Romansa Putih Abu

Romansa Putih Abu
Hisyam dan Lisa


__ADS_3

Seusai acara syukuran empat bulan yang digelar di rumah keluarga Daffa dan Rima, teman-teman Ira dan Daffa masih berada di sana. Mereka ikut membantu membereskan ruangan agar kembali bersih. Begitu pula dengan Hisyam. Saat sedang sibuk-sibuknya, tanpa disadari Hisyam menoleh ke arah sesosok gadis yang terlihat tidak asing, dia sedang ikut sibuk. Jarak mereka berdua agak jauh.



'Benarkah itu Lisa? Aku tidak salah penglihatan, kan? Kok, dia ada di sini juga?' gumam Hisyam dalam hati. Pandangan matanya tetap tertuju pada gadis itu.


Tanpa disadari, tingkahnya itu diperhatikan oleh Daffa.


"Lihat siapa, Bang?" pertanyaan itu berhasil mengejutkan Hisyam dan segera mengalihkan pandangannya ke Daffa.


"Ah, itu, gadis yang duduk dekat adik kamu itu siapa? Sepertinya tidak asing. Takut salah orang, " kilah Hisyam.


"Oh itu namanya Lisa, Bang? Dia kan mentornya adikku, Ira dan teman-temannya itu. Dia kan adik tingkat kita, satu tahun di bawahku. Cuma, dia beda fakultas dengan kita. Dia ambil jurusan bahasa dan sastra Inggris. Harusnya hari ini jadwal mereka, tapi karena ada acara ini jadinya dimajukan kemarin, " jawab Daffa sambil menunjukkan ketiga sahabat Ira dengan dagunya.


"Oh, benarkah? Kok, tidak pernah melihatnya. Dia tidak aktif di DKM kita, ya?" sahut Hisyam, seperti tidak percaya.


"Aktif, selain di tingkat universitas, dia juga aktif juga di fakultasnya. Cuma dia lebih aktif di fakultasnya. Dia juga suka mengisi di sekolah-sekolah, salah satunya di sekolah adikku, Ira. Makanya, sampai sekarang Ira dan teman-temannya sudah ikut kajian rutin mingguan dengannya. Ya, kira-kira satu tahun belakangan ini. Sejak mereka aktif di Rohis Sekolah."


"Oh, begitu?" tanggap Hisyam.


"Abang kenal dengan Lisa?" Daffa mengulang pertanyaannya tadi.


"Berarti aku tidak salah lihat tadi. Ya, aku mengenalnya sejak SMA, dia adik kelasku, dua tahun di bawahku. Waktu dia kelas satu, aku sudah kelas tiga. Sejak lulus tidak pernah bertemu lagi, baru hari saja. Makanya tadi agak pangling, takut salah orang, apalagi dia agak jauh jaraknya. Dengan penampilannya seperti itu. Dulu tidak begitu. Masih belum berhijab. Kaget saja waktu tadi kamu bilang dia itu mentornya adikmu," terang Hisyam.


"Oh, begitu, pantas dari tadi aku perhatikan Abang menoleh terus ke arah Lisa, " ujar Daffa seolah mengerti. Membuat Hisyam jadi malu karena ternyata Daffa memperhatikannya sejak tadi.


"Hm, sepertinya Abang begitu mengenal Lisa. Sampai Abang mengingat sosoknya, " selidik Daffa, setengah menggoda mentornya itu.


Hisyam tidak menjawab, hanya tersenyum kikuk, sementara wajahnya terlihat memerah. Untuk menutupinya, Hisyam segera mengambil minuman mineral di meja yang letaknya tidak jauh dari situ, dan mencolok gelas mineral dengan sedotan lalu meminumnya. Membuat Daffa semakin curiga. Seketika sudut bibirnya tertarik, membentuk senyuman tipis.

__ADS_1


'Sepertinya dugaanku benar. Apa aku harus membantunya, ya? ' batin Daffa dalam hati.


"Apa Abang tertarik sama Lisa, " todong Daffa tiba-tiba, membuat Hisyam yang sedang minum menjadi tersedak dan terbatuk-batuk.


"Eh, hati-hati minumnya, Bang," tegur Daffa sambil menepuk-nepuk punggung mentornya itu.


"Ini gara-gara kamu. Ngapain nanya-nanya begitu," sungut Hisyam pura-pura kesal, masih menyembunyikan rasa malunya.


"Ya sudah, maaf, deh, " ujar Daffa merasa tidak enak. Lupa kalau sedang berhadapan dengan mentornya.


"Habisnya, sikap Abang dari tadi mencurigakan, " ujar Daffa sambil melirik reaksi Hisyam.


