
setelah pembicaraan dengan penasehat desa dan beberapa pemimpin Wangsa yang berujung tegang. Ivar mengajak pasukannya kembali ke Tendan untuk beristirahat.
Saat sudah sampai, tiba-tiba orang yang menegurnya langsung berkata.
"Apa yang hampir kau lakukan, kapten Ivar?" tanya salah satu bawahannya.
Mendapati pertanyaan itu, bola mata sang kapten beralih dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Dia tidak sanggup untuk menatap mata sang prajurit.
"Aku hanya ingin memberitahu-"
"Soal monster medali [Perak] yang telah memporak-porandakan kerajaan Bayu setra begitu?" sergah sang prajurit
Tidak disangka kalau bawahannya itu akan menegurnya serius, jadi dia pun membalas dengan lembut.
"Hei tenangkan dirimu, kenapa kau sekarang malah berani untuk mengintimidasiku," ucapnya
"Aku bukannya ingin mengintimidasi, tapi apa yang akan kau katakan itu akan menimbulkan malapetaka bagi kita bukankah kau ingat nasehat leluhur kita kalau monster itu telah berpesan!" balas si bawahan dengan berkacak pinggang
__ADS_1
"Iya, para leluhur pernah bilang kalo ketika monster itu pergi. Dia berkata akan kembali lagi, jika salah satu dari penduduk kerajaan Bayu setra mengucapkan namanya," tambah Kapten Ivar.
"Karena itu jangan sekali-kali mengucapkan nama Monster itu, meskipun tujuanmu adalah baik. Mereka akan tetap aman karena bukan berasal dari kerajaan Bayu setra, tapi kita yang merupakan penduduk Bayu setra dan memiliki keluarga di sana dan harus melindungi mereka akan ditimpa Pamali karena melanggar nasihat leluhur." jelas si prajurit.
Ketika mendengar penjelasan dari bawahannya itu, kapten Ivar tersadar kalau Apa yang hendak dia sampaikan pada penasehat desa Amarta itu. Akan menimbulkan malapetaka bagi kerajaan Bayu setra.
"K-kau benar, jika aku tanpa sengaja mengatakan namanya maka-"
"Kerajaan Bayu setra akan dalam bahaya, Dan kita hanya akan kembali dengan melihat puing-puing dari kerajaan kita seperti yang terjadi 50 tahun yang lalu." sanggah sang prajurit lagi
"Jagad Dewa Batara! Apa sebenarnya yang hampir kulakukan?" ucapnya
"Tidakak usah terlalu dipikirkan kapten, niatmu sebenarnya baik. Maaf jika kali ini, aku menghalangi niat baikmu. sebab niat baikmu itu, akan berujung petaka bagi kerajaan kita."
"Tidak apa-apa jujur aku senang karena diingatkan, jika tidak entah apa yang terjadi pada kerajaan kita." balasnya.
Para penghuni Benua Jawadwipa, begitu menjunjung tinggi wasiat dan pesan para leluhur. Beberapa di antara mereka bahkan mengumpulkan petuah-petuah itu menjadi sebuah buku dan diberi nama Pitutur para leluhur.
__ADS_1
Bahkan ada sebuah kerajaan yang menjadikan nasehat para leluhurnya sebagai undang-undang dalam kerajaannya.
Setiap kerajaan memiliki kitab undang-undang nya sendiri, hal itu menjadi sebuah keharusan. Karena itu akan digunakan sebagai dasar hukum kerajaan tersebut.
Bagi siapa saja yang melanggar anjuran atau perintah dari leluhur dan pemimpin kerajaan, maka akan dikenakan sanksi sedangkan perilaku itu dinamakan Pamali.
"Tapi yang menarik adalah kenapa dirimu hampir lepas kendali, untuk menyampaikan nama Monster itu?" ucap sang prajurit mencairkan suasana.
"Aku juga tidak mengerti, mungkin karena sifat Penasihat Desa yang begitu bersemangat. Untuk mengetahui hal-hal baru, membuat aku hampir mengucapkan nama Monster tersebut." jawab kapten Ivar.
Tiba-tiba banyak suara tertawa di balik tenda, dia tidak menduga sebelumnya kalau para prajurit itu. Mencuri dengar pembicaraannya dengan orang yang menegurnya.
"Tidak disangka, kapten begitu lembut!"
"Hahaha pria yang dibesarkan dalam peperangan, ternyata masih memiliki hati yang lunak!"
"Jika dilihat dari dekat, Penasehat desa itu memang lugu dan juga polos!"
__ADS_1
Dan begitu lah canda tawa mereka untuk mengerjai sang Captain. Namun tetap, mereka tidak bisa mentolerir jika seandainya kapyen Ivar mengucapkan nama Monster tersebut.