Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Chapter 22


__ADS_3

'Tidak bisa dipercaya, aku harus melewatkan kesempatan emas ini. Aku tidak sudi melepaskannya.' batin Yudi.


"Kita akan menyelidikinya, kalau benar-benar berbahaya baru kita akan urungkan. Aku tidak menerima penolakan. Kalau berani menolak maka kalian mati disini!"


Wajah-wajah disana memucat, mereka tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sang Mage. Pikiran mereka mengatakan satu hal.


'Dia tidak waras!'


Karena keputusannya sudah dibuat mau tidak mau, terpaksa mereka mencari herbal itu. Lalu Yudi bertanya pada Rawu.


"Apa kau tahu dimana Buto itu tinggal?"


"Aku sebenarnya kurang tahu, tapi kabarnya mereka tinggal di gua. Kuharap kau adalah orang pertama yang ditangkap dan dimakan oleh sang Buto!"


Sontak Yudi menggerakan tongkatnya ke arah kepala Rawu, itu membuatnya meringis dan dengan tampang wajah tanpa dosa Mage itu berkata.


"Wah tongkatku begitu mengkhawatirkan tuannya! Maaf ya, aku kurang mendidiknya untuk menghormati orang lain." Jawab Yudi dengan wajah tanpa dosa.


Mendapat jawaban seperti itu urat kepala Rawu berkedut, sedangkan temannya berusaha untuk tidak tertawa melihat kejadian yang ada di depan mereka. Begitu mendapat delikan Rawu mendadak mereka semua bersikap normal, beberapa diantara mereka bahkan bersiul seolah tidak terjadi apa-apa.


'Sialan!awas saja kau Mage!'


"Sekali saja kau menyentuhkan jarimu kepadanya maka aku tidak akan segan!" Ancam Goruru.


Sebuah belati sudah menempel di belakang pinggangnya, itu adalah Goruru yang memperingatkan Rawu agar tidak bertindak sesuatu yang membahayakan pada penasehat Rajanya.


"Cih! Kau terlalu protektif!" Ejek Rawu.


Goruru mengembalikan belati tersebut ke sarungnya yang ada di pinggang kiri, dia merengangkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Lalu menjawab sindiran Rawu.


"Bukankah itu adalah tugas utama penjaga, memastikan keselamatan orang yang menjadi tanggung jawabnya."


Menerima jawaban Goruru, sebuah senyum terukir di wajah Rawu. Entah bagaimana dia merasa ada sesuatu yang menghangat, saat berbicara dengan orang-orang yang dia serang ini.


'Aku belum pernah merasa seperti ini saat melayani Tuan Virgo Elchamio, dia selalu memandang kami sebagai pion yang kapanpun siap untuk dikorbankan. Namun mereka berbeda, meski aku adalah lawannya tapi dia tetap memperlakukanku sebagai manusia.'

__ADS_1


Selepas dia mengatakan itu dalam hati, kelompok itu terus berjalan dalam diam. Menembus semak-samak yang cukup rumit, mereka akhirnya menemukan sebuah gua raksasa. Tidak ada yang spesial dari gua itu, selain dari ukurannya yang besar.


Saat Yudi terus melangkah untuk mendekati Gua tersebut, semua yang ada dibelakangnya terdiam dan tidak mengikuti. Karena penasaran tidak ada jejak kaki yang mengikuti di belakang, Refleks sang Mage menoleh dan dahinya berkedut saat melihat rekan-rekannya.


Mereka kebanyakan gemetar, beberapa ada yang berpelukan dan yang lainnya sudah ada yang meringkuk ketakutan. Goruru masih tetap pada posisinya, namun sebuah keringat sebesar biji jagung meluncur mulus di dahinya.


'Yasudahlah! Kurasa aku tidak perlu memaksa mereka.' Batin Yudi


"Tunggu di sini sampai aku kembali," perintah Yudi.


"Tu-tuan!" Rayu goruru.


Namun itu terlambat karena Yudi sudah lebih dulu melangkah cepat, untuk masuk ke dalam Gua tersebut. Tujuannya yaitu meminta tanaman herbal Ginseng Morbula dan Jahe Musculias, keduanya akan dia dapatkan untuk membantu Tonu.


Ketika Yudi melangkah masuk ke dalam Gua sebuah suara menggema dari dalam.


"Manusia! Apa keperluanmu kemari?"