"Kalau memang Abang tertarik sama Lisa, mungkin bisa Daffa bantu melalui adikku, " tawar Daffa.


"Kalau dia sudah punya calon bagaimana?" ragu Hisyam.


"Baiklah, silakan ditanyakan saja. Jika memang belum ada, Abang mau maju, " jawab Hisyam akhirnya dengan malu-malu. Membuat Daffa jadi menahan tawanya melihat mentornya yang biasanya tenang namun tegas itu terlihat begitu malu-malu.


"Oke, siap, Bang, " sahut Daffa sambil setengah menggoda. Membuat Hisyam jadi ikutan tersenyum juga.


Sementara di sebelah sana, Lisa tampak sedang beristirahat sambil duduk-duduk dan minum air mineral bersama adik-adik mentornya. Keringat tampak muncul di keningnya. Perlahan dihapusnya dengan menggunakan tissue. Setelah itu, Lisa menoleh ke arah Ira yang duduk di sebelahnya.


"Ra, tadi yang isi tausyiah siapa? Kok, sepertinya Kakak kenal, tapi takut salah orang, " tanya Lisa, dengan suara ragu.


"Namanya Bang Hisyam, Kak. Dia itu mentornya A Daffa dan teman-temannya, " jawab Ira.


"Oh, begitu?" sahut Lisa seperti terkejut.


"Kenapa, Kak. Apa Kakak mengenalnya?" tanya Ira.

__ADS_1


Sejenak Lisa tampak mengingat sosok kakak kelasnya semasa SMA itu.



"Iya, dia adalah kakak kelas waktu SMA, dua tahun di atas kakak. Setelah dia lulus tidak pernah bertemu lagi, baru hari ini saja. Tidak disangka banget bisa ketemu di sini dengan kondisinya seperti itu. Jauh dengan dirinya yang dulu. Makanya tadi pangling pas lihat dia mengisi tausyiah tadi. Seperti tidak percaya saja. Takut salah orang, " terang Lisa terus terang.


"Memangnya dulu Bang Hisyam seperti apa?" tanya Ira jadi penasaran, membuat ketiga sahabatnya yang mendengar percakapan mereka sejak tadi jadi ikut tertarik mengikutinya.


Melihat wajah adik-adik mentornya yang terlihat penasaran Lisa jadi tersenyum kikuk, wajahnya tampak merona. Membuat mereka semakin curiga.


'Ada apa dengan Kak Lisa?' batin keempat gadis belia itu curiga.


"Dia dulu pernah jadi Ketua OSIS di sekolah, suka basket, suka nge-band juga, pokoknya idola para gadis di sekolah, termasuk teman-teman Kakak. Sangat populer, gitu lah. Dia memang orangnya supel, ramah, dan ganteng. Tidak heran, sih kalau banyak yang suka sama dia. Dulu dia sering pidato begitu, ikutan lomba pidato bahasa Inggris. Eh, sekarang ketemu lagi sudah jadi ustadz. Nggak nyangka banget. Mentornya kakakmu pula. Kakak baru tahu," terang Lisa.


"Loh, memangnya Kakak baru tahu? Kan kalian satu kampus dan aktif juga di DKM kampus. Sama dengan A Daffa juga, kan? A Daffa sama Bang Hisyam itu kan masih satu jurusan, sama-sama ambil Teknik Informatika, cuma beda tahun saja mereka," tanya Ira lagi heran.


"Benarkah? Kok, Kakak tidak tahu, ya? Tidak pernah melihatnya di kampus, juga di DKM. Terakhir ketemu itu tiga tahun yang lalu, setelah dia lulus SMA. Setelah itu Kakak tidak tahu lagi kabarnya. Dan baru bertemu lagi hari ini, " jawab Lisa


"Apa kakak juga sempat suka sama dia?" tanya Rianti penasaran.


Pertanyaan Rianti yang tiba-tiba itu membuat Lisa yang sedang minum jadi tersedak dan terbatuk-batuk. Membuat semuanya jadi khawatir.


"Hati-hati minumnya, Kak," tegur Ira sambil menepuk-nepuk punggung Lisa.


"Maaf, Kak, habisnya Rianti jadi penasaran. Mungkin saja dulu ada sedikit story antara Kakak dengan Bang Hisyam. Soalnya, sepertinya Kakak sangat mengenal sosoknya yang dulu, " Rianti meminta maaf, gara-gara pertanyaannya membuat Lisa jadi tersedak.


"Tidak apa-apa, " senyum Lisa.


Pertanyaan dari Rianti membuat Lisa kembali memutar memorinya saat masih kelas satu SMA dulu. Saat pertama kali bertemu dengan kakak kelasnya itu.

__ADS_1


__ADS_2