Rising Of The Mage

Rising Of The Mage
Chapter 37


__ADS_3

"Lalu apa tujuan kau datang kemari," tanya Goobu tiba tiba. "Rapat sudah selesai, apa ada sesuatu yang terjadi?" tambahnya lagi.


"Tidak ada, sungguh aku datang memang setelah rapat selesai. Hal seperti tadi adalah sesuatu yang merepotkan." ucap Rawu malas.


Pertemuan atau pun rapat keduanya merupakan hal yang dibenci Rawu, dari pada melakukan hal itu. Dia lebih senang di suruh mengawasi daerah tertentu, daripada melakukan rapat.


"Wah kalau gitu, kau besok jangan kabur!" ucap Yudi.


"Benar, karena akan ada hal penting yang harus dibahas!" tambah Goruru.


Bulu kuduk Rawu mendadak berdiri saat keduanya mengatakan itu, sebuah firasat yang paling tidak dia suka muncul. Jika firasat itu muncul maka bisa dipastikan, kalau hal merepotkan akan terjadi.


"Eh apa yang barusan kalian katakan?" tanya Rawu penasaran.


"Besok akan diadakan upacara resmi pengangkatan Tuan Yudi sebagai Penasehat dan Goruru sebagai Panglima Tentara. Lalu untuk pertama kalinya sejak wilayah ini dibangun rapat besar akan diadakan, untuk mengatur beberapa hal yang akan disampaikan oleh sang Penasehat." jawab Raja Goobu.


Dengan kedutan kecil di alisnya, Rawu mencoba tersenyum walau nampak kikuk. Hal yang susah payah dia hindari, malah akan terjadi besok.


"Baiklah, aku mengerti. Aku juga tidak akan melarikan diri. Yang membuat aku penasaran, bagaimana bisa kau menyatukan dua Wangsa yang bermusuhan dan satu wangsa yang terkenal Arogan itu, Raja Goobu?" tanya Rawu heran.


Yudi yang belum mengerti tentang apa yang dimaksud oleh Rawu segera beragumen.


"Apa maksudmu dua wangsa yang bermusuhan dan satu wangsa yang terkenal arogan itu, Rawu?" tanya Yudi.


Rawu mengembuskan napas, saat pertanyaan itu terlontar dari mulut Yudi.


'Ternyata dia belum sepenuhnya paham dengan sejarah wangsa di dunia ini.' batin Rawu.


"Aku berbaik hati untuk menjelaskannya, jadi pastikan kau mengingatnya." ucap Rawu.


Segera Yudi mengeluarkan buku catatannya dan pensil, untuk mencatat apa yang akan disampaikan oleh Rawu.

__ADS_1


"Aku siap," jawabnya sambil mengangguk


"Baiklah, Dimulai dari wangsa Kunti, mereka adalah wangsa yang pada zaman para dewa dianugerahi air suci Amrita. Sehingga mereka tetap awet muda dan berumur panjang, mereka juga dikaruniai dengan sebuah sihir kuno yang aku lupa namanya. Lalu menurut buku Babad Benua Jawadwipa, Lima ratus tahun yang lalu, saat terjadi Blood Holocaust. Kerajaan mereka porak poranda yang mengakibatkan sumber air suci amrita lenyap, ditambah kumpulan Serat suci yang telah mereka tulis dengan bahasa mereka sebagian ikut lenyap. Dari masa itu sampai sekarang belum terdengar mereka membangun kerajaan lagi, makanya aku kaget saat wangsa itu ada di sini." ucap Rawu menjelaskan sejarah dari Wangsa Kunti.


Yudi yang mendengarnyq mencatat semua, tanpa mengurangi atau menambahi satu kata dari yang dijelaskan oleh Rawu. Kemudian dia bertanya lagi.


"Lalu yang lainnya bagaimana?" ucapnya.


"Sabar sedikit, selanjutnya adalah Wangsa Tuyul, mereka adalah Wangsa yang sebenarnya mendapat kutukan dewi Sri karena begitu serakah dengan uang. Mereka senang dengan benda benda berkilau, akibatnya ketamakan menjadi sifat yang kadang menggerogoti jiwa mereka. Meski mereka mendapat kutukan, namun mereka tidak mengumpat sang dewi. Karena itulah mereka diberikan sebuah anugerah sebagai pendukung dari kutukan itu, lalu kutukan yang diberikan oleh sang dewi adalah para Tuyul akan memiliki tubuh yang kecil, sedangkan anugerahnya mereka akan pandai mengolah benda benda alam seperti batu dan besi." ucap Rawu menjelaskan tentang Wangsa Tuyul.


"Hm begitu, lalu tentang permasalahan dua ras yang saling bermusuhan. Apa itu wangsa Kunti dan wangsa Tuyul?" tanya Yudi.


