Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Chapter 43


__ADS_3

"Aku Widura mewakili Wangsa Kunti, sangat menarik sekali apa yang baru kau sampaikan, tapi apa kau bisa mengatasi Wangsa yang suka membuat kerusuhan. Maksudku, apa konsekuensi yang akan kau berikan pada mereka." ucapnya.


Mendengar ocehan Widura itu, segera sang wakil dari Wangsa Tuyul merespon.


"Aku Gabai mewakili Wangsa Tuyul, apa maksud ucapanmu itu Wangsa Pucat. Bukankah di sini yang memulai untuk membuat perkara adalah dirimu!" ucapnya.


Lalu Wakil dari Wangsa Wanara menimpali ucapan dari Gabai.


"Aku Asuman mewakili Wangsa Wanara, sepertinya kalian berdua tidak bisa akur. Kalau begini terus, aku meragukan kalian bisa bekerja sama. Wangsa kami adalah Wangsa yang sangat egois dan angkuh, belajar dari hal itu kami mencoba untuk berbaur agar kejadian di masa lalu tidak terulang." ucap Asuman.


Gabai dan Widura terdiam ketika mendengar ucapan Asuman. Mereka seakan malu karena selalu bertengkar, hanya karena hal sepele. Yudi yang menyadari kalau dua orang itu merasa bermasalah, malah hendak menambah malu mereka agar bisa sadar.


"Aku mengerti dengan apa yang disampaikan olehmu Widura, aku pertegas pada kalian semua. Siapa pun yang tidak mematuhi aturan yang telah kita buat untuk desa ini. Maka aku persilahkan dia angkat kaki dari sini, tidak terpikirkan olehku untuk mengurus mereka yang tidak mau bekerja sama. Hal ini bukan untuk kebaikan diriku atau sebagian pihak tapi untuk kebaikan kita bersama, karena itu aturan ini berlaku untuk semuanya. Baik kalian yang menjadi anggota pembentuk ataupun Wangsa lain yang mungkin di masa depan akan merapat kepada kita. Jadi aku ingin kalian singkirkan permasalahan yang tidak penting, agar kita bisa mencapai kata sepakat dalam rapat ini." jelas panjang Yudi.


Mendengar penjelasan Yudi membuat keduanya menunduk, sudah jelas kalimat terakhir yang disampaikan Mage itu mengarah pada mereka.


"Aku tahu permasalahan dan hal utama kenapa kalian berselisih, tapi bisakah kalian membuka pikiran lebih luas. Seseorang dengan baik hati telah menyampaikan apa yang selalu diperdebatkan kalian, jadi bisakah kalian menyingkirkan keegoisan itu dan belajar dari Wangsa Wanara, yang mulai untuk meninggalkan sifat lama mereka demi masa depan yang lebih baik." tambahnya lagi.


Buta Cakil juga angkat bicara, supaya tidak terlihat monoton.


"Kami Wangsa Buto adalah Wangsa yang tidak suka berpikir, tapi kami suka bekerja fisik karena itu jika kalian semua butuh tenaga. Aku dan Wangsaku akan senang hati membantu, asalkan kita tidak saling mengkhianati di masa depan." ucapnya.


"Tentu saja, tujuan dari rapat ini untuk mencegah apa yang kau khawatirkan. Kita akan membuat aturan dasar, yang akan menjadi pedoman hidup atau hukum di desa ini." respon Yudi.

__ADS_1


Rawu yang dari tadi hanya mengamati juga ikut bicara.


"Lalu setelah pedoman yang kita diskusikan itu resmi dibentuk, apa yang menjamin pedoman itu bisa diterapkan. Apa kita harus membuat hukum tak tertulis agar semua orang memahaminya." ucapnya


"Hal itu bisa kita lakukan, namun jika Hukum ini resmi dibentuk. Maka aku ingin pada tiap Wakil dari Wangsa menerimanya dan menyampaikannya pada Wangsa masing masing." jawab Yudi.


Setelah mendengar percakan dari Yudi, Buto Cakil, Rawu dan Asuman. Membuat Widura dan Gabai sadar akan sesuatu.


