
"Eh, memangnya kenapa harus diperjelas?" Tanya Yudi penasaran ketika mendengar Buta Cakil berkata seperti itu.
Semua yang ada di sana juga merasa aneh, mereka ingin tahu apa yang harus diperjelas.
"Alasan kami mendapat cemohan seperti itu, mungkin karena ulah dari utusan penyihir gelap yang datang kemari beberapa hari yang lalu." Ujar Buto Cakil memulai cerita.
"Saat itu kami sedang melakukan aktifitas seperti biasa, membersihkan sarang sambil membuat pupuk untuk Ginseng Morbula dan Jahe Musculias. Saat kami sedang asyik melakukan pembenahan, tiba-tiba muncul seseorang dengan menggunakan jubah hitam dan memegang tongkat hitam yang di ujungnya terdapat sebuah berlian berwarna ungu." Buta Cakil menjeda ceritanya untuk menarik napas, sementara mereka yang mendengar tidak ada niatan memotong.
"Dia tiba-tiba datang dan berkata dengan sombong "Kalian para Buto harus menjadi bawahanku, aku adalah utusan dari penyihir gelap! Dengan kuasa kegelapan! Kalian harus patuh, jika tidak maka kutukan akan menyebar kepada kalian." Lanjut Buta Cakil.
Yudi yang mendengar apa yang disampaikan Buta Cakil memegang dagu, dia berpikir tentang siapa sosok utusan penyihir gelap itu.
"Apa dia mengenakan kalung dengan lambang tengkorak di lehernya, lalu terdapat paku yang di gigit oleh tengkorak itu!" Sanggah Rawu.
Buto Cakil dan beberapa rekannya mengangguk, saat mendengar sanggahan Rawu. Sementara Rawu matanya melebar dan tangannya menutupi wajah.
"Tamatlah kita ... Dia sudah bangkit!" Ucapnya frustasi.
"Bangkit? Siapa yang kau maksud?" Tanya Yudi dengan wajah polos.
"Apa kau tidak pernah mendengarnya Tuan! Dia merupakan salah satu penyihir yang tertulis dalam Babad Tanah Jawadwipa. Seseorang yang melakukan tapa brata, diatas bukit Sondara dan Sondari untuk mendapatkan keabadian. Sang penyihir gelap sekaligus pembawa petaka, Aditya Puyuh!" jawab panjang lebar Goruru.
"Masalah Holocaust saja sudah membuat kita kelimpungan, kini datang masalah lain. Penyihir legenda dalam babad tanah Jawadwipa kini bangkit. Apa yang sebenarnya direncanakan oleh dewata untuk kita." Ucap mereka dengan nada rendah dan bahu yang melorot.
__ADS_1
"Hm jika begitu adanya, berarti orang ini sangat kuat." Ucap Yudi dengan antusias lalu dia mengarahkan pandangan pada Rawu, yang saat ini masih belum merubah posisisnya."Oi Rawu! Apa kau mengetahui tentang sejarah penyihir gelap atau aditya Puyuh yang disampaikan Goruru." Tanya Yudi pada Rawu.
Rawu dengan ragu menganggukan kepala, lalu mulai menjelaskan. "Dia adalah penyihir yang berasal dari gunung Serandil, amat mahir melakukan malih rupa levelnya saat itu. mungkin sudha berada di kisaran 750an. Saat aku mendengarnya dari orang tuaku, mereka mengatakan kalau Aditya Puyuh adalah seorang mage yang dianugerahi bakat dn kekuatan yang hebat."
"Namun semua itu, membuatnya buta dan mabuk kekuasaan. Hingga akhirnya dia berusaha mencari cara agar bisa menggapai keabadian. Kemudian dia menemukan sebuah kitab rahasia pada jaman kerajaan Kuno. Di situ tertulis kalau raja pertama Jawadwipa menyegel sesosok makhluk abadi di dekat gunung Sondara dan Sondari dengan segel khusus."
"Berbekal informasi itu Aditya Puyuh berangkat, dan sampailah di tempat yang ditunjukan oleh kitab tersebut. Mulai melakukan tapa brata, lalu dirinya mendapatkan semua kesaktian dari makhluk tersebut."
"70 hari dan 70 malam dia melakukan tapa dan bertahan, dia akhirnya mendapatkan restu untuk memiliki dua ajian yag sangat kuat yaitu Rawarontek dna Pancaosna."
