
Hari Ketiga Liburan
Hari ini Sania dan para sahabatnya berencana akan berkuda di area peternakan kuda milik keluarga Sania. Setelah sarapan, tepat pukul 08.00 mereka mulai berangkat dengan mengendarai tiga mobil Jeep terbuka khusus ke peternakan. Mobil pertama disupiri oleh Mang Asep di dalamnya ada Rianti, Ira, Sania, dan Wulan. Mobil kedua disupiri oleh Mang Supri, di dalamnya sudah ada Rina, Tania, dan Andin. Sedangkan mobil ketiga diisi oleh empat bodyguard wanita yang akan mengikuti dan mengawal para gadis itu.
Empat puluh lima menit kemudian mereka telah sampai ke lokasi peternakan dan mulai keluar dari mobil. Dengan takjub mereka melihat-lihat suasana sekitar peternakan yang cukup luas. Berbeda dengan duo kakak beradik, Sania dan Vania, keduanya netranya tampak liar mencari keberadaan kuda kesayangan mereka. Rasanya begitu rindu.
Saat itu, datanglah sesosok laki-laki paruh baya, kira-kira seusia Mang Asep dan Mang Supri mendekati mereka.
"Assalamualaikum!" sapa laki-laki itu, membuat para gadis muda itu segera menoleh ke arahnya.
"Wa'alaikumussalam, " jawab Sania ramah
"Ya Allah, ini teh Non Sania dan Non Tania, ya?" tanya laki-laki yang dipanggil Mang Hanif itu sambil telunjuk tangannya menunjuk kedua gadis kakak beradik itu secara bergantian.
"Iya, Mang. Apa kabar, sehat?" tanya Sania.
"Alhamdulillah, baik, Non, " jawab Mang Hanif.
"Oh iya, gimana kabar Bi Sari dan Anti?" tanya Sania lagi.
"Alhamdulillah, kami baik. Anti sama Rina mah satu sekolah melulu dari dulu, sudah sekelas sebangku pula," jawab Mang Hanif.
"Oh iya, sudah lama tidak bertemu Anti, rasanya kangen, " ujar Sania, sambil mengingat sosok teman masa kecilnya juga selain Rina.
"Nanti biar Mamang panggilin Bi Sari dan Anti, ya. Pasti mereka juga senang bertemu dengan Non, " ujar Mang Hanif.
"Boleh banget, Mang, " sahut Sania.
Sebelum itu Sania memperkenalkan sahabat-sahabatnya yang sejak tadi berdiri di belakang menyimak obrolan Sania dengan Mang Hanif. Dan Sania pun mengenalkan Mang Hanif sebagai orang kepercayaan papanya untuk mengelola peternakan di sini. Ternyata peternakan milik keluarga Sania terdiri dari bermacam-macam jenis binatang ternak, ada kambing, domba, sapi juga. Selain kuda. Biasanya jika berada di sini Mang Hanif dan anak buahnya lebih banyak menunggangi kuda untuk berkeliling mengawasi keadaan sekitar peternakan ini.
Puas berbincang dengan Mang Hanif, Sania mulai mengajak sahabat-sahabatnya untuk mendekati kuda dan bermain bersama hewan berponi panjang itu. Dengan didampingi Mang Hanif dan beberapa anak buahnya, mereka mulai membantu Sania dan sahabat-sahabatnya menaiki kuda-kuda yang sebelumnya telah dipasang sadel tempat mereka duduk di atas punggung kuda.
__ADS_1
Kuda pun mulai digerakkan dari mulai pelan, berjalan agak cepat sampai sedikit berlari. Dengan senang mereka membawa kuda-kuda itu berkeliling sekitar peternakan. Mang Hanif dan anak buahnya ikut mengawasi dari dekat. memastikan semuanya dalam kondisi aman. Sementara para bodyguard mengawasi dari jauh.
Kuda-kuda itu tampak sangat jinak. Sepertinya memang terbiasa berinteraksi dengan manusia. Tidak mudah panik ketika didekati. Mereka tampak tenang mengikuti arahan dari orang yang berada di atas punggungnya.
