
Setelah pertarungan itu, kelompok Yudi dan Goruru merapat. Dilihat oleh mereka kalau salah satu rekan Rawu sedang terluka dan dirawat oleh Rawu.
"Bayaran sebuah misi kadang tidak terduga, ini lebih baik daripada kehilangan nyawa." Ucap Rawu sambil merawat temannya.
Mendengar penuturan Rawu hati Yudi seperti di pecut. Ini semua terjadi karena keegoisan dirinya. Tapi dia memang ingin sekali menemukan cara untuk membuat Rajah perlindungan tersebut.
'Tapi kalau sampai jatuh korban karena ambisi Egois ini, aku tidak bisa memaafkan diriku. Lebih baik kubatalkan saja rencana ini,' batin Yudi.
Dia menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan maksudnya, setelah semuanya duduk tenang. Memulihkan tenaga dan HP mereka, serta situasi yang sudah mereda.
Orang yang dirawat Rawu juga sudah membaik, Goruru sedang menyuruh beberapa anak buahnya membangun kemah. Mulailah dia menyampaikan maksudnya untuk membatalkan, mencari tahu cara membuat Rajah perlindungan yang ada di prasasti Yupa kerajaan Kutai.
"Dengar semuanya," ucapnya memulai untuk menyampaikan maksudnya.
Semua yang sedang sibuk kini memfokuskan perhatian kepadanya, ada rasa gugup saat mereka semua langsung menatap arahnya. Hal itu membuat Yudi bertingkah lucu, untuk menampik perasaan gugup tersebut.
"Ada apa, tuan penasehat?" Tanya Goruru ingin tahu.
Yudi masih bimbang untuk menyampaikan, jika dibatalkan maka perjalanan dan pertarungan siang tadi sia-sia. Namun jika dilanjutkan, takutnya akan ada banyak musuh yang menghadang.
Murni sebuah keberuntungan mereka bisa melawan, bahkan membabat habis musuh yang menyergap tadi. Tapi apa hal itu akan berulang, jika kemudian mereka disergap lagi.
Tidak ada kepastian untuk itu, Yudi sudah bulat mau membatalkan niat mencari cara membuat Rajah perlindungan milik Raja Mulawarman.
"Aku rasa kita tidak usah melanjutkan pencarian dari Rajah itu. Saat ini kondisi kita masih lemah, aku tidak ingin ada korban. Kenyataan kita selamat saat ini adalah keberuntungan, namun kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya." ucap Yudi.
__ADS_1
Mereka yang mendengarnya tidak bereaksi, setelah pertempuran itu Yudi tiba tiba membatalkan niat untuk mencari tahu cara membuat Rajah tersebut.
"Lalu kita akan menyiakan usaha kita saat ini, anggotaku ada yang terluka dan kau baru memutuskan untuk membatalkannya. Gampang sekali dirimu memutuskannya." ucap Rawu dengan intonasi tinggi.
Mendengar ucapan Rawu itu Yudi tersentak, memang dia akui kalau ini begitu tiba tiba dan juga sepihak.
"Aku memang semangat mengikuti rencanamu, tapi aku juga bodoh tidak mempertimbangkan hal seperti ini. Saat sudah terjadi, aku baru menyadarinya." cap Rawu lagi
Yudi tidak memberi respon ucapan Rawu itu, apa yang sudah diucapkan Rawu memang benar. Keegoisan dirinya sudah membuat semua orang yang percaya padanya dalam bahaya.
'Andai aku lebih bersabar menunggu kami memiliki kekuatan, kejadiannya tidak mungkin seperti ini. Tapi tidak ada alasan untukku bersedih, saat ini lebih baik aku menunggu agar emosinya meluap.' Batin Yudi.
Namun perkiraannya tidak sesuai dengan kenyataan, Rawu malah menunggu respon Yudi.
"Aku benar benar minta maaf, jika membuat kalian dalam bahaya. Memang ini salahku, karena keegoisan dan keangkuhan membuat kita begini. Jika ada diantara kalian yang ingin marah atau menghujat kupersilakan." ucap Yudi dengan tubuh merendah.
Goruru mencoba membantu. "Cukup Rawu, dia sudah mengakui kesalahannya sebaiknya jangan diperpanjang," ucapnya.
