
Assalamualaikum, Teman-teman, salam kenal! Novel ini adalah perdana buat Author. Jadi, mohon kritikannya yang membangun, ya.
Author akan memperkenalkan dulu tokoh-tokoh di novel ini, ya. Biar ada sedikit gambaran tentang mereka.
Inilah mereka! Tara...
Tokoh 1
Gadis manis berkacamata minus ini bernama lengkap Rianti Noor Iskandar, biasa disapa Rianti. Usianya 15 tahun, duduk di kelas satu SMA. Ia memiliki karakter kalem, lembut, keibuan, pembawaannya tenang, easy going, penuh perhitungan, pendengar yang baik, dan dewasa.
Namun kadang terkesan lamban dalam mengambil keputusan. Setiap mengambil keputusan selalu dipertimbangkan dengan matang, untung ruginya atau baik dan buruknya. Mungkin karena ia terlahir sebagai anak sulung, memiliki dua orang adik yang menuntutnya harus memberikan contoh yang baik. Berjiwa pemimpin dan ngemong.
Bisa dikatakan, Rianti berasal dari keluarga menengah. Rianti termasuk anak yang cerdas, selalu menduduki ranking 1, kalau pun merosot, sampai ranking 3. Namun, ia tidak pelit ilmu, tidak segan-segan membagi ilmunya. Sering membantu menjelaskan pelajaran-pelajaran yang dianggap sulit oleh teman-temannya seperti matematika. Rianti juga anak yang berprestasi. Ia sering menjuarai pidato, lomba menulis.
Rianti punya hobi buat kue sejak SMP, belajar dari Bundanya yang juga pandai membuat kue. Lalu menitipkannya ke warung-warung yang dekat dengan rumahnya, dan juga kantin sekolah. Ternyata, kue-kue hasil buatannya banyak disukai. Terbukti selalu laris. Tak jarang juga Rianti menerima orderan kue, baik dari tetangganya, teman-temannya, maupun jika ada acara di sekolah. Tentu saja, Rianti senang menerimanya.
Hasil keuntungan ditabung, ia berharap bisa terus melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Yah, minimal S1, lah. Syukur-syukur bisa lanjut sampai S3. Tapi, ia tidak mau tergantung pada orang tua. Rianti punya mimpi, ingin memiliki toko kue sendiri. Itu harapannya.
__ADS_1
Tokoh 2
Nama lengkapnya Irawati Wirawan Adiguna, sering disapa Ira. Usianya 15 tahun, duduk di kelas satu SMA. Karakternya, rada introvert, bicara seperlunya, pendiam. Bagi orang yang tidak mengenalnya dengan dekat terkesan sombong. Padahal ia memang tidak mudah menyesuaikan diri dengan orang lain. Perlu waktu untuk itu. Dia cenderung mengamati dulu orang yang baru dikenal, apakah cukup open alias terbuka atau tidak. Jika dinilai cukup open ia bisa dengan mudah dekat dengan orang itu. Sebaliknya, jika tidak, atau malah kaku, ia akan lebih kaku lagi, dan biasanya susah untuk dekatnya. Tapi jika sudah kenal dekat, akan terlihat ia cukup menyenangkan, ramah, dan perhatian.
Gadis penyuka aneka bunga ini sehari-harinya sering membantu orang tuanya menjalankan usaha toko bunga di rumahnya, sepulang sekolah. Ira selalu senang dan betah berlama-lama di sana. Baginya, melihat bunga-bunga yang cantik-cantik itu begitu menyegarkan mata dan pikiran, sekaligus refreshing dari kepenatan, dan obat jiwa, ketika sedih bisa kembali senang, rasa lelah karena tumpukan tugas di sekolah bisa hilang seketika, dan lainnya. Ia juga sering menulis di buku diarynya untuk sekedar mengeluarkan uneg-uneg yang ada di hatinya. Menumpahkan rasa di sana sampai puas dan lega. Seolah sedang curhat saja dengan orang.
Kebetulan rumahnya di pinggir jalan. Orang tuanya menyulap ruang paviliun yang ada di samping rumah menjadi toko bunga. Berbagai aneka bunga dikoleksi di toko ini. Ada bunga matahari, sampai bunga tulip pun ada.
Ira memiliki mimpi ingin melanjutkan pendidikannya sampai perguruan tinggi. Ia tampak tertarik ingin memiliki bisnis di bidang wedding organizer. Karena suka menghias ruangan atau gedung yang akan dijadikan tempat yang indah. Dengan merangkai berbagai bunga.
