimpan benda itu di kantong belakang miliknya. Teringat olehnya untuk mempertanyakan, apa maksud ucapan pertama sang kakek.
__ADS_1
"Oh iya kek, soalan yang tadi it-"
Yudi tidak melanjutkan ucapannya, sebab raga dari sang kakek bernama Semarasanta sudah lenyap seperti ditelan bumi.
"Kakek Semarasanta! Kakek!" ucapnya sembari mencari keberadaan sang kakek.
Dia sudah mencari ke sana kemari untuk menemukan sosok Semarasanta, yang telah hadir dihadapannya dan memberikan sebuah keris berbentuk dirinya yang memegang tongkat.
Kini saat dirinya lengah untuk menaruh pemberian sang kakek, entah bagaimana keberadaan kakek itu raib tak berbekas. Seolah dia adalah ilusi, apa mungkin aku berkhayal. Pikirnya.
Namun benda yang diberikan sang Kakek masih ada di kantungnya, jelas ini bukanlah ilusi atau halusinasi. Namun Yudi tidak tahu, bagaimana menafsirkan apa yang telah dialaminya.
"Oi, Yudi. Sedang apa kau dari tadi kuperhatikan seperti kebingungan. Apa yang terjadi!" ucap suara yang dia kenal.
Benar saja, itu adalah Rawu yang datang ke tempat nya di pagi hari. Matahari memang belum terbit, namun langit sudah berganti warna biru.
"Aku sedang mencari seseorang bernama, tunggu dulu siapa namanya tadi ya. Eeee seseorang bernama-"
Yudi merasa aneh, sebab dia tiba tiba tidak ingat dengan nama dari kakek itu. Hanya gambaran tentang bentuk tubuhnya yang dia ingat, hal itu dia jelaskan pada Rawu berharap sang Asassin mengetahuinya.
"Aku belum pernah mendengar ada orang, dengan ciri ciri yang sudah kau ucapkan dan lagi kau jangan ngawur Yudi. Apa yang baru kau alami, pasti seratus persen khayalan." ucap Rawu.
"Aku tidak bercanda Rawu, aku bahkan masih menyimpan pemberian darinya." ucapnya sambil menyodorkan apa yang telah diberikan sang kakek.
Rawu yang melihat benda ditangan Yudi membisu, matanya menatap pada keris kecil yang ada di tangan Yudi.
"Apa ini permainan, aku sedang tidak bercanda Rawu." ucap Yudi.
"Aku juga tidak sedang bercanda, jawabanmu itu akan menentukan hal sangat penting, kau tahu?" balas Rawu.
"Baiklah, kalau begitu." ucap Yudi.
Sang Mage hanya mendesah setelah mengatakan itu dan mengangguk pertanda paham, lalu Rawu juga mengangguk saat Yudi akhirnya memutuskan untuk menuruti ucapannya.
"Baiklah kita mulai! Sage!"
"Lewat."
"Batara."
"Lewat."
"Kemudian, Sang Taya."
__ADS_1
"Lewat."
"Lalu Semarasanta."
"Hm, iya pernah dengar."
"Menarik! Selanjutnya Kasih-Sayang."
"Itu kayaknya yang aku gumamkan deh,"
"Tidak usah berpikir, jawab saja spontan." Balas Rawu.
"Iya."
"Hm, lalu Azimat."
"Tidak."
"Lalu Kahyangan."
"Tidak."
"Lalu Kapitayan."
"Tidak, sebenarnya kita main apa sih." protes Yudi yang mulai sewot
"Sudah ikuti saja, jangan banya protes." respon Rawu.
Yudi mengedutkan pelipis ketika menerima respon Rawu, namun anehnya dia tidak berani membantah lagi.
"Selanjutnya Mustika."
"Lewat."
"Sang Hyang Tungggal."
"Lewat."
"Terakhir adalah Danghyang!"
Saat itulah Yudi bisa mengingat kembali apa yang sudah terjadi.
"Tunggu aku mengingat semuanya, kakek itu bernama Semarasanta. Dia bilang tentang kasih-sayang dan rezeki itu adalah dua hal utama lalu mengatakan kalau dia adalah Danghyang." jelas Yudi.
__ADS_1
Rawu yang mendengar pengakuan Yudi, terdiam dengan mata melebar.
"Bagaimana bisa kau ditemui oleh sosok agung seperti dirinya," batin Rawu.