"Diamlah, dia sudah mengijinkan siapapun untuk melampiaskan amarahnya. Jadi kuharap kau jangan ikut campur." ucap Rawu.
"Tapi-" usaha Goruru ditahan oleh Yudi yang merentangkan tangan sambil berkata, "cukup Goruru! Itu keputusanku, apa yang dikatakannnya benar. Biarkan dia melampiaskannya." Ucap Yudi
Setelah menyampaikan itu pada Goruru, segera Yudi melirik Rawu, "silakan kalau kau ingin marah." ucapnya
"Baiklah waktunya bersenang-senang," ucapnya sambil mendekat ke Yudi.
__ADS_1
sebuah tinju melayang dan mendarat mulus di pipi sang Mage, lagi dan lagi pukulan terus menghantam. Tapi Yudi tidak berusaha melawan, karena tahu ini adalah keputusan dirinya.
Setelah puas menghajar wajah Yudi, tanpa di sangka sang Asassin memberikan ramuan obat kepada Yudi sambil berkata.
"Kau lulus," gumamnya.
"Eh!" Respon Yudi masih belum mengerti. "Apa maksudmu?" Tambahnya lagi.
"Tidak banyak orang berani menanggung resiko atas kesalahan nya. Apalagi dia siap menerima amarah dari orang-orang yang dirugikan." ucap Rawu sambil tersenyum.
"Tapi kau melakukannya, karena itu aku memaklumi keegoisanmu itu. Lalu apa rencanamu sudah bulat akan membatalkan perjalanan ini. Padahal tinggal beberapa ribu langkah lagi dan kita sampai?" tanya Rawu
Yudi mengangguk untuk merespon apa yang ditanyakan Rawu, "iya kita akan batalkan itu untuk sekarang, hari ini kita disergap dua puluh orang. Bisa jadi akan lebih banyak lagi musuh yang menghadang kita besok. Saat itu terjadi kita akan tamat. Karena itu kita akan membatalkan rencana ini." jelasnya.
"Baiklah, jadi kita mundur tapi apa kau menyerah?" tanya Rawu untuk mengetahui apa si Yudi menyerah, untuk mengetahui cara pembuatan Rajah Perlindungan Selimut Kalacakra.
"Siapa bilang aku menyerah, kita hanya mundur dulu. Kemudian membangun markas kita dan memperkuat pasukan. Bertahan dari Holocaust beberapa kali, setelah kita cukup kuat. Aku bersumpah akan kembali dan mengetahui tidak hanya satu melainkan ke tujuh Prasasti Yupa kerajaan Kutai ini." Ucapnya dengan yakin.
'Jadi dia hanya mengurungkan niat, karena kekuatan saat ini belum mampu untuk mewujudkannya. Cerdik juga, tidak banyak pendekar yang mau menyarungkan pedang miliknya saat mengetahui kalau lawan yang dihadapinya lebih kuat. Kebanyakan adalah melampaui batas untuk mencoba menumbangkan lawan itu, tapi Yudi malah berpikir sebaliknya. Dia tidak ingin mengambil resiko dan lebih menunggu waktu yang tepat untuk membalas kekalahan ini,' batin Rawu.
"Baiklah aku setuju denganmu, lalu kau Goruru apa setuju dengan keputusan Yudi." tanya Rawu seraya menengok sang Goblin.
Goruru segera merespon, "aku sepenuhnya mengikuti Tuan Penasehat! Jika dia ingin kita mundur sekarang, maka aku akan menngikutinya. Seperti yang diketahui kalau kekuatan kita sangat lemah." ucap Goruru.
"semuanya sekali lagi aku minta maaf atas keegoisan ini, lalu terima kasih karena masih percaya padaku." ucap Yudi menunduk.
__ADS_1
Rawu menepuk pundak Yudi, "aku memukulmu hanya ingin menguji apa kau sungguh sungguh dengan apa yang kau ucapkan. Sebab seorang pria yang dipegang adalah ucapannya. Kau sudah membuktikan padaku kalau ucapanmu tidak berlawanan dengan tindakanmu. Karena itu, angkat kepalamu dan mari kita beristirahat sebab hari sudah mulai larut." ucap Rawu
Tanpa diduga perdebatan dan diskusi ini memakan waktu, sang mentari yang tadi menampakan sinar jingganya sudah menutup diri. Suasana sudah gelap gulita dengan api unggun sebagai penerang dan penghangat badan.