
Matahari sudah berada di atas kepala. Para skeleton Knight juga mulai berkurang jumlahnya, berbagai wangsa di desa Amarta serentak terus menggempur para pasukam tengkorak itu.
Lalu satu skeleton terakhir, di tumpas oleh Goruru dan notifikasi dari dunia muncul dalam bentuk suara.
[Kalabhendu tingkat pemula baru saja diselesaikan! Jumlah pengepungan 1 : 3 ]
Setelah pengumuman itu, experience point yang terakumulasi dibagikan sesuai kontribusi dalam menghadapi Kalabhendu.
"Kita berhasil!"
"Kita sudah melawan kalabhendu!!"
"Ya, semoga kita terus seperti ini"
Itulah teriakan bercampur sorakan saat mendeng kabar dari sistem dunia. Satu bahaya telah berhasil mereka lewati, setidaknya hal ini patut dirayakan.
Lalu Masing-masing Wangsa mendapatkan Level up. Hal itu bergantung dari Wangsa mana mereka berasal, karena batas kenaikan level suatu wangsa berbeda beda.
Contohnya Wangsa Buto, mereka hanya mengalami level up satu level dan paling besar dua level. Sistem dunia telah mendesainnya seperti itu, mereka para Buto tidak bisa protes.
__ADS_1
Yang menjadi sebabnya karena meski level mereka berada di angka dua puluhan. kekuatan fisik dan Hit Point mereka, berada dikisaran level 120 bagi manusia dengan armor terbaik.
Karena itulah ambang batas bagi mereka naik level sangat besar. Sebab itu juga sangat langka menemukan Buta dengan level diatas 100 atau 200 karena biasanya mereka akan mati akibat kesombongan.
Ketika mereka melewati level tertentu, para Buto akan mendapat skill unik yang bisa membuat mereka dibunuh oleh Wangsa lain.
Jadi saat Wangsa lain naik sekitar lima level sampai tiga, para Buto harus puas dengan apa yang mereka dapatkan.
"Kalabhendu hari pertama sudah kita lewati, semoga hal ini tetap berlangsung hingga hari ke tiga." ucap Kapte Ivar.
"Aku berharap seperti itu, bagaimanapun juga desa kami masih lemah karena baru dibangun. Semoga dewi Sri dan Dewa Sadono memberi karunianya!" balas Goobu sang Raja di desa Amarta.
"Siap, Pak!" ucap mereka serentak.
Para Tuyul yang memang tidak bisa bertarung mulai berbondong bondong datang membawa tandu. Mereka membopong mereka yang terluka selama pertempuran.
Absennya Wangsa Tuyul sudah diberitahukan oleh Pemimpinnya. Mereka menawarkan penyediaan dan perbaikan senjata, serta perawatan pasukan yang terluka setelah pertempuran selesai.
Pemimpinnya juga meminta kemakluman dari para pemimpin lain. Meski Wangsa Kunti sedikit mencemooh dengan mengatakan kalau wangsa Tuyul pengecut sebagai candaan, namun mayoritas semua Wangsa memberi kemakluman pada Wangsa Tuyul.
__ADS_1
Tentu dengan tambahan beberapa persyaratan selain dari yang mereka ajukan. Setelah menimbang, sang pimpinan Tuyul akhirmya menerima syarat tambahan dari masing masing Wangsa.
"Berapa yang tersisa dari pasukan kita?" tanya Yudi
"Dalam pertempuran kali ini tidak ada satupun yang gugur, tuhan penasehat!" jawab salah seorang yang sedang merawat mereka yang terluka.
"Namun jumlah yang terluka cukup banyak, tapi tidak sampai luka fatal puji Dewi Sri dan Dewa Sadono yang telah melindungi kita!" tambahnya lagi.
Yudi mengangguk saat menerima jawaban tersebut, segera matanya beralih ke arah tempat pertempuran baru selesai.
Dia senang karena tidak ada satupun korban dalam kalabendu ini, meski dia sudah memprediksinya.
"Semoga hari berikutnya, kami masih bisa melawan," gumamnya.
Lalu seseorang tergopoh-gopoh mendatanginya, dilirik orang tersebut ternyata adalah Rawu sang pemimpin Manusia.
"Apa yang membuatmu begitu tergesah-gesah?" tanya Yudi.
"Tuan Penasehat! alAda hal yang harus kau beritahu padaku!" jawabnya dengan mata tajam.
__ADS_1