Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Chapter 33


__ADS_3

"Ya kalau masalah itu aku juga paham, tapi apa kau serius mau berjaga di sini terus. Sudah satu hari mereka belum kembali, tidak ada niatan mau menjemput." Ucap Lokiting.


"Untuk itu aku mengirim telik sandi, mungkin sebentar lagi dia akan tiba," ucap Lokiteng sambil matanya melihat lihat kalau ada utusannya kembali.


Jauh dari padang rumput ilalang itu, samar matanya menangkap siluet hitam. Perlahan namun pasti siluet itu menampakan wujudnya. Dia datang dengan tergopoh gopoh.


Ketika sudah mendekat Lokiteng langsung menyergah, "bagaimana? Apa yang kau dapatkan dari tempat itu? Bagaimana keadaan mereka?" tanyanya beruntun.


"Oi, bertanya lah perlahan. Kau tidak lihat keadaannya, dia sedang mengatur napasnya. Jadi tahan rasa penasaranmu sampai dia tenang. Kau ambilkan dia minum." ucap Lokiting seraya memerintah salah seorang untuk mengambil minum.


Sang telik sandi menerima air itu dan minum, seperti orang yang baru melewati padang gurun. Setelah dia meneguk habis air di gelas dan napasnya sudah teratur, barulah dia menyampaikan informasi yang didapatkan.


"Kelompok itu sudah dibantai habis," ucapnya dan langsung membuat yang mendengar kaget. Lokiteng bahkan berdiri seraya menyergah, "apa maksudmu itu? Bagaimana mungkin mereka bisa dibantai oleh gerombolan itu?"


sang telik sandi gemetar saat menerima sergahan itu, "saya tidak berbohong, itu adalah kenyataannya. Ini adalah bukti yang kutemukan!" ucapnya seraya menyerahkan sebuah kalung.


Melihat kalung yang menjadi tanda keanggotaan kelompoknya, membuat Lokiteng dan Lokiting naik pitam. Segera Lokiteng mengumpat.


"Kurang ajar! Mereka telah menginjak-injak mayat anak buahku. Sampai kapanpun aku akan ingat ini, kecerobohan sudah membuatku kehilangan anggota berharga." ucapnya.


Lokiting segera melangkah maju, tangannya menepuk pundak sahabat karibnya itu.


"Tenangkan dirimu, aku juga emosi. Ini kesalahan kita, mereka sudah mematuhi semua perintah kita. Pada akhirnya, tangan kita telah mengantarkan mereka pada kematian." ucapnya menahan emosi.


"Aku juga tahu itu, untuk sekarang kita harus menyusun rencana. Bagaimana caranya menghancurkan gerombolan itu!" Tambah Lokiteng.

__ADS_1


"Kau benar, kita harus mengatasi ini dengan kepala dingin. Terima kasih atas informasi yang kau berikan, sekarang beristirahatlah." Ucap Lokiteng seraya menyuruh sang telik sandi beristirahat.


Para anak buah yang lain kini menyiapkan kuda-kuda mereka, sebab Lokiteng menyuruh untuk kembali.


"Setidaknya misi ini berhasil, walau harga yag dibayar adalah dua puluh nyawa teman kita. Segera kita akan kembali ke markas dan membuat makam untuk mereka." ucapnya.


"Baik," jawab mereka serempak.


Setelah itu Lokiteng melompat ke atas kuda, disusul anggota lainnya. Dengan sekali hentakan kuda itu melaju, tujuan mereka adalah kembali.


"Menurutmu, apa yang diinginkan oleh mereka dari prasasti itu?" tanya Lokiting mencoba mengubah suasana hati Lokiteng yang masih suram sebab kehilangan anggota.


"Entahlah, karena aku tidak memiliki Skill [Reading] dan [Learning], jadi tidak memahami tulisan yang diguratkan pada Prasasti itu. Rumor yang beredar, kau harus memiliki kedua skill itu di level Beginner 9 hanya untuk memahami sedikit dari tulisan itu." jawab Lokiteng.


Ternyata usaha yang dilakukan Lokiting tidak sia sia, suasana hati sahabat karibnya itu mulai membaik. Dia bahkan menjelaskan detil apa yang ditanyakan olehnya.