Baru berjalan satu putaran menikmati momen menyenangkan itu, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan minta tolong dari arah yang tidak jauh dari mereka. Membuat semuanya menoleh mencari sumber suara.
"Eh, dengar tidak? Ada orang yang berteriak meminta tolong. Sepertinya ada suara kesakitan juga, apa dia terluka?" tanya Sania sambil mencari sumber suara.
Mang Hanif dan anak buahnya tampak mendekati gadis itu. Dia merasa heran, mengapa tiba-tiba menghentikan laju kuda mereka.
"Ada apa, Non. Kok berhenti?" tanya Mang Hanif setelah dekat dengan Sania.
"Itu, ada orang yang minta tolong. Coba kita lihat!" titah Sania.
"Benarkah, di mana, Non?" tanya Mang Hanif lagi.
"Itu, tuh. Sepertinya ke arah sana, " sahut Sania sambil tangannya menunjuk ke arah belakang.
"Ya Allah, ini rumah Pak Hasan dan putrinya, Laila, " ujar Mang Hanif.
"Benarkah? Mang Hanif kenal penghuni rumah ini?" tanya Sania.
"Iya, Non, mereka karyawan saya juga di peternakan. Dialah yang salah satu karyawan bertugas membersihkan kandang. Dan putrinya teman sekolah Rina dan Anti juga, " jawab Mang Hanif, menjelaskan.
"Ya Allah, kalau begitu ayo cepat tolong mereka, Mang!" titah Sania.
Begitu dekat, mereka pun turun dari kudanya masing-masing. Mang Hanif dan anak buahnya yang laki-laki berjalan mendekati pintu. Mengetuk pintu itu dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum, Pak Hasan? Nak Laila? Kalian di dalam?" sapa Mang Hanif.
"Wa'alaikumussalam, masuklah. Pintunya tidak kunci. Tolonglah kami? " jawab seorang suara gadis remaja seusia Sania dari dalam, meminta pertolongan. Dengan suara bergetar.
__ADS_1
Mendengar izin dari Sang Empunya gubuk, Mang Hanif pun membuka pintu tersebut dan masuk ke ruang tamu dan melihat keadaan. Dan betapa terkejutnya semuanya saat melihat kondisi ayah dan anak yang tampak mengenaskan. Hasan, Sang Ayah, tampak dipeluk oleh putrinya, Laila, kepalanya diletakkan di atas pangkuannya.
Wajah Sang ayah yang kira-kira sebaya dengan Mang Hanif itu tampak babak belur, hingga nyaris tidak dapat dikenali, seperti habis dipukuli. Sedangkan kondisi putrinya tak kalah mengenaskan. Di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka. Pipinya merah seperti terkena tamparan keras, mungkin saking kerasnya sampai keluar darah dari sudut bibirnya. Lehernya pun memar seperti terkena cekikan. Rambutnya berantakan dan jangan lupakan bahu yang berkulit eksotik namun mulus, hingga memperlihatkan belahan dadanya. Pakaian bagian atasnya terbuka karena beberapa kancing terlepas. Membuat Mang Hanif dan anak-anak buahnya yang laki-laki segera memalingkan pandangannya ke arah yang lain.
Sementara itu, Rianti yang iba melihat kondisi Laila segera menutupi tubuh bagian depan gadis itu dengan jaketnya, agar auratnya tidak terlihat lagi. Lalu memeluk gadis itu untuk menenangkannya. Tangannya pun tak tinggal diam. Sibuk mengelus punggungnya. Akhirnya tangisnya pun pecah, begitu menyayat hati. Semua larut dalam suasana haru dan sedih.
"Tenanglah, kalian aman, kami ada di sini. Tadi kebetulan lewat sekitar sini. Kami sedang berkuda. Kemudian mendengar suara teriakan meminta pertolongan. Ternyata kalian, " ujar Rianti sambil terus memeluk dan menghibur gadis itu.