Mendengar suara itu mereka yang sudah pucat perlahan mundur ke bekakang, beberapa sudah ada yang mengambil langkah seribu dan bersembunyi di tempat yang agak jauh. Yudi yang mendapati pertanyaan itu langsung merespon.


"Ahahahaha! Meminta tolong, bagaimana kalau aku tidak mau?" Balas suara dari dalam gua.


Mendapat pernyataan seperti itu, Yudi lalu mencoba bernegosiasi pada sang makhluk yang ada di dalam gua tersebut.


"Ayolah jangan pelit, aku benar-benra butuh bantuan! Kalau kau masih tidak mau aku pergi saja!" Ucap Yudi.


"Aaahhhh ke-kenapa buru-buru?" Jawab suara itu dengan panik.


"Iya itu karena kau tidak mau membantu, jadi untuk apa aku terus disini. Tadinya aku mau menawarkan makanan, jika kau bersedia memberikan herbal yang tadi kusebutkan." Balas Yudi pada sang suara.


"Ma-makanan!"


Sebuah suara langkah kaki kini bergema di lorong gua itu. Tidak hanya satu melainkan ada beberapa langkah yang dengan cepat menuju bibir Gua. Goruru yang mendengar itu, melawan rasa takutnya dan segera melindungi Yudi.


'Sial kenapa tubuhku jadi refleks begini,' batinnya menangis pilu karena tubuhnya bergerak sendiri untuk melindungi sang penasehat Raja.

__ADS_1


Suara itu kian mendekat dan membuat tanah berguncang, Yudi dan Goruru bahkan terhuyung ke kanan dan kiri. Lalu dari gua itu muncullah sosok dengan perawakan tubuh tinggi besar, memiliki bulu hitam tipis di dekitar tangan, dada, dan pusar untuk para lelaki.


Sedangkan bagi perempuan memiliki rambut hitam lebat yang diikat agar tidak berantakan, mereka mengenakan kulit harimau yang disambung-sambung untuk menutupi tubuhnya.


Kesamaan yang terdapat pada ke duanya, taring mereka muncul keluar dari mulutnya dan itu membuat setiap yang melihat takut.


'Eh! Apa mereka ini yang disebut Buto?' batinnya.


"Kau bilang makanan? Dimana kau memilikinya?" Tanya seorang Buto yang ada paling depan.


Baik Yudi dan Goruru saling melirik, lalu Goruru mengangguk tanda setuju. Segera Yudi mengangkat tangan kanan, menunjukkan jari manisnya terdapat sebuah cincin spatial.


Meskipun sebagian besar sudah dikeluarkan, untuk pesta pengangkatan Raja Goobu dan stok desa mereka. Cincin itu masih memiliki banyak persedianan makanan. Setelah itu Yudi menjelaskan.


"Di dalam cincin ini setidaknya ada beberapa bakul buah-buahan dan makanan, apa kau bisa menukarkannya dengan herbal Ginseng Morbula dan jahe Musculias." Tawar Yudi.


"Tentu saja, cepat bawa permintaannya kemari." Perintah Buto Cakil.


Seorang Buto terlihat membawa setumpuk Jahe dan Ginseng di tangannya, lalu meletakannya dengan perahan di hadapan Yudi.


"Itu adalah hasil panen kami, amat susah untuk mengembang biakannya. Terlebih lagi ini musim kemarau, belum lagi Holocaust selalu muncul tiap bulan. Membuat kami tidak bisa mengembang biakannya dengan baik. Perkenalkan aku adalah Buta Cakil yang memimpin di Gua ini."


Yudi mengngguk ketika mendengar keterangan yang diampaikan oleh Buta Cakil, lalu dia bertanya.


"Kenapa kau tidak mencoba membunuhku, teman-temanku bilang kalau Ras buto adalah ras kejam yang suka membunuh. Oi kalian semua kemari!"


Karena merasa dipanggil oleh pemimpin, mereka datang dengan lesu. Wajah mereka menunduk karena takut, dengan sosok makhluk yang ada di depan.


"Hal itu aku ketahui dari mereka!" Tambah Yudi.


Para Buto yang disana menggeram mendengar penjelasan Yudi sambil menatap mereka yang baru mendekat, sementara itu Rawu, Goruru dan yang lain tulangnya seakan copot lalu langsung terduduk lemas saat Yudi berkata seperti itu.


"Sepertinya harus diperjelas, agar mereka tidak salah sangka lagi pada kami."


Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Buto Cakil, semua yang sebelumnya mengatakan kalau Buto itu kejam memasang wajah penasaran.

__ADS_1


__ADS_2