
Fajar telah datang membawa harapan dan juga impian. Bersamaan dengan itu, kabut pembawa bencana juga datang yaitu Kalabendhu.
Ini adalah hari ketiga dari Kalabendhu. Setelah sebelumnya ketegangan terjadi antara pasukan Kapten Ivar dan juga penasehat Desa Amarta, kini semua sudah berjalan normal kembali.
Yudi mengajukan permintaan maaf, sebab sudah bertanya tentang hal-hal privasi dari Kerajaan Agung Bayu setra.
Motivasi yang membuat dia melakukan itu, karena sebuah pertemuan tidak terduga dari sosok yang pernah memberikannya sesuatu.
Sosok bernama Semarasanta tiba-tiba menemuinya dan berkata.
"Anak muda! kau harus belajar untuk memilah pertanyaan yang akan diajukan pada orang lain. Bisa jadi pertanyaan yang menurutmu sederhana, akan mengundang malapetaka bagi mereka bukan?" tegurnya
Yudi yang mendapat teguran tersebut langsung syok, karena tidak berpikir jauh seperti itu. Lalu dia meminta saran kepada kakek tersebut.
"Jadi aku harus bagaimana, kakek Semarasanta?" tanyanya.
"Temuilah mereka dan mintalah maaf dengan tulus, aku yakin mereka akan memaafkan dan melupakan kejadian ini." jawabnya.
__ADS_1
Yudi anggukan kepala ketika mendengar saran dari kakek semarasanta sembari menjawab. "Akan kulakukan kakek, aku akan mendatangi kemah Kapten Ivar dan meminta maaf atas kejadian ini."
Lalu Yudi teringat dengan kejadian di hari lalu, ketika pertama kali ditemui oleh sosok Semarasanta.
"Oh iya kek, terakhir kita bertemu kau mengatakan kalau rezeki dan kasih sayang adalah dua hal yang sama-sama berharga. Bisa kakek jelaskan itu, maksudku tolong jelaskan pada diriku yang bodoh ini." Pinta Yudi.
Semarasanta berikan senyum kepada anak muda yang ada dihadapannya. Setiap kali dia ditemui oleh orang yang mengenalnya, permintaannya bukanlah untuk menjelaskan sesuatu tapi kebanyakan dari mereka malah meminta petunjuk tentang pusaka ataupun ilmu yang hebat. Seperti Rajah dan Sihir Agung, tapi anak muda di depannya ini. Malah meminta penjelasan, dari apa apa yang dia tidak pernah duga.
"Apakah hal itu begitu penting, Hai anak muda!" ucapnya.
Yudi dengan antusias mengangguk dan berkata. "Tentu saja ini sangat penting, aku ingin mengetahuinya kakek!" ucapnya dengan notebook dan pensil sudah di tangan.
"khasiat? Maksud kakek Benda itu? apa itu semacam-"
"Oh lupakan anak muda, aku hanya bergumam saja tidak usah dipikirkan. Sekarang aku akan jelaskan tentang rezeki dan kasih sayang yang kau tanyakan," potong Ki Semar di saat Yudi sedang menerka-nerka apa maksud dari ucapannya.
Lalu dia pun memberikan penjelasan tentang rezeki dan kasih sayang, asal muasalnya dan juga bagaimana cara menyalurkan hal itu pada orang yang tepat. Seperti sebelumnya, saat Yudi akan bertanya tentang hal yang lebih penting dia raib ditelan bumi.
__ADS_1
Hari itu adalah Hari kedua penyerbuan Kalabendu. Para pasukan dari kalabendu menggempur dengan gigih, namun berhasil diatasi dengan formasi yang telah disusun. Kemudian setelah puas beristirahat, karena berhasil mengatasi penyerbuan Kalabendu hari kedua.
Semuanya berbaris untuk menyambut datangnya pasukan musuh di hari Ketiga. Sesuai yang sudah direncanakan oleh penasehat desa dan Pemimpin Goblin.
Kali ini yang berada di posisi depan adalah Seluruh Wangsa, menandakan kalau ini adalah perang habis-habisan. Karena berada di hari terakhir penyerbuan Kalabendhu.
Semuanya mematuhi apa yang sudah dia usulkan. Bahkan Raja Goobu memberikan dukungan untuk mengikuti strategi tersebut
Kabut Kalabendhu kian mengepul dan menutupi pandangan.
"Seluruh pasukan waspada!" seru Goruru.
Mendengar perintah itu, semua orang meningkatkan kewaspadaan. Pandangan mata mereka menajam dan genggaman di senjata mengerat.
Lalu dari kabut itu muncullah sosok sosok yang sama seperti sebelumnya, para skeleton dengan baju perang murahan. Namun kali ini, di antara barisan itu terdapat skeleton dengan tinggi sekitar 4 meter.
Di atas kepalanya terdapat sebuah korsur medali tingkat [Besi].
__ADS_1
"Akhirnya muncul juga, Minibos tingkat [Besi] semoga kami bisa mengalahkannya." gumam Yudi.