Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Chapter 47


__ADS_3

"Yah terserahlah, lagi pula sekarang aku tidak terlalu memikirkan itu." ucap Rawu seraya mengangkat bahu. "Oh iya, ngomong ngomong pembahasan tadi cukup menarik. Aku tidak menyangka kau begitu waspada tuan penasehat." tambahnya.


Rawu adalah orang kedua yang dipercaya oleh Yudi, harusnya dia menduduki tempat sebagai pemimpin tanpa mahkota. Namun itu dia lemparkan pada bawahanya Reka, yang saat kedatangannya kemari sudah membuatnya kesal.


"Aku tidak tahu alasan kenapa kau menolak menjadi pemimpin tanpa mahkota dari Wangsa Manusia, bisa jelaskan itu?" tanya Yudi.


"Woi harusnya kau jawab dulu pertanyaan dari ku, tuan penasehat?" tanya Rawu lagi.


"Hal mengerikan akan selalu menimpa siapapun yang tidak waspada, di dunia ini yang mana persaingan menjadi kuat dan berkuasa begitu ketat. Sangat mungkin ada beberapa pihak yang mencoba menggeser dominasi dan mengambil keuntungan dari apa yang telah diraih oleh teman terpercayaku." jawab Yudi.


Rawu terkejut dengan sikap yang ditunjukkan oleh Yudi ketika menyampaikan kata kata itu, dia menatap intens dan dari matanya memancar sebuah aura keyakinan yang memiliki pesan tersirat 'tidak akan kubiarkan siapapun mengganggu apa yang sudah kurencanakan'.


"Baiklah aku mengerti, itu juga menjadi keinginan dariku sekarang, sebab aku adalah wakil dalam mengurus pasukan khususmu. Jadi bagaimana perkembangan dari tempat ini." tanya Rawu lagi.


"Nah sekarang siapa yang melupakan jawaban dari pertanyaannya, tolong kerja samanya Rawu." tanya Yudi dengan wajah tersenyum.


'Cih, dia ini orang yang bisa melemparkan trik yang sama pada lawannya. Metode yang dia lakukan bahkan tanpa sadar melupakanku untuk menjelaskan alasan itu.' batinnya.


Menggaruk belakang tengkuknya Rawu menjawab, "karena itu membosankan, dilihat dari sisi keuntungan memang menggiurkan. Tapi ada banyak hal yang harus kita pertimbangkan, aku juga sangat yakin kalau penobatan raja yang baru dari para pemimpin tanpa mahkota itu. Tidak lepas dari persetujuan dirimu, maka dari itu aku lebih senang bekerja dibawah naunganmu." jawab Rawu.


"Baiklah, itu menjawab pertanyaanku terima kasih, lalu status desa ini bisa dibilang lumayan meningkat. Para [Pelajar] dari tiga wangsa yaitu manusia, Kunti dan Wanara. Sudah kusiapkan untuk meramal cuaca untuk ke depannya, lalu konstruksi tembok sudah hampir selesai plus persenjataan juga tersedia. Untuk stok makanan akan bertahan empat bulan secara normal, tapi aku sedang mengembangkan sesuatu agar makanan itu bisa tetap awet agar bisa disimpan. Lalu masalah air sesuai kesepakan bersama, kita akan membuat tujuh lubang sedalam empat belas meter dengan besar lingkarannya enam meter. Prosesnya berjalan lancar terima kasih pada para Buto yang melakukan tugas mereka dengan baik, tanah hasil itu sebagian digunakan untuk membangun rumah penduduk dan pagar kita. Secara keseluruhan kita siap untuk menghadapi Holocaust yang akan tiba 3 hari dari sekarang." jelas Yudi.


"Jika kau ingin mengeceknya silahkan!" tambah Yudi sambil menampilkan jendela biru yang berisi informasi dari desa para Goblin.


Ding!


[Desa Amarta


Level 2 exp to up 19%


Di bangun dengan kegigihan oleh seorang Raja Goblin, wilayah belantara ini sekarang menjadi miliknya.


Militer : 80


Ekonomi : 120


Budaya : 65

__ADS_1


Teknologi : 75


Religi : 78


Pengembangan desa : 190


Keamanan : 88%


Saat ini sudah dibentuk sebuah tentara khusus yang menjadi penjaga wilayah. Terdiri dari Manusia, Buto, Goblin, Kunti, Tuyul dan Wanara yang terorganisir untuk menjaga keamanan desa ini.


Ada banyak bangunan baru


Penduduknya sangat miskin


Para Merchant masih belum mengenali wilayah ini, sebab belum adanya akses jalan kemari.


