
Dua hari telah berlalu sejak mereka berangkat dari kerajaan Kutai. Kebutuhan mereka terpenuhi sebab Yudi dan Goruru sudah mempersiapkannya.
Ilalang terbentang luas di depan mata, tingginya sekitar satu meter dua centi. Angin sepoi-sepoi membuat daun ilalang terayun-ayun. Semua orang mencari dimana prasasti Yupa berada.
"Peta ini menuntun kemari, tapi aku belum melihat tanda-tanda adanya Prasasti Yupa itu. Apa kalian sudah melihatnya?" Ucap Yudi sambil memperhatikan pasdang ilalang yang diyakini tempat prasasti berada.
Goruru juga menanggapi, "aku juga belum melihatnya, apa kau yakin Prasasti itu asda di sini Yudi?" tanya sang Goblin.
Yudi kembali memperhatikan peta yang diberikan Luuin, tanda X yang menjadi tempat keberadaan Prasasti itu. Tertulis tepat di areal padang ilalang. Namun dia tidak tahu tepatnya, letak dari prasasti itu berada.
"Menurut peta ini, kita sudah dekat. Namun aku sama sekali tidak tahu letaknya?" Ucap Yudi kesal.
"Sini biar aku yang melihatnya?" Pinta Rawu sambil memyodorkan tangan meminta peta itu dari Yudi.
"Ini, aku sudah pusing mencarinya!" ucap Yudi menyerahkan peta itu pada Rawu.
Setelah menerima peta yang diberikan Yudi, mata Rawu mulai menjelajahi peta tersebut. Beberapa kali dia melihat beberapa tanda di peta dan mencocokan dengan yang ada diskitar. Setelah puas diapun berkata pada Yudi.
"Kau menuntun kita pada jalan yang salah, tanda X itu berada diantara 4 pohon yang mengitarinya. Sedangkan di sini tidak ada satu poun pohon yang tumbuh membentuk persegi empat." Ucap Rawu.
Mendengar penjelasan Rawu, mata Yudi mulai memperhatikan lebih teliti sekitarannya. Dan memang tidak ditemukan pohon di sekitar mereka berada.
"Aku rasa kau benar!" Ucap Yudi sambil cengengesan.
"Hah, pantas saja dari tadi kita tidak menemukan satupun petunjuk? Lalu dimana menurutmu perasasti itu berada tuan Rawu?" tanya Goruru.
Rawu memegang dagunya, matanya fokus pada tanda-tanda di peta. Untuk menunjukkan letak mereka berada saat ini, mengobservasi dan mencocokan dengan keadaan. Akhirya Rawu bisa menyimpulkan.
__ADS_1
"Tempat kita berada sekaramg di sini!" Jarinya menunjuk sebuah titik dimana ada bulatan besar di sebelah kirinya. "Jika kita ingin menemukan prassasti itu maka, kita harus pergi ke arah serong kanan sampai menemui tanda sebuah pohon besar pertama." Ucap Rawu menjelaskan.
"Saat kita sudah menemukan tanda dari pohon pertama maka tujuan kita sudah dekat. Skala di peta ini adalah satu banding seribu langkah. Dengan kata lain jarak kita dengan pohon besar pertama adalah lima ribu langkah, lalu dari pohon pertama sampai prasasti itu dua ribu langkah."
Rawu menghela napas saat menjelaskannya, memberikan penjelasan merupakam hal yang paling dia tidak suka. Tapi dia juga penasaran dengan yang ada di dalam Prasasti itu, jadi dia tetap melakukannya meskipun hal itu tidak disukai.
"Maka jarak kita dengan Prasasti itu adalah tujuh ribu langkah lagi, jika kita cukup beruntung kita akan sampai sebelum gelap dan berkemah. Tapi kalau ada hal diluar dugaan maka bisa lebih lama." Ucapnya mengakhiri penjelasan tentang lokasi dan jarak yang harus di tempuh mereka.
"Kau bahkan memperhitungkan hal-hal dilkuar dugaan, pantas saja Merchant Virgo mempercayaimu?" Puji Yudi.
