Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Sesuatu terjadi


__ADS_3

"Mustahil! Tidak mungkin hanya kalimat itu membuat Kalabendhu mengirimkan pasukan lagi lada kita!" Ucap seorang manusia.


"Itu benar! Pasti ada hal yang kau lakukan sehingga ini terjadi!" Seru yang lain.


"Apa mungkin ini terjadi karena kau berambisi mengungkapkan rahasia dari Kerajaan Kutai!" Teriak seseorang dari kelompok Rawu.


"Tunggu apa yang natus kau katakan tadi?" Tanya pemimpin Wanara.


Bawahan Rawu yang dulu ikut dengan Yudi untuk meneliti Prasasti Yupa yang dirahasiakan oleh Kerajaan Kutai itu mulai menjelaskan apa yang dia ketahui.


"Kau ingat saat kami baru kembali dulu?" tanya orang tersebut.


Asumam mengangguk dan menjawab, "aku ingat!"

__ADS_1


"Saat itu kami baru kembali dari penyelidikan untuk mengetahui rahasia Prasasti Yupa milik kerajaan Kutai. Kami hampir saja terbunuh sebebab dihadang oleh Pasukan pelindung Prasasti yaitu Sakapitu. Tapi berkat keberuntungan kami berhasil selamat, saat itu aku selalu was-was jika seandainya malapetaka akan menghampiri kami. Itu karena semua orang yang berusaha menyentuh Prasasti Yupa akan terkena Tulah. Sekarang mungkin adalah Tu-"


Orang itu tidak melanjutkan perkataannya sebab kepalanya sudah terpisah dari badan. Lalu tubuhnya ambruk dengan darah mengucur deras dari batang lehernya.


"Jika ada diantara kalian yang berniat membahas kejadian itu, aku dengan senang hati akan mengantarnya menuju Nirwana." Ucap sosok pemimpin Manusia Yaitu Reka.


Tindakan tiba-tiba itu membuat Asuman mundur dua langkah, sebab aura membunuh yang dikeluarkannya sangat kuat.


Sementara Yudi menghampiri Reka dan memberikannya sebuah pukulan di kepala sambil berkata.


"Apa yang kau lakukan! Sikapmu ini hanya menambah kecurigaan mereka padaku! Apa pikiranmu sudah tumpul hingga dengan mudahnya kau memenggal kepala bawahanmu?" Ucap Yudi dingin.


Reka segera berlutut dan menyampaikan jawaban yang dimilikinya.

__ADS_1


"Ampun Penasehat desa! Aku minta maaf jika tindakanku berlainan dengan keinginanmu, tapi mendengar dia berkata yang bukan-bukan tentang dirimu membuat hatiku panas. Jadi aku menggunakan cara ini untuk membungkamnya." Jawab Reka


"Hah! Apa kau pikir semuanya bisa diselesaikan dengan tindakan seperti ini? Dengarlah Reka! Rumah yang ingin kuciptakan bukanlah tempat yang menganut hukum rimba, jadi tindakanmu ini tidak dibenarkan. Meskipun niatmu melakukannya demi membela kepentingan diriku, tapi secara tidak langsung kau telah mengekang kebebasan orang-orang untuk mengemukakan pendapatnya. Dia itu kemungkinan hanya meluapkan emosi karena kabar yang dia ketahui atau semacamnya. Kenapa hal itu harus dibayar dengan nyawanya. Apa mungkin ada yang kau cemaskan atau sembunyikan dariku, Tuan Reka?" Ucap Yudi.


"Ampun Penasehat Desa! Aku tidak memiliki hal yang kusembunyikan seperti dugaan Anda. Hamba melakukan itu murni karena kesal sebab bawahan hamba sudah berkata hal yang kurang pantas. Padahal saat kejadian itu anda sudah meminta penebusan dan Rawu sudah mewakili kami untuk menyampaikan kekecewaan kami. Tapi orang ini seperti hendak memecah belah kita, jadi aku tidak bisa tinggal diam begitu saja melihatnya." Jawabnya.


Yudi mengerti dengan jawaban yang disampaikan oleh Reka itu. Dia juga merasa kalau orang yang baru dipenggal tadi hendak memecah belah persatuan desa Amarta.


Namun dia menyayangkan tindakan yang dipilih Reka untuk mengatasi hal ini. Karena hal tersebut terkesan kalau Yudi meminta siapapun untuk tutup mulut soal masalah tersebut.


Lalu matanya menatap Asuman yang tadi sempat bertanya tentang kebenaran yang disampaikan orang tadi.


"Apa ada yang ingin kau tanyakan, Tuan Asuman?" Tanya Yudi.

__ADS_1


__ADS_2