Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Rehat sejenak 2


__ADS_3

"Tolong jelaskan dengan lebih mudah agar kami bisa mengerti!" Pinta seorang prajurit mewakili yang lainnya.


"Begini, dalam sebuah tim yang berisi berbagai macam orang. Amat penting bagi sang ketua untuk menempatkan anggotanya pada tempat yang sesuai." Balas Kapten Ivar.


Ketika kapten Ivar menjelaskan begitu, salah satu prajurit menyela.


"Soal itu kami sudah tahu," ucapnya.


"Nah jalu begitu dalam peperangan besar, bagian mana yang jika kau berada di situ. Maka kau akan bisa dengan bangga, menceritakan kisah mengagumkan setelah perang usai?" Tanya kapten Ivar.


"Tentu saja, garis depan!" Jawab mereka kompak.


"Tapi yang jadi soal, kenapa berada di garis depan bisa menentukan kemenangan?" Tanya seorang prajurit.


"Setiap kelompok memiliki kehormatan dan harga diri. Kita ambil contoh demikian, jika seandainya kerajaan Girisetra terdapat dua wangsa. Sudikah kalian jika wangsa manusia selalu berada di garis belakang dan dalam suatu waktu wangsa lain yang selalu berada di garis depan, membanggakan diri mereka dengan cerita berlebihan karena selalu berada di garis depan?" Tanya Kapten Ivar.


"Tentu saja tidak, kita pasti meminta agar posisi garis depan diganti. Karena itu sama saja, sang Pengatur strategi meremehkan wangsa manusia!" Jawab tegas seorang prajurit.

__ADS_1


Mendengar jawaban seperti itu, kapten Ivar tersenyum. Kali ini wajah bawahan nampak terkejut, karena memahami apa yang diucapkan dia sebelumnya.


"Pendapat seperti itulah yang dihindari oleh sang Penasehat desa Amarta ini. Dia sebisa mungkin meminimalisir timbulnya kesenjangan yang akan menyebabkan perpecahan."


Semuanya mengangguk sebab memahami sepenuhnya apa yang diucapkan kapten mereka.


...[Di balik bukit]...


Shadow dengan sabar dan takut menunggu kedatangan Ki Semar. Dia berdoa semoga sosok itu tidak marah padanya.


"Apa yang membuat dirimu gelisah, Shadow!" ucap ki Semar yang muncul tiba-tiba di depannya.


"Aku terima hormat darimu, sekarang berdiri! Aku ingin mendengar pendapatmu tentang orang yang aku perintahkan kau untuk mengawasinya!" perintah ki Semar.


Shadow mengubah posisinya dan mulai menceritakan segala hal tentang Yudi.


"… Masih belum diketahui dari mana dia berasal dan siapa kedua orang tuanya. Namun mengenai tempat tinggal, dia mengatakan kalau berasal dari sebuah desa bernama Pulong Ati. Jaraknya sekitar 250 ribu langkah dari kerajaan Kutai." Jawab Shadow.

__ADS_1


"Aku mengerti, lalu bagaimana dia bisa ada di kerajaan Kutai? Apa secara kebetulan dia dititip oleh orang yang datang ke kerajaan Kutai?" Tanya Ki Semar.


"Mengenai itu, dia berkata kalau tidak ingat apapun selain dari yang diceritakan oleh Luin yang menyelamatkan dirinya." Balas Shadow.


"Artinya masih banyak Puzzle tentang dirinya ya, sungguh bocah yang menarik." ucap Ki Semar.


Shadow tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rajanya kali ini. Biasanya dia bersikap tidak peduli dengan apapun dan siapapun.


Tapi entah bagaimana, kali ini sang Raja begitu antusias pada seorang bocah. Apalagi dia memerintahkan dirinya untuk menjaga bocah itu dari dekat.


"Maaf jika ini lancang, Tuanku! Tapi kenapa dari sekian banyak orang, kau malah tertarik pada bocah itu yang notabene tidak menunjukkan sikap hormat padamu." Tanya Shadow heran.


"Oh tidak kusangka, kau akan bertanya seperti itu? Apa menurutmu aku terlalu berlebihan?" Tanya ki Semar.


"Bukan seperti itu maksud saya, Yang Mulia! Saya begitu penasaran, kenapa anda begitu tertarik pada bocah tersebut. Padahal anda merupakan sosok Agung dan salah satu penguasa Alam Mayapada ini. Bahkan andalah yang harusnya mewarisi singgasana kahyangan Jonggring salaka." Ucap Shadow.


"Ahaha, sungguh berlebihan kau memuji orang tua ini. Sebenarnya ku tertarik pada bocah itu, karena sikapnya padaku biasa-biasa saja." Jawab Ki Semar.

__ADS_1


Mendengar jawaban itu, Shadow tambah bingung dibuatnya.


__ADS_2