Membutuhkan banyak ornamen dan beberapa benda kesenian untuk menambah daya tarik wisatawan.


Penduduk Lokal masih belum memiliki kepercayaan pada dewi tapi kebanyakan percaya pada dewi Sri.


Dimasa depan akan menjadi religi resmi dan dibagun sebuah kuil untuk Dewi Sri


Bahan pangan dan Buah-buahan.


Total populasi 2570 orang


Terdiri dari wangsa manusia, Goblin, Buto, Wanara, Kunti, dan Tuyul.


Biaya operasi pengeluaran


Sumbangan untuk kuil Sri 5%


Pengembangan desa 25%


Pengembangan militer 30%]


Ketika Yudi memperlihatkan statistik dari desa ini, keduanya turut senang karena semua statistik yang dilihat olehnya.

__ADS_1


"Seperti yang kau katakan, desa Amarta ini akan cukup kuat untuk melindungi kita dari bencana yang akan datang tiga hari dari sekarang." ucapnya.


"Para prajurit juga sudah kulatih secara ketat demi datangnya petaka itu, mereka juga tampak tidak protes ketika aku meminta jam pelatihan militer di perpanjang. Semoga kita bisa selamat dari bencana ini." ucap Goruru.


'Itu harus, bahkan tujuanku adalah mengungkap misteri dibalik kemunculan dari peristiwa ini. Masih banyak yang bekum ku ketahui, karena itu aku membangun pondasi yang kokoh agar tujuanku bisa terlaksana.' batinnya tenang


"Wah itu bagus sekali, semoga hal ini akan membuat kita bertahan dari Holo-"


Belum sempat Yudi menyampaikan pendapatnya, seorang tentara dari wangsa Wanara datang tergopoh-gopoh dan napas terengah.


"Tu-Tuan penasehat! Diluar gerbang ada sepasukan pasukan besar, sepertinya mereka berniat menyerang kita." ucapnya.


Lalu datang siluet bayangan, memunculkan sosok dengan pakaian tertutup tudung merah dan menggunakan topeng hitam.


"Apa yang disampaikan dirinya benar, tuan. Di depan gerbang desa Amarta sedang ada iring-iringan pasukan besar. Mereka memakai perlengkapan lengkap dan sedang menunggu sesuatu." ucapnya.


"Bagaimana bisa terjadi, segera kita bersiap untuk kemungkinan terburuk."


"Tahan tindakanmu itu Goruru, kita tidak boleh gegabah mengambil keputusan. Sebaiknya kita temui dan bicara dulu dengannya, untuk mengetahui maksud kedatangan tiba tiba ini." ucap Yudi


"Aku setuju denganmu, Tuan. Kita harus tahu dulu alasan mereka datang ke sini, agar tidak terjadi pertumpahan darah yang tidak berarti." tambah Rawu.


"Kalau begitu, mari kita sambut mereka Tuan penasehat." ucap Goruru seraya mengajak Yudi menyambut tamu tiba tiba ini.


"Segera tempatkan semua pada posisi terdekat untuk kemungkinan terburuk, jika ada gerak gerik mencurigakan selama kami bertukar pendapat nanti. Jangan pernah pernah ragu menarik senjata, kau paham." ucap Yudi pada bawahannya itu.


"Hamba mengerti," ucapnya seraya menghilang dari tempatnya berdiri menjadi kepulan asap.


...~||~...


Rombongan prajurit terdiri dari seratus lima puluh orang berbaris rapi, pemimpin mereka menunggangi seekor kuda. Mereka membawa sebuah bendera yang menandakan asal kerajaan.


"Hei, apa kamu harus menunggu lebih lama lagi. Kami haya ingin menemui seorang yang berwenang di sini." teriak pemimpin pasukan itu.


Saat dia berteriak seperti itu, para penjaga buru-buru membuka gerbang. Pemimpin rombongan berpikir kalau teriakannya audah membuat mereka mematuhi, namun dia terkejut saat gerbag terbuka.


Itu karena prajurit desa ini yang terdiri dari berbagai Wangsa berbaris rapi, tiba-tiba barisan itu terbelah dan dari celah barisan itu berjalan tiga orang.

__ADS_1


Seorang Goblin dengan zirah armor lengkap, lalu Assasin dengan jubah hitam, dan terakhir seorang Mage dengan jubah penyihir merah yang menyelimuti keseluruhan tubuhnya.


'Desa ini memang kecil, namun aku merasa mereka memiliki potensi besar di masa depan.' batin sang pemimpin rombongan.


__ADS_2