Sahabatnya yang lainnya ikut duduk melingkar mengelilingi gadis itu. Ikut berempati.
Setelah mulai tenang dan gadis itu mulai berhenti menangis, Rianti menjauhkan wajahnya dari wajah Laila lalu menghapus air matanya.
"Kamu baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang tega melakukan ini pada kalian? Maaf, apa mereka berusaha melecehkan kamu? " tanya Rina hati-hati karena khawatir jika pertanyaannya itu membuat kembali bersedih dan ketakutan.
"Ya, bukan hanya melecehkan, mereka hampir saja memperkosaku. Tapi Alhamdulillah, belum sempat itu terjadi ayahku datang dan menolongku. Tapi akhirnya seperti ini, mereka malah memukuli ayahku hingga babak belur seperti itu?" jawab Laila dengan suara tersendat-sendat lalu kembali menangis, saat mengingat kejadian buruk yang hampir saja merenggut kehormatannya itu.
"Sebenarnya Samiri itu siapa? Dan mengapa anak buahnya berbuat seperti itu?" tanya Sania.
"Ju... Juragan Samiri adalah seorang rentenir di desa ini. Ayah pernah terpaksa meminjam uang sama dia karena keadaan. Uang itu sangat dibutuhkan untuk biaya operasi almarhumah ibuku yang sakit karena terkena kanker usus. Operasi itu sangat dibutuhkan agar kankernya tidak makin meluas ke mana-mana. Karena itulah ayah terpaksa meminjam uang kepada Samiri itu. Dan sampai sekarang hutang itu belum lunas, bahkan bunganya semakin berlipat-lipat. Walaupun operasi ibuku dikatakan berhasil namun ternyata Allah berkehendak lain. Beberapa hari pasca operasi beliau meninggal dunia.
"Tadi itu anak buahnya Samiri kemari untuk menagih hutang. Tapi tadi kan hanya aku sendirian di rumah, sedangkan ayah tadi sedang ke warung sebentar, katanya mau beli beras, sudah habis yang ada di rumah. Melihat ayah tidak ada mereka mengancamku. Dan ujung-ujungnya mereka malah mau menggilirku. Mereka ada tujuh orang."
"Karena aku melawan, berusaha mempertahankan kehormatanku, aku pun dipukuli, ditampar, bahkan dicekik. Dengan kasar merobek pakaianku hingga seperti ini. Tapi untungnya Ayah segera datang sehingga aku selamat. Ayah sempat memukul orang yang berlaku kurang ajar padaku itu. Namun karena kalah jumlah akhirnya mereka mengeroyok ayah, memukulinya sampai seperti itu. Kasihan ayah."
Tangis gadis itu kembali pecah, mengingat bagaimana ayahnya dipukuli di depan matanya. Pastinya akan sangat membekas dalam benaknya sampai kapan pun.
"Ya, Allah, teganya mereka memanfaat orang yang sakit. Bermain-main dengan maut. Memangnya berapa sisa hutang ayahmu?" tanya Sania. Semua ikut merasa geram mendengar cerita dari Laila.
"Masih sangat banyak, kira-kira dua puluh lima juta lagi. Itu hanya hutang aslinya, belum termasuk bunganya. Bunganya dua kali lipat dari itu. Darimana kami bisa mendapatkan uang itu sementara kami hanyalah orang miskin. Harta benda kami telah habis terkuras untuk biaya pengobatan ibuku dulu. Satu-satunya harta yang kami punya hanya rumah ini saja. Satu-satunya tempat kami berteduh, " urai Laila.
Semua merasakan sesak di dadanya, ikut merasa prihatin. Betapa kemiskinan dapat membuat orang tidak berdaya. Seperti kasus yang dialami oleh keluarga Laila ini. Dan orang yang merasa memiliki harta berlebihan begitu mudah mempermainkan orang yang lemah dan sangat membutuhkan. Memberi pinjaman dengan bunga yang begitu melilit, tidak peduli pada penderitaan orang lain. Miris, rasanya.
__ADS_1