
"Prabu Kalimantara ya, baiklah aku sudah mencatatnya agar tidak lupa. Oh ya, pasukan apa yang dia bawa saat menyerang kerajaan Girisetra?" Tanya Yudi.
"Ah soal itu, aku tidak tahu. Di dalam berbagai Serat tidak dijelaskan detail tentang pasukan yang dibawanya. Lalu Tuan Penasehat, tolong kau jangan membahas hal ini di depan orang-orang dari Girisetra." Pinta Shadow.
Mendapat permintaan yang agak aneh itu, Yudi malah bertanya balik.
"Memangnya kenapa?"
"Itu karena monster tersebut memberikan kutukan pada penduduk kerajaan Girisetra. Sesaat sebelum dia pergi, Raja Kegelapan itu mengatakan kalau dia akan datang jika penduduk Girisetra atau keturunan dari mereka mengucapkan namanya." Jawab Shadow.
Kini Yudi paham kenapa saat itu wakil kapten Ivar menahan agar informasi inj tidak bocor. Lalu nasehat dari Ki Semar yang mengatakan kalau bisa jadi apa yag ingin dia ketahui, bakal berakibat buruk pada orang lain.
"Aku mengerti, akan kuingat baik-baik!" Balas Yudi.
"Demikian informasi yang aku ketahui mengenai monster tersebut, sekarang apa aku diijinkan undur diri, Tuan Penasehat?" Ucap Shadow.
Saat menerima pertanyaan itu, Yudi baru saja menulis beberapa kalimat terakhir yang disampaikan shadow serta pengingat, untuk tidak mendiskusikan ini dengan penduduk Girisetra. Lalu Mage muda itupun membalasnya, seraya menaruh buku dan penanya ke tempat asal.
"Ah kau sudah boleh pergi, terima kasih atas kesediaanmu menceritakan tentang sejarah Pagebluk Agung dan monster tingkat [Perak] yang meluluh lantakkan Kerajaan Girisetra." Jawab Yudi.
"Kalau begitu, aku pamit! Ki Semar, saya ijin undur diri!" Ucapnya seraya membungkuk.
__ADS_1
"Iya, ceritamu sungguh menakjubkan. Sebelum kemari, aku melihat burung Cendrawasih beterbangan di pohon Jati besar tepat dibalik bukit tersebut. Apa kau bisa menemukannya untukku?" Ucap ki Semar.
Shadow tahu kalau itu adalah isyarat dari Raja Danghyang untuk dirinya. Jadi dengan penuh hormat dia menjawab.
"Akan saya temukan cendrawasih itu untuk anda, Tuan Semarasanta!" Ucapnya
"Kalau begitu, pergilah dan temukan untukku!" Perintah Ki Semar.
"Baik!" Jawab Shadow lalu lenyap dalam sekejap untuk menjalankan isyarat dari ki Semar.
Setelah kepergian Shadow Yudi langsung bertanya pada ki Semar.
"Oh kau sudah memeriksanya?" Potong Ki Semar.
"Ah iya, dan-"
"Bagaimana menurutmu? Apa Item itu cocok denganmu?" Tanya Ki Semar lagi.
"Cocok sekai sih, tapi-"
"Bagus kalau gitu! Apa kau sudah bisa mengeluarkan kemampuannya?"
__ADS_1
"Hanya beberapa, soalnya-"
"Kenapa hanya beberapa, kau harus mencoba yang lainnya!" Potong Ki Semar lagi.
Kesabaran Yudi habis saat Ki Semar memotong ucapannya berkali-kali.
"Sabar dulu dong Ki Semar! Aku kan belum selesai bicara!" Ucap Yudi sedikit meninggi.
Menanggapi itu sebuah senyum terlukis di wajah tua lelaki bertubuh gempal tersebut. Tidak pernah sekalipun, dia jumpai orang dengan sikap seperti sosok yang ada didepannya ini.
"Aku ingin menjelaskan pada Ki Semar, pertama Item ini tingkat kelangkannya di tingkat Platinum yang berarti ini melebihi anugerah dewa. Kedua memang benda ini cocok denganku karena penggunaan benda ini menyesuaikan dengan status kelas si pengguna jadi tidak akan ada masalah. Lalu ketiga bukannya aku tidak mau mencoba yang lainnya, tapi kurasa sekarang bukan saat yang tepat untuk menunjukkan kemampuan tersebut." Jawab Yudi dengan nada sedikit jengkel.
"Tidakkah peristiwa ini mengingatkan dirimu tentang masa lalu?" Respon Ki Semar.
Yudi mendadak ingat peristiwa saat dia memotong beberapa kali penjelasan yang akan di sampaikan Rawu saat hendak menjelaskan tentang sejarah dari wangsa Tuyul, Wangsa Kunti dan Wangsa Wanara.
'Ternyata, ini yang dirasakan oleh Rawu saat itu ya.' Batin Yudi merenung.
"Ki Semar sepertinya kau memberikanku …" Yudi memotong ucapannya sebab sosok itu sudah lenyap dari pandangan. Dengan pelan dia melanjutkan. "… Pelajaran penting lagi! Hah dia pergi lagi tapi Terima kasih, Ki Semar!"
Terima kasih atas kesabaran mengikut cerita ini dan selalu mendukungnya.
__ADS_1