
"Bersulang untuk kemenangan kita!" Seru seorang prajurit dengan tangan mengangkat gelas.
"Bersulang!" Balas yang lainnya menyambut seruan prajurit tadi.
Keriuhan seperti ini terjadi pada kamp milik Kapten Ivar. Tidak pernah mereka duga, kalau bisa tetap hidup di desa yang masih terbilang baru didirikan ini.
"Fuah! Sungguh menakjubkan, kupikir mereka bersikap damai hanya saat tenang saja dan riuh ketika terjadi bencana. Tapi, kenyataan berkata lain, para penduduk desa ini walaupun berbeda beda namun bisa bekerja sama untuk menghadapi Kalabendhu." Ucap seorang prajurit.
"Kau benar, desa ini luar biasa. Meski baru tercipta tapi mereka menunjukkan semangat juang yang tinggi." Balas salah satu temannya.
Pendapat itu terucap sebab jika desa baru biasanya tidak mampu, untuk bertahan dari serangan Kalabendhu tanpa banyak mengalami kerusakan.
Karena kebanyakan desa yang baru berdiri menjadi rata dengan tanah akibat Kalabendhu meski tingkat rendah.
"Selain mereka damai dan mampu bekerja sama, hal yang meningkatkan peluang keberhasilan menghadapi Kalabendhu adalah strategi yang digunakan oleh Penasehat desa muda itu." Ucap Wakil Kapten.
Mendengar ucapan itu, sontak seluruh prajurit yang membuat keriuhan terdiam dan menatap dirinya. Sang wakil kapten merasa tidak enak dan berkata.
__ADS_1
"Kenapa kalian menatapku, apa ada yang salah dengan ucapanku?" Tanyanya.
Tidak ada satupun orang yang membalas ucapannya selain Kapten Ivar.
"Mereka terkejut, karena sangat jarang dirimu memuji seseorang. Apa dirimu kesambet, Indra?"
"Hahahaha!" Tawa para prajurit pecah saat Kapten Ivar mewakili menyampaikan perasaan mereka pada wakil kapten bernama Indra.
"Sialan kalian!" Gerutu Indra seraya meneguk minumannya untuk menghilangkan malu.
Salah satu bawahannya tertarik dengan apa yang baru diucapkan Kapten Ivar dan bertanya.
"Apa maksudmu, kapten Ivar?" Tanya seorang prajurit.
"Saat kita menghadapi Kalabendhu, setiap hari garis depan selalu diganti. Untuk hari pertama yang ada di garis depan adalah Wangsa Goblin yang memiliki jumlah besar. Kurasa itu untuk meningkatkan keberanian. Hari kedua giliran Wangsa manusia yang ada di garis depan dan hari terakhir adalah Wangsa Wanara. Hal ini tampak sepele, tapi itulah yang menjadi kunci kemenangan dalam menghadapi Kalabendhu ini." Jelas Kapten Ivar.
Indra yang mendengar penjelasan kapter Ivar, segera mengutarakan pertanyaan yang muncul setelah mendengar penjelasan sang Kapten.
__ADS_1
"Maaf jika ini lancang, tapi apa hubungannya mengganti posisi garis depan dengan kemenangan? Bukankah itu sama saja, malahan akan menjadi beban mental jika berada di garis depan?" Tanyanya
"Apa yang diucapkan oleh Wakil Indra benar, kita saja mengalami ketakutan jika harus berada di garis depan. Jadi kurasa tidak masuk akal, kalau mengganti garis depan menjadi kunci kemenangan!" Tambah salah satu prajurit
Iya benar, dukung semua prajurit.
Menanggapi semua keluhan anggotanya, Kapten Ivar sunggingkan senyum dan membalas.
"Jadi kalian penasaran kenapa dengan mengganti garis depan merupakan hal penting dalam strategi ini." Ucap kapten Ivar.
"Iya, benar!" jawab mereka kompak.
"Dengarlah, jika dalam desa atau kerajaan itu di isi hanya satu Wangsa saja. Maka berada di garis depan akan menimbulkan kecemasan yang kalian katakan. Namun akan lain ceritanya, jika di desa atau kerajaan tersebut memiliki dua atau lebih wangsa." Jeda Kapten Ivar untuk membuat pasukannya berpikir.
"Ah aku mengerti, jika garis depan di isi secara bergantian. Maka kepercayaan dan kehormatan mereka pada sang Pengatur strategi tetap terjaga, bukan!" Ucap Indra
"Kau benar, Indra!" Jawab Kapten Ivar.
__ADS_1