
"Tidak ada Tuan Penasehat! Kurang lebih aku juga akan melakukan hal sama seperti Pemimpin Manusia itu. Karena kejadian ini tidak mungkin ada hubungannya dengan Perjalanan yang kau lakukan untuk mengungkap rahasia Prasasti Yupa." Jawab Asuman serius.
"Begitu ya, kupikir kau mencurigaiku. Tapi aku masih kasihan dengannya, apa tidak ada-"
Mendadak liontin yang diberikan oleh Ibu Sophie, mengeluarkan cahaya merah menyilaukan. Semua yang melihat kejadian itu melindungi mata mereka.
Cahaya kemilau itu menyelimuti tubuh orang yang baru ditebas Reka itu. Setelah cahaya itu meredup, alangkah terkejutnya semua saat melihat kalau orang itu hidup kembali.
"Ah, aku hidup lagi!" Ucapnya kebingungan.
Dia segera meraba-raba tubuhnya, lalu memegang kepalanya yang masih utuh. Ketika dia menatap Yudi yang ada di depannya, segera dia menunduk dan berkata.
"Penasehat Desa! Maafkan aku karena sudah berkata seperti itu, sesungguhnya aku mengucapkannya begitu saja. Karena dulu pernah mendengar dari orangtuaku, kalau Prasasti Yupa itu memiliki Tulah. Sekali lagi maafkanlah aku, Tuan Penasehat!" Ucapnya memelas.
Bukannya menyambut ucapannya itu, wajah Yudi malah berubah terkejut. Karena orang yang sudah mati itu kini hidup lagi dan berbicara padanya.
"Si-siapa kau ini?" Tanya Yudi.
__ADS_1
"Aku adalah bawahan Reka!" Jawabnya.
Reka segera memeriksa orang tersebut untuk memastikan, setelah yakin dia memang benar-benar hidup.
"Dia benar-benar sudah hidup lagi!" Ucap Reka.
Sontak saja orang-orang mulai saling berbisik menanggapi kejadian itu.
"Dia hidup lagi!"
"Bagaimana bisa?"
"Dia hidup lagi berkat Liontin milik Tuan Penasehat!"
Itulah beberapa bisikan penduduk desa Amarta, sedangkan Shadow yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi memicingkan matanya menatap liontin itu.
'Liontin itu pasti Mustika [Mirah Delima].' Batin Shadow.
__ADS_1
"Tuan Penasehat bisakah kau gunakan Batu itu untuk menghidupkan kembali keluarga kami yang sudah mati!" Seru seseorang.
"Benar, melihat orang itu yang hidup kembali setelah mati. Tolong gunakan kemampuan itu untuk menghidupkan kembali keluarga kami!" Pinta yang lainnya.
Yudi yang masih belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, tentu saja tambah bingung saat menerima permintaan dari beberapa orang yang keluarganya wafat.
"Tunggu sebentar, aku juga tidak memahami apa yang terjadi." Sanggahnya.
"Tapi kau sudah menghidupkan orang itu yang jelas-jelas sudah wafat. Tolong hidupkan kembali keluarga kami yang sudah wafat." Pinta seorang ibu dengan penuh harap.
Yudi yang hendak menolak permintaan itu tertegun, suara yang ingin dia keluarkan seakan terhenti di kerongkongan. Dia tidak ingin memudarkan harapan ibu tersebut.
Namun dia juga tidak mengerti bagaimana melakukannya. Di tengah situasi yang tidak bisa dia tangani, seseorang segera memberikan penjelasan.
"Hal seperti itu tidak bisa dilakukan terus menerus! Kemampuan batu itu hanya bisa digunakan untuk menghidupkan kembali orang wafat yang belum takdirnya. Adapun keluarga kalian yang sudah tiada akibat Kalabendhu, itu tidak bisa dibangkitkan lagi. Harap kalian menerima kepergian mereka dengan tabah." Jelasnya yang tidak lain adalah Shadow.
Penjelasan dan nasehat Shadow itu, seperti seseorang yang menutup pintunya ketika ada seorang pengemis yang datang mengetuk untuk meminta dana.
__ADS_1
Namun Shadow tidak peduli dengan sikapnya itu, dia sepenuhnya sadar kalau tindakannya sedikit kasar. Tapi menjelaskan kebenaran itu adalah hal penting.
Dia lebih senang menyadarkan mereka dengan kenyataan, daripada memberi semangat dengan kesemuan. Karena pahitnya kenyataan kadang lebih baik dari manisnya sebuah kesemuan.