"Aku sepertinya pernah dengar tentang ajian itu!" Ujar Goruru.
"Iya kau pasti pernah mendengarnya, mereka yang memiliki kekuatan aja ini. Tidak akan mati, meski bagaimana pun orang menyerangnya. Satu satunya jalan adalah menyegel orang tersebut, agar tidak membuat masalah lagi."
"Saat setelah mendapatkan keabadian, sang penyihir membuat huru hara dan menciptakan Holocaust yang kita kenal saat ini. Kabar mengatakan kalau dia mendapat semacam bisikan jahat, untuk menghancurkan dunia. Namun karena informasinya dibocorkan, dia tidak berhasil menyelesaikan projeknya itu. Dan akhir nya, hanya Holocaust inilah yang ditinggakkan olehnya." Ucap Rawu dengan sangat detail.
"Kau tida pernah cerita sebelumnya!"
"Kenapa kau merahasiakan ini dari kami!"
Mendengar teman-temannya mencemooh dirinya Rawu membela diri. "Bukan maksudku menyembunyikan hal ini dari kalian, tapi yang aku takutkan kalian malah akan mengatakan aku gila. Seebab mengatakan holocaust tercipta, bukan karena sistem dunia ini."
"Dan untuk pertanyaan darimu!" Ucap Rawu sambil menatap Yudi. "Itu benar! Holocaust merupakan salah satu dari tiga rencana kehancuran besar, yang dibuat oleh si penyihir gelap Aditya Puyuh."
__ADS_1
"Aku tidak percaya, kenapa kau yang mengetahui hal semacam ini tidak pernah memberi tahu pada Publik. Kalau kita tahu dari awal, kita bisa menggalang kekuatan untuk menghancurkan awal mula bencana ini." Ucap Goruru sambil menunjuk Rawu.
"Kau pikir mereka akan dengan mudah percaya begitu saja dengan penjelasanku! Yang ada aku akan mati konyol saat menjelaskannya, lagi pula informasi ini saja aku simpan rapat-rapat. Agar tidak sampai bocor, bahkan pemimpinku Virgo Elchamio pun, tidak mengetahuinya." Balas Rawu dengan emosi, sebab disangka menyembunyikan informasi penting.
"Hm tenangkan diri kalian! Kita sedang membahas sesuatu yang menarik, aku akan mencatat sedetail mungkin. Jadi coba ulangi semuanya dari awal agar aku bisa mengikutinya." Ucap Yudi dengan wajah tanpa dosa.
Mereka yang sedang berapi-api berdebat tentang Aditya Puyuh, mendadak termangu saat mendengar ucapan Yudi. Mata mereka menggelap dan segera dua buah bokem mentah menimpa kepalanya.
"Sakit sekali! Apa yang kalian lakukan padaku?"
"Sialan! Sudah tidak nyambung akan penjelasan kami, kau malah berkata seperti itu!" sembur Rawu.
"Apa yang kami bahas ini adalah masalah serius, tuan penasehat! Mohon jangan menganggapnya enteng." Tambah Goruru
Yudi Menggosok bagian yang mengilu, akibat dua bokem mendarat dengan mulus dikepalanya. Dengan kesal dia menatap dua orang pelaku pemukulan.
"Aku juga serius ingin mencatatnya, itu adalah upayaku agar tidak melupakan hal-hal penting karena aku pelupa." Ucapnya sambil menggerutu.
Para Buto yang menyaksikan pertengkaran dari dua kelompok berbeda ras itu tersenyum. Beberapa bahkan ada yang sudah tertawa lebar. Merasa kalau mereka diaangak menghibur para Buto.
Rawu menunjuk para Buto. "Hei kami ini bukan badut sewaan kalian tahu! Jadi berhentilah tertawa." Ucapnya kesal.
"Apa yang diucapkannya benar, kami sedang berdiskusi bukan menghibur kalian." Ucap Goruru menambah ucapan Rawu.
__ADS_1
"Nya hahah maaf jika kami tidak sopan, tapi perdebatan kalian cukup lucu. Aku bahkan tidak bisa menahan tawa melihatnya." Jawab Buto Cakil mewakili temannya.
Setelah mengelap air mata di ujung mata karena kebanyakan tertawa, wajah Buto cakil perlahan serius. "Apa kalian mengijinkan kami untuk bergabung, dengan desa yang kalian buat?" Tanya Buto Cakil.