
Ditengah keriuhan rapat yang diadaku untuk persiapan menghadapi Kalabendhu. Kapten Icar mengangkat tangannya.
"Maaf jika saya lancang! Tapi bolehkah saya mengajukan pendapat dalam rapat ini."
Hal itu disambut baik oleh Yudi, para hadirin yang riuh menjadi hening untuk mendengarkan pendapat dari kapten kerajaan Agung itu.
"Silakan sampaikan pendapat anda, Kapten Ivar!"
Setelah mendapat ijin dari Goobu, segera Ivar menyampaikan pendapat.
"Terima kasih atas ijinnya, lalu pendapat saya. Pertama kita harus mempertimbangkan hal yang menjadi keuntungan desa ini. Kerajaan Agung Girisetra memiliki tembok tinggi dan beberapa peralatan perang juga Rajah perlindungan. Namun, ada satu hal yang selalu kami lakukan ketika para monster Kalabendhu muncul."
Ketika mendengar penjelasan kapten Ivar. Sebuah tangan teracung dan itu adalah Rawu.
"Kalau boleh tahu, apa satu hal yang selalu kalian lakukan ketika monster Kalabendhu itu muncul?"
Kapten Ivar mengangguk dan membalas.
"Sebelum mereka muncul kami biasa membuat jebakan berupa lubang dalam dengan duri di dasarnya. Selain itu tanah hasil galian, kita buat sebuah gundukan untuk memperlambat mereka. Rencana ini sebenarnya versi lain dari milik anda tuan Rawu. Namun keefektifan rencana ini lebih besar. Karena para Monster hanya bergerak maju tanpa menghindari jebakan."
Rawu mengangguk saat menerima penjelasan kapten Ivar. Lalu tangan lain teracung dan itu adalah Widura.
"Aku berpendapat itu lebih baik daripada kita membuat tembok kayu, tapi yang menghancurkan desa kami adalah monster setinggi 3 sampai 4 meter apa yang harus kita lakukan."
Kapten Ivar tersenyum sambil melirik bangsa Buto yang serius mendengarkan diskusi ini. Lalu tangannya dengan santun mengarah pada mereka.
"Mereka adalah tipe besar, tapi musuh seperti itu pasti bisa dihadapi karena ada bangsa Buto disini. Monster berukuran besar itu akan diurus oleh bangsa Buto, sedang yang kecil kita yang mengatasi."
Para hadirin mengangguk-angguk ketika mendengar jawaban kapten Ivar. Lalu Asuman memberikan kesimpulan.
"Jadi, musuh kecil akan diatasi oleh jebakan dan serangan wangsa yang seukuran, sedangkan yang besar akan dilawan bangsa Buto. Kurasa pendapat anda sangat logis."
"Jangan lupa kita juga punya dukungan dari Rajah yang dibuat oleh wangsa Kunti, sehingga persentase keberhasilan kita bertahan bertambah besar." tambah kapten Ivar.
__ADS_1
Semuanya pun menyetujui, kemudian Yudi segera memberikan keputusan.
"Jadi kita sepakat untuk menggunakan rencana kapten Ivar. jika begitu rencana dari kapter Ivar akan kita gunakan, lalu Baginda Goobu! apa ada tambahan dalam rencana kita ini?"
Goobu kemudian bangkit dari kursinya.
"Aku menyetujuinya, karena rencana untuk menghadapi Kalabendhu sudah diambil, saatnya untuk bekerja. Ayo kita tunjukan, kalau kita mampu bertahan dari Kalabendhu!"
"Yaa!!"
Tempat itu bergemuruh karena sorakan semangat, menanggapi ucapan sang Goblin Lord.
Segera Yudi mengatur tempat-tempat yang harus digali dan memerintahkan juga, membangun menara untuk mengawasi kemunculian monster-monster itu nantinya.
Kapten Ivar sendiri takjub melihat pemandangan di depannya, karena di kerajaan Girisetra hanya ada manusia dan beberapa wangsa lain. Itupun kadang sering terjadi keributan jika suasana damai.
Persatuan di kerajaan Agung Girisetra hanya terjadi ketika Kalabendhu akan datang, barulah semua bersatu untuk bertahan dari ancaman yang selalu datang itu.
Meskipun Ivar tidak mengetahui detail bagaimana keseharian mereka saat masa damai. Namun dia bisa merasakan atmosfer di sekitar desa yang penuh kehangatan dan kelembutan.
Seakan ada sosok Arif nan bijak yang membuat semuanya beresonansi dengan alam dan juga tentram. Hal yang paling membuatnya terkejut adalah pemimpin desa ini bukan seorang manusia melainkan seekor Goblin.
Umumnya ada rasa aneh dikalangan para wangsa lain untuk diperintah wangsa Goblin. Tapi wangsa Kunti yang biasanya arogan, tampak menurut dan tidak mempermasalahkan.