Tokoh 3
Namanya Wulandari Rahadian, akrab disapa Wulan. Usianya 15 tahun, duduk di kelas satu SMA. Punya saudara kembar, beda jenis kelamin. Namanya Walandanu Rahadian, akrab disapa Danu. Jarak kelahiran mereka cuma beda lima menit saja, lebih dulu Danu yang lahir, baru Wulan. Karakternya, tomboy, ceria, suka humor, kadang suka jahil, kalau ngomong suka ceplas-ceplos tanpa dipikir akibatnya, kadang tanpa perhitungan, sehingga banyak yang tersinggung bagi yang tidak mengerti karakternya. Dia tidak suka menyembunyikan perasaannya. Jika suka dikatakan suka, jika tidak akan berkata tidak. Tidak suka bertele-tele. Selalu langsung diungkapkan atau diperlihatkan. Sehingga kadang terkesan judes, galak, dan moodian. Hal ini membuatnya sering mendapat masalah dengan teman-temannya.
Di balik itu, ternyata ia sebenarnya sangat perhatian terutama kepada orang terdekatnya, seperti keluarganya, sahabat-sahabatnya. Tidak tegaan melihat orang menderita atau butuh pertolongan. Berjiwa dermawan. Ia sering menggerakkan teman-temannya untuk melakukan bakti sosial. Jika mendengar ada bencana, ia pun selalu bersemangat mengulurkan bantuan. Hatinya mudah tersentuh sampai mudah menangis jika melihat sesuatu yang membuatnya trenyuh.
__ADS_1
Wulan menyukai fotografi sejak kecil. Di acara-acara sekolahnya maupun lainnya, ia sering didaulat menjadi seksi dokumentasi, sejak SMP. Hasilnya selalu bagus dan memuaskan. Mungkin menurun dari papanya yang juga menyukai fotografi. Apalagi setelah orang tuanya membuka studio foto di rumahnya. Rumahnya tidak terlalu besar, namun memiliki halaman yang luas.
Halaman ini disulap oleh mamanya yang seorang design eksterior, menjadi taman yang indah. Bunga-bungaan, ada air mancur kecil di sudutnya, kemudian mengalir ke kolam ikan, di dalamnya ada ikan-ikan koi yang cantik-cantik warnanya. Dilengkapi dengan jembatan kecil di atas kolam ikan. Plus gazebo yang terbuat dari kayu yang diukir menarik. Jadi, konsep studionya adalah alam. Backgroundnya alam asli, bukan buatan.
Banyak orang yang ke sana hanya untuk difoto, baik keluarga besar, atau berselfi ria bersama teman-teman. Tidak jarang juga Wulan ikut papanya jika ada yang meminta menjadi fotografer di acara-acara pernikahan atau acara lainnya. Sambil diajarkan bagaimana caranya agar bisa menghasilkan jepretan yang bagus.
Tokoh 4
Namanya Sania Verawati Gunawan, akrab disapa Sania. Usianya 15 tahun, masih duduk di kelas satu SMA. Karakternya, sedikit kaku, serius, itu kesan pertama orang yang baru mengenalinya. Apalagi dengan penampilannya yang selalu menggunakan cadar sejak SMP. Namun, ternyata setelah kenal dekat, cukup bersahabat, ramah, hangat, jauh dari kesan sombong apalagi kaku. Bisa juga diajak bercanda. Asyik juga jadi teman jalan.
Sania sangat menyukai olah raga panahan. Pertama, karena merupakan salah satu olah raga yang sangat dianjurkan untuk dipelajari dalam Islam. Kedua, di matanya olah raga ini terlihat tegas, garang, namun tetap tidak mengurangi keanggunan seorang muslimah. Keren, deh pokoknya.
Sania mulai berlatih panahan sejak SMP kelas satu di sebuah klub panahan khusus untuk muslimah. Pelatihnya, Tanti, seorang mantan atlet panahan tingkat nasional, yang banyak menyabet gelar kejuaraan. Namun setelah menikah ia memutuskan berhenti menjadi atlet dan mulai membuka klub panahan khusus muslimah dan menjadi pelatih. Dan Sania ingin sekali mengikuti jejaknya.
****
Nah, itulah tokoh-tokoh utama kita, ya. Sedikit ada gambaran, kan? Setelah ini kita ikuti kisah mereka, yuk! Kira-kira, gimana yah keempat orang ini bisa bersahabat dengan karakter dan kesukaan yang berbeda. Lalu, bagaimana kehidupan mereka? Pasti penasaran, kan? Semoga Teman-teman menyukainya dan bermanfaat. Karena ada banyak hikmah dan pelajaran dari kisah mereka. Aamiin
__ADS_1