"Kabarnya kedua skill itu butuh di tingkat Intermidate untuk mempelajari huruf-huruf Pallawa. Lalu untuk memahami Aksara Sansekerta, seseorang harus memiliki kedua skill itu di tingkat Advance. Dan kau tahu, tahap itu sangat sulit di capai, hanya mereka yang berada di kelas [Scholarship] atau [Sage] yang mampu membacanya." jelas Lokiteng.


Mendengar penjelasan itu Lokiting tergelak, dia tidak menyangka untuk memahami aksara para dewa dibutuhkan skill level tinggi.


"Apanya yang disebut kemurahan, memberi kita bahasa tapi untuk mempelajarinya sulit begitu. Apa para dewa itu memang berniat membantu kita?" ucap Lokiting sedikit kesal.


"Kenapa kau begitu tidak senang?" tanya Lokiteng.


"Harusnya, kalau mereka mau memberi kita bahasa untuk berkomunikasi. Tidak perlu ada persyaratan untuk memahaminya, biarkan itu bisa dimengerti oleh kita meski skill Reading dan Learning kita berada di tingkat Beginner. Ini malah harus di tingkat Intermediate untuk aksara Pallawa dan tingkat Advance untuk aksara Sansekerta. Bukankah itu artinya mereka mempersulit bukan mempermudah." ucap Lokiting.

__ADS_1


Kali ini Lokiteng tergelak mendengar ucapan sahabatnya itu. Mendapati sahabatnya malah tergelak, ketika dia menyampaikan apa yang ada di kepalanya. Lokiting bertanya.


"Kenapa kau seperti menertawakan persepsiku?"


Lokiteng segera menjawab, "aku juga punya pikiran seperti itu dulu. Kenapa para dewa begitu tidak adil, memberi sesuatu harus ada syarat. Namun, aku menyadarinya beberapa tahun terakhir. Kalau anugerah dari dewa itu sangat mudah di dapat, maka banyak dari kita akan meremehkan. Justru ada syarat untuk mendapatkannya itu, membuat kita menghargai pemberian dari para dewa."


Mendengar penjelasan panjang sahabatnya itu kepala Lokiting berdenyut, dia sama sekali tidak memahami apa yang coba di sampaikan oleh Lokiteng.


"Bisa kau jelaskan dengan cara sederhana, sahabatmu ini masih belum tahu. Bagaimana cara kerja dari kasih sayang dewa itu?" Tanyanya dengan sopan, seakan memohon pada sang guru.


"Ambil mudahnya adalah kenaikan tingkat para Petualang. Untuk naik dari tingkat itu sangat sulit, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Namun, hal itu tidak sia sia sebab setelah kau naik tingkat. Sikap dan kepercayaan dirimu meningkat, itu akan membuatmu menghargai tingkat yang telah kau capai, bukan?" ucap Lokiteng mencoba menjelaskan.


"Iya juga sih, sekarang aku sedikit memahaminya. Tapi tetap saja, apa untungnya coba untuk para dewa memberi kesulitan seperti itu?" Respon Lokiting.


"Tentu saja ada, syarat itu dijadikan patokan bagi para dewa. Jika orang yang ingin memiliki pengetahuan itu memenuhi seluruh syaratnya, maka secara otomatis itu akan jadi miliknya. Contohnya tidak jauh jauh, Skill kita saja butuh beberapa syarat untuk memilikinya, bukan." jawab Lokiteng.


"Oh aku mengerti sekarang, jadi artinya syarat itu hanyalah sarana dari para dewa. Agar pengetahuan yang diberikan oleh mereka, tidak digunakan sembarangan, begitu?" jelas Lokiting.


"Setengahnya sih begitu, aku juga masih terlalu jauh untuk memahami bagaimana cara para dewa mengasihi kita. Yang jelas mereka memiliki cara yang sangat luas, sebanyak hembusan napas makhluk yang ada di dunia ini." ucap Lokiteng mengakhiri pembahasan.


"Kau benar, para dewa kadang susah di tebak. Kadang baik kadang buruk, tergantung bagaimana kita menyikapinya." respon Lokiting.


Mereka terhanyut dalam diskusi itu, sementara anak buahnya celingak celingukan. Karena sama sekali tidak mengerti, dengan apa yang mereka berdua bahas.


Satu hal yang bisa mereka tangkap, kesedihan yang dialami pemimpin mereka yaitu Lokiteng sudah sirna.

__ADS_1


maaf kalau sekarang Update gak teratur, banyak kesibukan. Ini aja aku buat langsung dua jam tanpa henti, kuharap gak membuat kalian bosen.


__ADS_2