Juga wangsa lainnya menerima kepemimpinan dari Goblin tersebut, malahan mereka menghormati dan menghargai pemimpinnya.
"Kapten Ivar! Saya merasa kita berada di kerajaan kuno Majapahit. Di dalam buku sejarah Babad Tanah Jawadwipa, dahulu kerajaan kuno itu memiliki banyak wilayah dan para penduduknya terdiri lebih dari enam atau lebih wangsa berbeda. Mereka hidup makmur dan aman, serta tidak terjadi perselisihan. Sekarang, melihat desa ini, seakan melihat miniatur dari kerajaan kuno Majapahit." ucap salah satu bawahannya.
"Kau benar, itu adalah satu-satunya kerajaan yang menyandang gelar [Kerajaaan Wingit]. Sebuah gelar yang tidak mungkin ada lagi, kecuali Mahaprabu Agung Hayam Wuruk bereinkarnasi ke zaman ini." jawab Ivar sambil mengangguk dan menatap langit.
Mereka bergotong-royong membuat lubang dan gundukan seperti yang telah ditetapkan, juga membangun menara untuk mengawasi kemunculan monster Kalabendhu.
Ketika pengerjaan rencana semuanya tertawa dan bergembira, para Kunti dan Tuyul melakukan perang lempar tanah liat. Para Goblin dan Wanara malah melakukan adu tanding menggunakan pedang kayu.
__ADS_1
Para manusia menjahili para Buto sehingga kadang kayu-kayu yang mereka bawa jatuh, ya intinya mereka melakukan proyek itu dengan riang gembira.
Tidak memikirkan Kalabendhu yang kian mendekat, namun bukan berarti mereka menganggap remeh bencana rutinan itu. Mereka hanya melepaskan beban, untuk menghadapi situasi berat yang akan datang.
Tanpa terasa tiga hari sudah berlalu dan besok Kalabendhu akan tiba, dikala semuanya berjalan sesuai rencana. Yudi meneguhkan tekadnya.
'Apapun yang terjadi kami akan melindungi rumah ini. Besok adalah penentuannya, sudah tiga hari kami membuat rencana berjalan tanpa hambatan lalu besok. Panggung perdana desa ini menghadapi Kalabendhu dimulai.' gumamnya.
Malam itu semua orang berkumpul bersama keluarga mereka, merasakan kehangatan yang mungkin adalah terakhir kali bisa dirasakan dari orang-orang yang akan berjuang melawan bencana rutinan itu.
Para Tuyul sudah memberikan hasil kerja pada mereka yang akan maju ke medan perang, para Kunti sudah menyelesaikan pekerjaan mereka memasang Rajah perlindungan di desa ini.
Para Buto dan Wanara bergantian berjaga, kalau-kalau monster datang untuk menyerang desa Amarta. Kapten Ivar dan pasukannya juga ikut berpatisipasi.
Dalam ruangannya, sang Raja Goobu sedang berlutut pada sebuah altar Dewi Sri. Yang merupakan sesembahan dan pelindung dari Wangsa Goblin dan beberapa Wangsa lainnya.
"Oh Dewi Sri! Berikanlah berkahmu pada desa yang baru kubangun ini, jagalah selalu para Rakyatku agar bisa selamat dan melalui Kalabendhu dengan aman."
"Engkau adalah yang Pengasih! Demi kepentingan semua makhluk, pada saat penitisan ke dunia, kau mengubah jasadmu menjadi kebutuhan pokok semua makhluk."
"Dari kepalaMu muncul pohon kelapa. Dari hidung, bibir, dan telingaMu muncul berbagai tanaman rempah-rempah wangi dan sayur-mayur. Dari rambutMu tumbuh rerumputan dan berbagai bunga yang cantik dan harum. Dari payudaraMu tumbuh buah buahan yang ranum dan manis. Dari lengan dan tanganMu tumbuh pohon jati, cendana, dan berbagai pohon kayu yang bermanfaat; dari alat kelaminMu muncul pohon aren atau enau bersadap nira manis. Dari pahaMu tumbuh berbagai jenis tanaman bambu. Dari kakiMu muncul berbagai tanaman umbi-umbian dan ketela; terakhir dari pusaraMu muncullah tanaman padi bahan pangan yang paling berguna bagi semua makhluk."
"Oh Dewi pemenuh kebutuhan semua makhluk, kabulkanlah permintaan hamba!"
Begitu khusuk sang Raja Goblin sampai tidak menyangka kalau hari telah pagi, menandakan Kalabendhu akan segera dimulai.
Author note
Hai semuanya, maaf ya jika ada yang bosen menunggu cerita ini. Sejujurnya aku juga riset buat kelengkapan dunia yang kubangun di cerita ini.
Terima kasih ya yang sudah favorit cerita ini dan membaca serta memberi dukungan. Sampai jumpa di Chapter selanjutnya!
Jangan lupa komennya :')
__ADS_1