Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Chapter 32


__ADS_3

Meski sudah mendapatkan permintaan maaf dari Rawu, atas sikapnya yang membatalkan rencana mencari petunjuk pembuatan Rajah perlindungan milik kerajaan Kutai. Namun masih ada yang mengganjal di hati Yudi.


Itu karena dia belum tahu apa yang dirasakan oleh Goruru. Goblin bawahan Goobu itu mungkin menurutinya, namun dia ingin memastikan apa dia benar benar tulus.


Saat bagian jaga Goruru berakhir, Yudi menghampiri karena sudah bagian dirinya berjaga.


"Goruru, giliranku telah tiba! sekarang kau bisa istirahat!" ucapnya.


"Baiklah, ku percayakan selanjutnya padamu Tuan Penasehat!" balas Goruru seraya berdiri untuk melenggang istirahat.


Ketika Goblin itu hendak melangkah, Yudi menginterupsinya. "Goruru, apa kau benar benar menerima keputusan yang telah kubuat?" tanya Yudi.


"Apa maksudmu, Tuan Yudi?" tanya balik Goruru dengan alis terangkat.


"Bercermin pada sikap Rawu, apa kau memiliki kekesalan atau umpatan yang kau tahan Goruru. Aku sudah egois meminta kita mencari Prasasti itu, lalu bersikap seolah tak ada yang bisa menghentikan kemauanku. Namun ketika kita tersudut dan hampir meraih tujuan. Aku malah seenaknya membatalkan niat itu. Padahal bayaran untuknya adalah luka-luka, apa kau benar benar tidak memiliki kemarahan padaku?" tanya Yudi yang masih dirundung kekhawatiran kalau ada yang di simpan oleh bawahan Goobu itu.


"Demi Dewi Sri! Kau masih memikirkan perkara itu. Tuan penasehat maksudku Tuan Yudi, sejak kau membantu kami melawan kelompok Guild perdagangan budak yang diketuai oleh si Tego itu. Keraguanku pada dirimu lenyap." Jelas Goruru.


Lalu Goblin itu tersenyum, "aku di awal awal juga meragukanmu. Maksudku bisa bisanya Tuan Goobu percaya pada dirimu seratus persen. Bahkan ketika engkau meminta syarat, dia menyetujui walau timbul keraguan saat aku mempertanyakan tentang syarat nomor tiga." Jelasnya sambil tergelak ketika mengingat kembali momen itu.


"Jadi jangan ragukan kepercayaan diriku padamu, Tuan Penasehat!" ucapnya sambil meninju pelan dada Yudi.


"Sepertinya aku banyak bicara, huaam... Masih ada sedikit waktu untuk beristirahat. Kalau begitu, aku tinggal dulu ya, Tuan Penasehat!" ucapnya sambil melenggang pergi.


Yudi bahkan belum sempat menjawab apa yang baru disampaikan Goruru. Namun punggung Goblin itu menjauh, ingin rasanya sang Mage memanggil untuk mendengar responnya.


Tapi hal itu tidak dia lakukan mengingat, karena akan membuat waktu istirahat sang Goblin tersita.

__ADS_1


'Terima kasih atas kepercayaanmu, Goruru.' itulah kalimat yang dia katakan dalam hati.


Yudi memandang langit malam, banyak bintang yang menyambut. Ada yang bersinar paling besar dan ada yang kecil. Ada yang berkelap-kelip dan ada yang menyorotkan cahayanya.


Semilir angin malam juga membelai lembut rambut dan wajah, sang alam seakan menghibur Yudi yang terus dirundung rasa bersalah.


Apa ini sikap berlebihan darinya atau mungkin pertama kali rasa percaya dirinya membuat nyawa orang disekitarnya terluka. Yang mana pun, hal itu sudah berlalu.


Meskipun dia mendapatkan maaf dan respek karena sikap nya. Namun dia masih belum tenang.


"Aku benci mengakuinya, tapi aku ini orang yang berlebihan. Agar hal ini tidak terulang, aku tidak boleh gegabah mengambil keputusan."bucapnya atau lebih tepat disebut sumpah.


Setelah mengatakan itu dia melanjutkan tugasnya. Waktu terus bergulir dan akhirnya sang mentari menampakan sinarnya malu malu.


Perlahan-lahan kehangatan pagi menyelimuti bumi, menggantikan rasa dingin yang di bawa oleh malam. Hal itu juga seakan sebuah simbol atau nasehat untuk Yudi.


