
Tonu yang sudah mendapatkan hadiah dari sang Raja atas keberhasilannya membawa Ginseng Morbula dan Jahe Musculias. Kini sedang bersama keluarga dan anaknya.
Dia memiliki satu orang putri dari pernikahannya dengan sang istri. Lalu putrinya menggelayut manja pada sang Ayah bertanya.
"Jadi, bagaimana cara ayah menemukan bahan yang diperlukan untuk mengobati sang putri Ambalika." tanya sang Putri.
Sejujurnya sudah beberapa kali dia menjelaskan kronologi dari perjalanan dirinya mendapatkan bahan bahan tersebut. Namun anaknya selalu meminta dia mengulang kembali cerita tersebut.
Jadi dengan kasih sayang dia menceritakan kembali kisah tersebut, "Ayah mendapatkan ramuan itu berkat bantuan dari seorang pemuda yang mengenakan jubah merah. Dia memegang sebuah tongkat sihir yang ada berlian merah di ujungnya."
"Tidak hanya itu, dia juga ditemani oleh para Goblin. Pokoknya pemuda itu sangat baik dan sopan, kelak kalau sudah besar kau harus mencontohnya ya. Sebab sangat langka di dunia ini menemukan orang seperti itu." jelas dan pinta Tonu pada putrinya.
Sang putri tersenyum dan mengangguk dengan antusias lalu menjawab, "tentu ayah, aku akan mencontoh sikap pemuda itu." ucapnya riang.
"Bagus sekali, itu baru putri ayah!" ucap Tonu seraya mengelus pucuk kepala dari putrinya itu.
Hari hari menegangkan dirinya untuk mendapatkan bahan bahan itu sudah berakhir. Namun dia masih kepikiran tentang keluarga Toni, teman seperjalanan dirinya ketika menerima Quest itu.
Memang Raja Rekatama memberi banyak santunan pada istri dan putra Toni, sebagai bentuk penghormatan sekaligus penghibur duka. Namun tetap saja, nyawa tidak bisa diganti dengan uang.
Mereka memang tersenyum ketika menerima hadiah hadiah tersebut, namun saat malam datang dan Tonu kebetulan melintasi rumah yang diberikan oleh sang Raja pada istri dan putra Toni.
Sayup sayup terdengar suara sesenggukan dari rumah itu. Tidak perlu bagi Tonu untuk memperjelas apa yang terjadi, sebab dirinya juga pernah bertanya pada sang Istri.
Bilamana seandainya yang di posisi itu adalah dirinya, sang istri dan putrinya menjawab kalau mereka memang akan menerima dengan lapang dan sabar. Namun tetap saja amat berat, untuk mengikhlaskan kepergiannya.
Karena itulah dirinya senang sekaligus sedih. Senang karena bisa pulang dengan selamat dan menghibur anak dan istrinya lagi, lalu sedih karena melihat apa yang menimpa keluarga dari temannya itu.
"Mas itu dari tadi beong aja, nanti kesambet lo!" tegus istrinya saat Tonu larut dalam lamunan tentang nasib dirinya dan temannya Toni.
__ADS_1
"Iya dek, Mas masih kebawa perasaan dengan apa yang telah terjadi pada keluarga Toni!" ucapnya.
"Mas, apa yang menimpa mereka memang sudah kehendak dewata, kita sebagai makhluknya hanya bisa pasrah dan sabar menghadapi itu." jawab istrinya.
"Ibu! Ayah! Tolong jangan bahas perkara ini lagi sih," ucap putrinya seraya merangkul erat Tonu.
Keduanya terkejut saat mendengar ucapan anaknya, tanpa mereka sadari apa yang sedang dibahas itu. Membuat putri semata wayang takut.
"Ah gak kok, Ayah dan Ibu gak bahas apa apa! Hanya bahas tentang keluarga teman Ayah!" balas Tonu.
"Iya ndo, Ayah dan Ibu cuman bahas masalah lain bukan tentang hal itu kok." tambah sang Istri.
Beruntungnya adalah anak mereka masih bisa menerima alasan seperti itu, sebab dia langsung tersenyum dan memberi tanggapan atas alasan mereka berdua.
