Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Awal pertempuran


__ADS_3

"Tidak peduli berapa banyak musuh yang akan kita hadapi, kita harus mengalahkan mereka demi mempertahankan rumah kita!" ucap Yudi memberi semangat pada seluruh orang yang ada di sini.


wajah mereka yang tadinya tegang, karena mengetahui kalau jumlah parah skeleton knight itu sangat banyak. Kini berganti semangat setelah mendengar provokasi dari Yudi


"Musuh sudah datang, mereka para Skeleton sudah bergerak ke tempat kita!" seruan itu berasal dari para pengintai yang lari ke arah pasukan utama.


Dan seperti yang diucapkan oleh para pengintai itu, satu hingga puluhan berlanjut ke ratusan. Skeleton knight mulai berjalan ke arah desa Amarta. mereka mengenakan armor lusuh dan pedang karatan serta perisai bundar di tangannya.


Keadaan mereka jika dilihat sekilas tampak menyedihkan dan sungguh ironis, namun ancaman mereka tidak bisa dianggap enteng. Mereka bagaikan racun yang sulit untuk dimusnahkan.


"Tetap pada posisi, jangan ada yang bergerak sebelum datang perintah dariku. Para pemanah siapkan busur kalian!" perintah Goruru.


Mereka yang menggunakan panah langsung menaruh anak panah pada busur dan menahan nya, untuk menunggu perintah dari sang Jenderal desa Amarta.

__ADS_1


Ketika para skeleton knight itu sudah berada sekitar 20 meter. Goruru langsung teriakan perintah pada para pemanah.


"sekarang lepaskan serangan!"


Anak panah pun meluncur dari masing-masing busur, saking banyaknya anak panah itu mirip seperti tetesan hujan yang turun ke bumi. Para skeleton yang menerima serangan, menggunakan perisai mereka yang rapuh untuk menahan serangan.


Hal itu tampak sedikit berguna, karena dari serangan-serangan itu beberapa di antara mereka bisa bertahan. beberapa anak panah itu itu tampak melesat dan menancap di perisai mereka.


Kali ini para buta yang siap sedia, untuk melancarkan serangan pada para skeleton knight. mereka memegang batu-batu yang besarnya seperti gerobak itu dengan mudah, lalu menunggu aba-aba dari sang Jenderal.


Para skeleton berteriak karena rekan-rekan mereka telah banyak berguguran, lalu mereka mulai menyerang secara membabi buta. Dihunuskan pedang ke depan dan mereka melaju dengan berlari.


Deruman tapak kaki mereka menggetarkan tanah, ketika jarak mereka sudah kian menipis sang jendral Amarta memberikan perintah.

__ADS_1


"Sekarang lempar batu batunya!" teriaknya


Para Buta segera melemparkan batu-batu yang sudah mereka pegang. Batu-batu itu meluncur menuju barisan para sekeleton yang mencoba menyerang secara membabi buta.


Hempasan yang di dihasilkan dari batu-batu itu ketika menerjang bumi, membuat barisan skeleton kacau berantakan. Beberapa di antara mereka ada yang tertimpa batu dan langsung tewas, sedangkan beberapa yang lain terlindas oleh batu-batu itu yang menggelinding.


Meski begitu, barisan mereka yang kacau balau itu perlahan-lahan mulai teratur kembali. Kali ini rongga mata mereka mengeluarkan sinar merah, menandakan mereka benar-benar emosi karena dipermainkan oleh musuh mereka kali ini.


Para tulang-belulang itu kini mengeluarkan aura merah dan Gigi mereka saling berdetak. Entah apa yang mereka lafalkan, Apa itu hujatan? atau itu umpatan? atau itu makian? semuanya tidak ada yang tahu.


Namun satu hal yang mereka pahami dari gestur serta aura yang menekan ini, Skeleton mulai melakukan serangan brutal. Melihat situasi dan kondisinya, sang jenderal berikan perintah..


"sekarang seluruh pasukan berkuda dan yang lainnya persiapkan senjata!"

__ADS_1


__ADS_2