"Benar yang dikatakan Tuan Yudi! Kau sangat pandai dalam tipografi sampai-sampai bisa tahu letak kita saat ini, lalu memperhitungkan jarak kita dengan prasasti itu. Aku kagum denganmu, tuan Rawu!" puji Goruru
"Yah terserahlah, aku berterima kasih atas pujian nya. Namun fakta berkata lain, yang lebih penting ayo kita segera bergerak. Supaya kita tidak sampai ketika gelap." Ajak Rawu.
Yudi dan Goruru mengangguk, pertanda setuju dengan usulan yang diberikan Rawu. Kelompok itu kembali bergerak menuju arah yang ditunjuk oleh sang mantan pemimpin bandit.
"Kau kenapa, Goruru?" tanya Yudi.
Mungkin perasaanku saja, batinnya. Kemudian dia menepis apa yang ditanyakan Yudi. "Ah tidak ada apa apa, kupingku tadi ada serangga. Mangkanya aku berhenti untuk mengoreknya!"
Alibi yang dilakukan Goruru berhasil, itu karena Yudi membalas. "Oh begitu, kupikir ada apa? Lain kali jangan berhenti mendadak begitu, bikin penasaran saja," ucap Yudi.
"Iya lain kali, aku tidak akan mengulanginya. Lagipula kau ini orangnya penasaran sekali. Serangga di tempat inikan sangat banyak, benar tidak kawan-kawan." Ucap Goruru.
Namun bukan sebuah sambutan seperti 'ah itu benar' atau 'di sini memang banyak serangga' dari orang yang di sekitar. Justru tatapan aneh yang dia dapatkan dari mereka.
'Sialan mereka sama sekali tidak peka,' batin Goruru dongkol. Lalu dia menaikan aura dan berkata sekali lagi dengan intonasi yamng ditekan sambil matanya menatap lima Goblin lainnya.
__ADS_1
"Di sini memang banyak serangganya kan, teman-teman!" Ucapnya.
Para Goblin yang merasakan aura membunuh menguar dari tubuh Goruru, segera mereka merespon dengan berbagai alasan.
"Benar di sini banyak serangga, hup! Aku dapat satu lagi," ucap salah satu Ghoblin sambil berpura-pura menepuk satu serangga.
"Iya, aku juga digigit. Tapi aku berusaha tidak menampakannya," ucap Goblin lain dengan tingkah sok keren.
Dan alasan mereka terus bertambah untuk menghindari amarah dari Goruru, karena ketidak pekaan mereka. Yudi yang mendengar alasan itu akhirnya melupakan apa yang dia curigai sebelumnya.
Sedangkan Rawu jelas sudah paham dengan apa yang dirasakan Goruru. Beberapa kali menjelajahi wilayah seperti ini, membuat instingnya tajam. Jadi dia bekata pada empat orang di belakang.
"Pastikan untuk mengawasi punggungku, jangan sampai ada yang terlewat. Kalian paham!"
"Siap!" Keempatnya mengerti dengan ucapan Rawu, sang pemimpin pernah memberikan pelajaran soal kata-kata seperti itu yang mengandung makna tersembunyi. Jadi saat Rawu mengatakannya, mereka bersiaga penuh. Terutama bagian belakang, karena Pemimpin mereka meyakini mereka sedang diintai dari belakang.
Setelah langkah demi langkah terlewati, mereka melihat siluet pohon besar yang menjadi salah satu pohon yang mengitari prasasti Yupa peninggalan kerajaan Kutai.
"Kau benar, Rawu! Pohon itu ada di sana! Ayo semuanya, kita sebentar lagi sampai. Saat tiba di sana kita akan beristirahat." Ucap Yudi sambil menunjuk pohon itu gembira.
"Kau benar, kakiku mau patah rasanya. Perjalanan ini melelahkan, semoga hasilnya memuaskan," ucap Goruru sambil mengelap keringat di kening.
"Aku juga penasaran dengan apa yang diukir di sana? Lalu ramalan apa yang tertulis di sana!" Ucap Rawu menduga.
"Ramalan itu mengatakan kalau kalian akan mati di sini!" Ucap seseorang, lalu satu sosok muncul dari belakang mereka.
Semuanya menghadap belakang dan mendapati satu pasukan terdiri dua puluh orang dengan rata-rata level 18, bersiap mencegah mereka untuk mengetahui isi dari prasasti Yupa peninggalan kerajaan Kutai.
__ADS_1