"Oh kalau begitu, bagus deh. Pokoknya, aku gak mau kalian bahas hal hal tentang apa yang terjadi pada keluarga tema ayah." ucapnya seraya menaruh kepalanya di panggkuan Tonu, seakan mencari kenyaman dari sang Ayah.
Keduanya terenyuh begitu mendengar perkataan sang Putri, melalu kontak mata mereka berjanji untuk tidak membahas lagi apa yang menimpa keluarga Toni di depan anak mereka.
"Oke," setuju sang anak.
Saat itulah dua orang prajurit kerajaan Girisetra menghampiri, memberi hormat pada sang tuan rumah lalu salah seorang memberikan pesan dari sang Raja.
"Tonu, atas nama sang Raja Rekatama. Penguasa kerajaan Girisetra, kau diperintahkan untuk menghadap." ucap sang pengawal.
'Ada apa ini kenapa mendadak sekali,' pikir Tonu. 'Tapi aku juga sudah lupa memberikan surat dari Yudi untuk Raja Rekatama. Mungkin ini kesempatan yang bagus untuk menyerahkan surat itu.'
Sang anak segera bangkit dari posisinya, membiarkan sang ayah menyambut prajurit tersebut. Lalu Tonu segera bangkit dan menjawab dengan yakin.
"Baiklah, segera aku akan bersiap. Harap tunggu sebentar!" Tonu dan keluarganya masuk ke dalam.
__ADS_1
Ketika di dalam sang istri langsung berkata, "apa yang terjadi kenapa tiba tiba sang Raja memanggilmu lagi." Ucapnya
"Apa ayah akan pergi lagi?" tanya sang Putri.
"Demi Dewi Sri, kalian begitu khawatir, ini adalah perintah Raja. Mana mungkin ayah akan disiksa, lagi pula bahan bahan yang ayah serahkan sesuai dengan apa yang di minta oleh Tabib kerajaan." ucap Tonu membalas kekhawatiran putri dan anaknya.
"Jadi kalian jangan begitu cemas, tidak akan terjadi apapun pada Ayah. Percayalah, setelah ini selesai ayah akan kembali membawa hadiah oke!" tambahnya.
Tonu mengenakan pakaian yang sesuai untuk menghadap sang Raja, setelah semua lengkap. Dia tinggal memasang blangkon di kepala dan persiapan dirinya pun selesai.
Sebelum sepenuhnya berangkat dia menyisipkan surat yang diberikan oleh Yudi. Alasan kenapa surat itu belum disampaikan, karena sang Raja menyuruh para Tabib dan Mantri meracik bahan bahan yang dia serahkan.
Saat melihat kerumunan Tabib dan Mantri yang sibuk untuk meracik bahan yang dibawanya, terbesit pikiran kalau saat ini bukanlah waktu yabg tepat menyerahkan surat ini.
Dia sama sekali tidak mengetahui apa yang tertulis di surat itu, sebab tidak pernah membacanya sejak pertama diberikan oleh Yudi.
Tonu adalah orang yang memegang amanah, hal yang sudah jarang ditemui pada saat ini. Kebanyakan dari kita jika di titipkan uang akan berkurang, lalu jika dititipkan ucapan akan bertambah.
Hal sepele seperti ini merupakan sesuatu yang bernilai tinggi, karena sikap amanah atau bisa dipercaya. Akan memberikan dampak besar dalam hubungan antar sesama manusia.
Karena itu dia tidak pernah membacanya, sebab surat itu ditujukan bukan untuk dirinya melainkan untuk Raja Rekatama. Mendadak sang Istri memegang lengan kanannya.
"Suamiku, berhati hatilah." ucapnya cemas
"Ayah, pastikan pulang bawa jajanan pasar." pinta sang putri.
Menanggapi kecemasan istri dan permintaan sang anak, dia merengkuh keduanya dalam pelukan.
"Tenang saja, aku pasti berhati hati istriku, lalu putriku ayah akan bawakan jajanan pasar yang paling enak."vucapnya.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu dia melonggarkan pelukan dan menganggukan kepala. "Apa Ayah sudah boleh pergi sekarang."
Keduanya juga membalas dengan anggukan disertai balasan, "iya, heheh" ucap keduanya dan terkekeh bersamaan. Ketiganya tertawa bersama untuk sebelum kepergian Tonu