Skip time satu hari


Sebanyak 200 orang bersiaga di sekitar Prasasti Yupa. Peninggalan yang menjadi kebanggaan kerajaan Kutai. Namun mereka merahasiakannya, sebab ada sesuatu yang akan mengundang petaka jika sampai tersebar luas.


Prasasti itu berbentuk persegi empat dengan lebar satu setengah meter dan tinggi dua meter. Di sana terpahat dengan tinta emas, catatan yang ditulis oleh para Brahmana.


Aksara yang digunakan adalah Pallawa, sebuah aksara yang lebih muda dari milik para Dewa yaitu Sansekerta.


"Kenapa rombongan yang kita kirim belum juga kembali," keluh pemimpin.


Salah seorang wakilnya menanggapi, "mungkin saja mereka sudah menghabisinya, lalu para penjaga itu berpesta sampai lupa waktu." Ucapnya enteng.

__ADS_1


"Lupa waktu tidak mungkin sampai satu hari, harusnya mereka melapor kepadaku dulu. Apakah berhasil atau gagal." Sergah pemimpin.


"Kayak gak tahu sifatmu aja, Lokiteng. Kalau berhasil kau baru senang, tapi kalau gagal mulutmu akan sumpah serapah." Ucap Wakilnya.


"Itu sebuah hal yang memang harus kulakukan, Lokiting. Anak buah yang diasuh seperti bayi, mental mereka akan seperti bayi. Malah lebih parahnya adalah mereka akan menusuk dari belakang." Geram Lokiteng merespon apa yang baru disampaikan rekannya.


Sedangkan Lokiting hanya angkat bahu, kelakuan dari ketuanya memang berhasil membuat anak buahnya menurut sepenuhnya. Tidak ada satupun yang berani menentang.


Saat dia sudah menyuruh maka bawahannya akan menurut, termasuk dirinya. Lagipula dia tidak menggunakan cara diluar nalar manusia untuk mendidik mereka.


Ada satu atau beberapa kali dia berbaik hati menghibur bawahannya, kadang jika ada uang lebih dia menjadi bandar untuk membeli makanan dan tuak anak buahnya.


Didikan yang keras serta sikap yang lembut dilain kesempatan, sudah membuat bawahannya respek pada kepemimpinannya. Apalagi selama ini dia selalu membela kepentingan bawahannya dihadapan petinggi kerajaan.


Bagi mereka sosok dirinya adalah Raja kedua disamping Raja kerajaan saat ini. Ilmu sederhana yang dimiliki oleh Lokiteng, dia dapatkan dari mendiang gurunya sebelum wafat.


Saat terbaring kaku di kasur pembaringannya, sang guru yang telah merawat dan memberinya pengetahuan kanuragan menasehati.


"Jika kau menjadi seorang pemimpin hendaklah, kau bersikap adil dan bijaksana. Sebagai bekal aku memberimu sebuah ilmu kanuragan. Nama dari ilmu ini adalah Aji Brajamusti! Jangan gunakan ilmu ini dijalan keburukan, tapi gunakanlah untuk membela kepentingan orang lain dan melindungi Kerajaan." Pesannya sebelum mengembuskan napas terakhir.


Pesan itu diukir dengan tinta emas di hati dan di stempel dengan air mata kehilangan. Dia juga membubuhkan tanda tangan keteguhan sumpah untuk melaksanan pesan sang guru.


Disinilah dia berdiri sekarang, sebagai salah satu dari Sakapitu yang mendapat mandat dari Raja Mulawarman ke delapan. untuk menjaga kerahasiaan 7 prasasti Yupa peinggalan Raja Mulawarman pertama.


"Apa pentingnya sih, bongkahan batu ini. Orang-orang di Benua ini sudah lupa dengan aksara Pallawa yang merupakan bahasa turunan dari para Dewa. Untuk membacanya saja sangat sulit, sudah sedikit juga yang mengetahui aksara itu sekarang." Keluh Lokiting.


"Legenda mengatakan kalau aksara itu diberikan oleh Sang Hyang Sri sebagai penghormatan, karena persembahan dari Raja Mulawarman. Jadi jangan sembarangan kau bicara, benda ini adalah sesuatu yang menyamai dengan senjata sang Jawara Tombak dari Benua Jawadwipa, tahu!" ucap Lokiteng membalas keluhan Lokiting.

__ADS_1


__ADS_2