Rawu mengangguk saat pertanyaan itu dilontarkan Yudi.


"Benar, dua Wangsa yang bermusuhan itu adalah Kunti dan Tuyul?" jawab Rawu membenarkan.


"Kabarnya mereka bermusuhan karena masalah sihir dan keahlian." sambung Goobu.


"Kau tidak tahu ya, para Kunti begitu meninggikan sihir karena itu anugerah dari Dewi Sri, sedangkan para Tuyul membanggakan keahlian mereka yang mampu merubah benda benda alam dan bijih di dunia menjadi lebih bermanfaat. Padahal keduanya sama sama anugerah dari Dewi Sri." jawab Goruru ikut menambahkan.


Seraya mereka menjelaskan, tangan Yudi tidak pernah diam untuk mencatat apa yang telah diutarakan oleh Goobu, Goruru dan Rawu. Setelah kalimat terakhir Goruru, dia membaca ulang apa yang telah ditulisnya.


"Mereka berdebat karena anugerah yang diberikan oleh masing masing berbeda, sungguh konyol sekali." kata Yudi.


"Jika perkataan barusan kau ucapkan dihadapan kedua wangsa itu. Maka kau akan jadi samsak pemanasan, apa yang menurut mu konyol. Itu merupakan kebanggaan mereka, jadi jangan pernah menyinggung hal itu kau paham!" ucap Rawu.


"Iya aku juga tahu, tidak perlu di perjelas!" sanggah Yudi. "Lalu bagaimana dengan Wangsa Wanara, tolong ceritakan sejarah dari mereka?" pinta Yudi.


Rawu mengembuskan napas, bukan berarti dia malas untuk menjelaskan. Hanya saja, si Yudi ini menjadikan dirinya narasumber. Dia tidak marah sih, cuma asa rasa jengkel saja ketika kau seenaknya diperintah seperti itu.


"Nah untuk wangsa Wanara, sebenarnya mereka juga Wangsa yang dikutuk oleh dewa-"

__ADS_1


"Kenapa setiap Wangsa selalu dikutuk, apa dewa itu begitu kejam dengan makhluk yang ada di dunia ini?" ucap Yudi.


Rawu yang ingin menceritakan sejarah wangsa Wanara berhenti, sebab ucapan Yudi yang memotong penjelasannya.


"Dengarkan penjelasan dariku sampaii tuntas, agar kau tidak salah paham," tegas Rawu.


"Oh maaf, tolong dilanjutkan!" ucap Yudi.


Baik Goruru dan Goobu sama sama menggelengkan kepala, melihat apa yang ada di depan mereka. Lalu Rawu kembali menjelaskan.


"Wangsa Wanara adalah wangsa yang dikutuk oleh Dewa Sadono-"


"Heh, kali ini bukan oleh Dewi Sri ya, oke lanjutkan!"


Pelipis Rawu berkedut kedut, saat penjelasannya kembali di potong. Sedangkan Goobu dan Goruru menahan tawa ketika Yudi memotongnya, lalu tanpa dosa meminta Rawu melanjutkan penjelasannya.


"Sebaiknya, aku sudahi saja topik ini. Aku sedang tidak enak badan dan ingin beristirahat kembali!" gerutu Rawu.


"Jangan gitu dong, aku kan sedang serius ingin tahu sejarah dari masing masing wangsa, tolong jabarkan sampai tuntas. Agar data yang kumiliki akurat." pinta Yudi.


Tanpa sadar apa yang diucapkan oleh Yudi, itu seperti jarum kecil yang menusuk ulu hati Rawu.


'Kalau dari tadi kau tidak menyela penjelasan dariku, sejarah wangsa Wanara sudah tuntas kujabarkan,' dasar merepotkan! batin Rawu.


"Baiklah, kali ini jangan sela penjelasan dariku." Tegasnya


"Siap komandan!" jawab Yudi


"Wangsa wanara adalah Wangsa yang dikutuk oleh Dewa Sadono, mereka awalnya adalah manusia seperti kita. Namun saat mustika Cupu manik Astagina milik Dewa Sadono, jatuh karena keteledoran beliau saat terbang menuju Swargaloka. Berbondong bondong mereka berebut untuk memilikinya, saat sang empunya sadar kalau mustikanya jatuh ke bumi dan dia meminta kembali baik baik. Mereka malah mengatakan kalau benda sudah jatuh itu, bukan hak miliknya lagi tetapi barang temuan. Karena murka sebab dipermainkan, Dewa Sadono mengutuk mereka untuk memiliki wajah dan tubuh seperti kera." ucap Rawu.


Segini dulu ya penjelasannya, nanti di sambung lagi. Semoga kalian menikmatinya.

__ADS_1


__ADS_2