Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Gema Pertempuran


__ADS_3

Derap langkah para skeleton membuat tanah bergetar. Angin dingin meniup punggung para pasukan. Meski tampak bersemangat, namun mental mereka juga terkikis karena harus berjuang selama tiga hari.


Memang mayoritas pasukan yang terbiasa dengan kondisi tersebut ada banyak. Namun yang belum berpengalaman lebih banyak lagi.


Hal yang membuat mereka mampu bertahan adalah kordinasi serangan yang digunakan Yudi dalam mengatur pasukan.


Lalu sang penasehat desa Amarta itu mengetuk tongkat miliknya, untuk menarik perhatian ditengah gempuran para skeleton yang di pimpin oleh Mini Bos.


"Semuanya, mangsa besar akhirnya muncul. Dia adalah makhluk yang dikirim kekacauan untuk memporak-porandakan rumah kita!"


Karena begitu terhanyut oleh suasana Yudi mengumandangkan syair perang.


"Pedang milik kita, haus akan darah dan daging para pengacau.


Medan perang ini, merupakan ajang pembuktian tekad yang kita miliki.


Teriakan, suara daging yang terkoyak ataupun baju besi yang rusak tidak mengendurkan semangat yang kita miliki.


Karena semua kita lakukan, untuk melindungi rumah kita yang berharga


Apa jawaban kalian, Prajuritku!"

__ADS_1


"Hoouuuu! Menang!" Teriak para pasukan menggema langit.


Ketegangan yang muncul di awal berubah menjadi teriakan semangat. Mereka telah membakar keraguan mereka menjadi kekuatan yang menggelora.


Pasukan pun mulai menerjang para skeleton yang sudah mendekat.


"Demi Desa Amarta, serang!" Teriak Goruru.


Denting pedang dan suara tulang yang patah serta rusak menggema. Beberapa teriakan juga samar terdengar.


Kapak milik Goruru menebas beberapa skeleton. Setelah terkena serangan, para makhluk itu jatuh di tanah.


Di tempat lain Yudi menggunakan sihir miliknya, untuk mengatasi musuh yang mencoba menyerang ke arahnya.


Yudi sesekali melihat medan pertempuran, saat ini memang pihak Amarta sedang diuntungkan. Namun ada hal yang dikhawatirkan oleh Mage tersebut.


Itu adalah monster kerangka raksasa setinggi 4 meter yang sedang ditangani oleh Buto Cakil. Setiap kali keduanya beradu kekuatan yang ada disekitar pasti akan terhempas.


"Hp miliknya ada 3 Bar, akan sangat sulit untuk menanganinya. Selain itu Goobu dan Goruru sedang sibuk dalam posisi mereka." ucapnya sambil melirik ke arah dua Goblin berada.


Goobu sibuk mengayunkan kapak miliknya, hal itu menghancurkan kerangka-kerangka tersebut. Di sekitar dirinya berkumpul pasukan elite yang telah dilatih olehnya sebagai penjaga raja.

__ADS_1


Untuk Goruru, Goblin itu sedang memberikan arahan pada bawahannya yang masih belum berpengalaman. Sesekali dia akan bergerak untuk memberi contoh.


Hal sama juga berlaku untuk semua pemimpin para Ras kecuali wangsa Tuyul. Semuanya berjuang untuk bertahan dari Kalabendu hari ke tiga ini.


'Aku harus melakukan sesuatu tapi bagaimana caranya!' Pikir Yudi.


Mage tersebut lalu membuat sebuah isyarat dengan tangan miliknya. Dalam sekejap muncul sosok bertudung hitam dan langsung berseru


"Tuan Penasehat! Apa sudah waktunya kami bergerak?" ucapnya


"Benar, setengah dari kalian akan membantu sang Komandan pasukan. Lalu sisanya membantu para Buto dan Wanara yang sedang menghadapi mini bos itu." Ucapnya sambil menunjuk ke arah tengkorak setinggi empat meter itu.


"Kami mengerti!" Sahut sosok bertudung.


"Sebelumnya, apa kau tahu nama dari makhluk itu?" Tanya Yudi.


"!!!"


"Kenapa kau terdiam?" Tanya Yudi lagi.


"Tuan! Nama monster itu adalah Great Skeleton dan berada di tingkat [Besi]." Jawabnya.

__ADS_1


"Oh, begitu ya. Great Skeleton, akan kuingat itu baik-baik. Sekarang lekas lakukan apa yang kuperintahkan!" Ucap Yudi.


"Baik Tuan!" Jawab sosok itu seraya menghilang dari tempatnya berada.


__ADS_2