Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Akhir Pertempuran.


__ADS_3

"Kurang ajar, beraninya kau mempermainkan diriku? Bayaran atas itu adalah nyawamu, keluarlah biar aku bisa menghabisimu!" Teriak Great Skeleton.


Widura dan Buto Cakil saling melirik, melalui tatapan itu mereka saling memahami maksud tujuan masing-masing.


Ketika mereka akan melakukan rencananya, muncul dengan spontan sosok bertudung tersebut. Tentu keduanya mengurungkan niat mereka.


"Di situ rupanya kau, bersiaplah untuk mati!" Geram Great Skeleton


"Meski hanya tengkorak, kau ternyata cukup pandai bicara. Kemarilah, jika kau sanggup mengambilnya silahkan tapi sebelum kau melakukannya. Nyawamu dulu yang akan melayang."


"Dance of Demon Blade : Cursed Slash!


Haaaah!"


Serangan yang dilancarkan oleh Sosok bertudung langsung menghabiskan Bar HP milik Great Skeleton. Monster itu lalu memuai menjadi butiran kecil tanpa sempat berteriak ataupun memaki.


Widura dan Buto Cakil yang melihat terdiam kaku, lalu dari langit muncul suara bergema.


Ding!


[Kalabendhu Gelombang ke tiga berakhir.

__ADS_1


Hari-hari yang melelahkan sudah berakhir, penghuni dunia kini bisa bersantai untuk melepaskan penat dan menyiapkan diri sebelum Kalabendu selanjutnya tiba.


Perkiraan waktu muncul : 29 hari 23 jam 59 menit 30 detik.


Hadiah : Setiap penghuni desa Amarta akan mendapatkan Experience Poin sesuai kontribusi. Untuk pihak luar yang membantu, akan mendapatkannya sebagai penduduk desa Amarta.


Hadiah Khusus : Diberikan kepada ketua pasukan bayangan Penasehat desa Amarta. Karena telah mengalahkan Monster tingkat Besi dengan Skill miliknya.


Experience Poin untuk desa Amarta : 15.000 poin]


saat semua orang menerima Hint tersebut, mata mereka melebar sebab terkejut. Buto Cakil dan Widura serta pembantu mereka yang menghadapi Great Skeleton. memandang tidak percaya pada si pembunuh yang masih ada di depan mereka.


Sosok itu tidak menjawab pertanyaan pemimpin Wangsa Kunti itu. Kemudian sosok itu tiba-tiba mengepul dan lenyap bersama asap yang muncul.


Kemudian semua berjalan normal, para penduduk desa Amarta bergembira dan sorakan tidak berhenti bergaung sejak tiga jam dari Hint pemberitahuan itu muncul.


Wangsa Tuyul merupakan yang paling sibuk setelah pertempuran berakhir, karena mereka harus memperbaiki dan merawat mereka yang terluka dalam pertempuran.


Sudah menjadi kesepakatan awalmereka sebagai ganti karena tidak ikut dalam pertempuran. Mereka akan merawat armor, senjata dan orang-orang yang terluka serta menyiapkan makanan.


Raja Goblin Goobu sedang bercengkrama dengan beberapa pemimpin wangsa diantaranya Widura, Buto Cakil dan Asuman.

__ADS_1


Sementara itu Rawu sedang berbincang dengan kapten Ivar, di sudut lain Gabai sibuk menyuruh anak buahnya mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk merawat Armor dan senjata yang sudah rusak.


Beberapa warga dari berbagai Wangsa yang tidak ikut bertempur sedang mengumpulkan item drop yang dijatuhkan oleh para Skeleton.


Item-item itu diantaranya Sword Bone Cow, Broken Bow, Bone Helmet, Staff Crack dan benda-benda tidak berguna lainnya.


"Demi Dewi Sri! Para tengkorak menjatuhkan benda tidak berharga." Keluh salah seorang Wangsa Kunti


"Jangan terlalu diambil pusing, bersyukur saja kita bisa menghalau mereka. Setidaknya kita bisa beristirahat untuk bulan ini." Balas salah satu wangsa Manusia.


"Itu benar, semoga desa kita bisa semakin berkembang." Sambung Wangsa Tuyul.


"Tapi apa kalian dengar beritanya?" Tanya Wangsa Buto tiba-tiba.


"Berita apa?" Tanya mereka kompak.


"Katanya yang mengalahkan Mini Bos adalah Pasukan bayangan dibawah perintah Penasihat Desa!" Sambut Wangsa Buto.


"Kau serius?" Kejut seorang Wangsa Goblin.


"Ketua kami sendiri yang mengatakannya, saat itu dia tidak menyangka sama sekali. Jika bawahan Penasehat desa saja sekuat itu? Bagaimana dengan kekuatan Penasihat Desa itu sendiri?" Jawab Wangsa Buto meyakinkan.

__ADS_1


__ADS_2