
"Itu cukup menarik, namun bagaimana dengan konsumsi daya. Kau harusnya paham kalau sebuah Rajah tidak akan berfungsi jika Daya yang digunakan habis, sementara kita hanya memiliki beberapa Magic Core yang mungkin akan bertahan selama 9 hari. Dengan kata lain, kita hanya bisa menggunakannya sebanyak 3 serangan Kalabendhu."
Sebuah Rajah hanya akan digunakan selama masa Kalabendu berlangsung. Jika bencana itu selesai, maka Rajah akan dihilangkan untuk persiapan bulan depan.
Sumber daya untuk mengaktifkan Rajah disebut Magic Core. Amat sulit untuk mendapatkan Item ini sebab langka.
Itu karena Magic Core hanya bisa didapatkan dengan cara menambang di sebuah tempat berkumpulnya energi alam yang besar.
Permasalahannya, semakin banyak energi alam berkumpul pada satu tempat. Semakin banyak Monster yang ada di sana.
Daerah yang terdapat Magic Core sering di sebut dengan Dungeon atau Area Raid. Karena di sana biasanya ada satu monster yang akan mengeluarkan Magic Core jika dikalahkan.
"Saya sudah mengkalkulasi energi yang akan terpakai, bila menggunakan Rajah tersebut. Jug data yang saya dapatkan ada dalam dokumen ini, meski baru perkiraan saja." Jawab Sanjaya seraya menyerahkan kertas hasil uji coba yang dibuatnya.
Mata Widura memicing saat membaca paragraf awal, lalu perlahan melebar saat memasuki pertengahan halaman dan saat membaca bagian akhir dia langsung berlonjak.
__ADS_1
"Ini sangat bagus, kau telah menemukan formula yang bagus. Segera buat Blue Print aslinya dengan sempurna dan kita akan memberikannya pada Raja Goobu dan Penasehat desa untuk dipertimbangkan. Selain itu, buat juga model lain apabila Model ini ditolak." Ucap Widura.
"Akan saya laksanakan, Tuan!" Jawab Sanjaya.
Tidak hanya gagasannya yang mampu mempersatukan seluruh Wangsa disini. Tapi bahkan dengan menduplikasi dan mengaplikasikan ke dalam bentuk Rajah Hal yang diluar dugaan tercipta. Penasehat Desa itu, siapa dia sebenarnya? batin Widura.
Di tempat lain bangsa Buto sedang bersantap ria sambil bersantai. Meski jumlah mereka bisa dihitung jari, namun kekuatan mereka berpengaruh besar terutama saat menahan Great Skeleton.
Meskipun yang mengalahkannya adalah Sosok yang tidak dikenal yang mengaku ketua dari prajurit bayangan penasehat desa Amarta.
Buto Cakil yang di tegur segera membalas.
"Ah tidak ada apa-apa," dustanya.
Namun Buto itu tidak percaya dengan alasan seperti itu. Sebab dari tadi Buto Cakil termenung, seakan memikirkan sesuatu yang janggal.
__ADS_1
"Ketua! Kita para Buto hanya memiliki otak sebesar genggaman tangan manusia dewasa. Jika kau membebani dengan berlebihan bisa-bisa akan hancur lo!" Canda sang Bawahan.
Para Buto memang memiliki ukuran otak kecil dan hanya sebesar genggaman tangan manusia dewasa. Karena itu mereka kurang tanggap akan sesuatu.
Hal yang mengerikan dari mereka adalah ketahanan terhadap cuaca ektrim dan kekuatan tubuh yang besar.
Namun mereka memiliki senjata ampuh yang digunakan untuk menilai seseorang apa dia baik atau buruk, Senjata itu adalah Intuisi.
Dengan satu senjata bernama Intuisi itulah, mereka bisa selamat dari berbagai bencana dan kehancuran.
"Aku tidak sedang membebani otakku, tapi rasanya aneh saja melihat sosok yang kekuatannya begitu mengerikan, Buta Aliwung!" Balas Buto Cakil.
Jawaban yang diberikan oleh ketuanya itu bisa dipahami Buta Aliwung sebab dia melihat sendiri kekuatan dari sosok bernama Shadow itu.
"Daripada merasa aneh, lebih baik kita bersyukur karena dia berada di pihak kita." Ucap Buta Aliwung.
__ADS_1