'Apa yang disampaikan Asuma benar, kami tidak pernah mencoba untuk membuka pikiran. Terjebak dengan adat leluhur yang salung memusuhi karena masalah sepele, kami malah tampak konyol di sini.' batin Widura


'Wangsa Buto meskipun bodoh namun memiliki kebijaksanaan dan keterbuakan. Mereka tidak malu mengakui kekurangannya, lalu menawarkan sesuatu yang lain sebagai pengganti dari apa yang tidak mereka kuasai.' batin Gabai.


"Aku sangat menyesal telah mengatakan itu diawal, Saudara Gabai. Bisakah kita memutuskan permusuhan yang telah berlangsungu, selama lebih dari Sewuwarsa ini." ucap Widura sembari menawarkan uluran tangan.


Ketika hal itu terjadi semuanya nampak senang, wangsa mereka juga melakukan hal serupa saling berjabat tangan. Untuk memutuskan permusuhan konyol selama sewu warsa ini.


Hanya Rawu yang memicingkan mata melihat itu, meskipun hatinya juga lega, karena melihat dua Wangsa yang selama ini selalu bermusuhan. Kini bisa saling memaafkan dan mencoba saling bekerja sama.


'Ini semua terjadi pasti karena dirimu, Yudi. Biasanya, kedua Wangsa itu akan ribut jika sudah mulai berdebat. Namun dihadapan dirimu mereka bisa saling memahami satu sama lain. Salah satu dugaanku juga, pasti karena benda yang diberikan Ki Semar padamu.' batinnya.


"Nah kalau seperti inikan bagus, sebenarnya aku sudah menyusun Pedoman dasar itu." ucap Yudi.


Mendengar ucapan Mage tersebut, sontak membuat semua yang hadir penasaran. Mereka ingin tahu seperti apa aturan yang di buat oleh Mage itu.

__ADS_1


"Kalau begitu, sampaikan saja hal itu. Kami ingin mendengarnya." ucap Widura.


"Benar, sampaikanlah apa yang telah kau buat itu." tambah Gabai.


"Jika kau sudah membuatnya, kenapa kau meminta kami untuk membuatnya juga." tanya Asuman.


Pertanyaan itu adalah hal yang ditunggu Yudi, dia ingin memberi penjelasan kenapa meminta juga pendapat dari wakil dari seluruh wangsa.


"Hal bagus kau bertanya seperti itu, tuan Asuman. Aku ingin kalian juga mengkritisi apa yang sudah ku tentukan. Supaya tidak terjadi hal seperti aturan ini tidak menguntungkan kita atau harusnya kita memperdepatkan ini sebelum diresmikan. Aku ingin menghindari masalah seperti itu di masa depan, karena itu aku ingin kalian mengkritik apa yang sudah kubuat. Apa kalian bersedia?" tanya Yudi.


Itu adalah sebuah cara untuk menarik simpati mereka, Yudi mempelajari hal ini di waktu senggang ketika bekerja di Toko Luuin. Kadang juga Merchant itu menasehati kalau dalam membuat sebuah keputusan besar, harus bisa diterima oleh pihak yang terlibat di dalamnya.


'Aturan yang baik adalah aturan yang bisa diterima oleh semua pihak dan pelaksanaannya berjalan tanpa paksaan. Karena itu penting untuk mengadakan diskusi, sebelum meresmikan aturan yang akan diberlakukan. Yudi, kau harus mengingat hal ini dengan baik.' pesan Luuin pada Yudi.


"Kalau begitu, tolong sampaikan apa yang telah kau buat itu, Tuan Yudi." ucap Goobu yang dari tadi menikmati diskusi ini.


"Baik Yang Mulia. Aturan ini kuberi nama Pancasila yang memiliki arti demikian. Panca adalah Lima dan Sila adalah asas atau prinsip. Adapun poin dari Pancsaila ini aku jabarkan.


Kaping Pindho Berketuhanan yang maha Esa Kaping Pisan Mengukuhkan di dalam hati nurani semangat persatuan


Kaping Telu Menciptakan lingkungan aman untuk kita dan generasi selanjutnya


kaping Papat Menghargai dan menghormati kepemimpinan.

__ADS_1


Kaping Limo menjaga hubungan baik dengan sesama individu." ucap Yudi menyampaikan Asas yang telah dia buat.


__ADS_2